4 Hal yang Perlu Kamu Tau Tentang BTP

Halo, Teman Sehat! Kamu tau ngga, ternyata produk – produk yang beredar di supermarket menggunakan bahan tambahan pangan (BTP), loh. Kalau mendengar kata BTP, pasti yang terbersit dalam ingatan kamu adalah BTP yang berbahaya. Tapi ternyata BTP ngga berbahaya, loh! Jika digunakan dengan baik dan benar. Yuk, simak penjelasannya di sini!

Penggunaan BTP

Teman Sehat, BTP biasanya digunakan oleh industri pengolahan pangan untuk berbagai tujuan, seperti supaya produk lebih tahan lama, memiliki rasa yang kuat, warna yang menarik dan lainnya. Penggunaan BTP, sudah diatur oleh pemerintah melalui Permenkes nomor 33 tahun 2012 tentang jenis – jenis BTP yang terbagi menjadi 27 jenis BTP, seperti pengawet, pemanis, pewarna, perisa, antioksidan, pengembang, dan lainnya.

4 hal yang harus kamu perhatikan

Biasanya penggunaan jenis BTP lebih banyak digunakan oleh industri kecil menengah (IKM), seperti pengawet, pemanis, penguat rasa, dan pewarna. Tetapi mereka ataupun kamu sebagai pengguna BTP harus memperhatikan beberapa hal yang berhubungan dengan BTP. Mau tau apa aja? So, let’s check it out!

1. BTP bukan untuk dikonsumsi langsung

BTP bukan untuk dikonsumsi langsung atau bahan baku pangan ya, Teman Sehat. Tetapi kamu bisa menggunakannya sebagai bahan tambahan di dalam produk pangan untuk tujuan teknologis  pengolahan yang akan memengaruhi sifat prok pangan tersebut, seperti lebih awet, lebih cerah warnanyadan lain sebagainya.

2. Perhatikan batas maksimum yang digunakan

BTP memiliki batas maksimum penggunaan yang diizinkan pada produk pangan tertentu, contohnya seperti pengawet asam sorbat pada kategori pangan susu dan buttermilk (plain) yaitu, batas maksimalnya 1000 mg/ kg, sedangkan pada kategori pangan buah segar, batas maksimalnya yaitu 375 mg/kg.

Tapi, ada juga beberapa yang ngga menggunakan batas maksimum dengan jumlah tertentu, sehingga bisa digunakan sesuai dengan batas maksimum CPPB (Cara Pengolahan Pangan yang Baik), maksudnya yaitu BTP yang digunakan secukupnya sesuai dengan  CPPB agar menghasilkan efek yang diinginkan.

3. BTP dan ADI

Acceptable Daily Intake (ADI) atau jumlah maksimum BTP yang bisa diterima oleh tubuh setiap harinya saat dikonsumsi, dalam miligram per kilogram berat badan tanpa menimbulkan efek merugikan bagi kesehatan. Setiap BTP memiliki nilai ADI yang berbeda.

Seperti contoh BTP pengawet asam sorbat memiliki ADI 0 – 25 mg/kg per berat badan. Nilai ADI akan berbeda setiap orangnya karena akan tergantung dengan berat badan kamu. Tapi, ada juga BTP yang ngga menggunakan ADI atau ADI not specified karena mempunyai nilai toksisitas sangat rendah.

4. Bahan Berbahaya bukan BTP

Penggunaan bahan pengawet dan pewarna yang disalah gunakan, seperti menggunakan formalin, boraks, dan pewarna tekstil (Rhodamin B (merah) dan methanyl yellow) membuat BTP terkesan berbahaya dan beracun. Padahal, bahan-bahan tersebut bukan termasuk jenis BTP dan ngga diperbolehkan buat digunakan di bahan pangan. Jadi kamu ngga boleh ya, menggunakan BTP itu di makanan, karena ngga ada izin yang memperbolehkannya.

Nah, sekarang kamu udah tau kan? Apa aja yang harus kamu perhatikan saat menggunakan BTP. Ingat ya, Teman Sehat gunakanlah BTP sesuai dengan batasnya, karena sesuatu yang berlebihan ngga baik buat tubuh kamu! Semoga informasi ini menambah wawasan kamu ya! Tetap jadi konsumen dan produsen cerdas!

 

Editor & Proofreader : Firda Shabrina, STP.

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *