5 Hal Penyebab Merebaknya Wabah Difteri

Halo Teman Sehat! Sudah cukup lama absen, wabah difteri kembali merebak di berbagai wilayah di Indonesia. Kasus difteri terakhir dilaporkan pada tahun 2014 di Sumatra Utara. Kemudian, kasus difteri muncul pertama kali di Kota Padang dan cepat menyebar ke Kabupaten Padang Pariaman dan Solok. Sejak saat itu kasus difteri terus menyebar hingga mewabah di wilayah hingga 2017.

Setelah di artikel sebelumnya dibahas langkah awal pencegahan difteri, kali ini kita akan mencari tahu, apa sih penyebab mudah merebaknya wabah difteri? Nah, ini dia jawabanya!

1. Belum tersentuh imunisasi

Faktanya, masih banyak anak-anak yang belum tersentuh imunisasi, termasuk imunisasi difteri. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukan bahwa cakupan imunisasi lengkap di Indonesia baru mencapai angka 59.2%. Selain itu, catatan pada KMS atau Buku Catatan Kesehatan Anak banyak yang ngga diisi dengan baik oleh petugas kesehatan yang melakukan imunisasi dan tidak disimpan baik oleh orang tua. Nah, hal ini membuat sulit untuk mengetahui apakah imunisasi yang diberikan pada anak sudah lengkap atau belum.

2. Diimunisasi tapi ngga lengkap

Riskesdas 2013 menunjukan bahwa 32.1% anak diimunisasi tidak lengkap, bahkan 8.7% ngga pernah diimunisasi. Untuk imunisasi difteri, diberikan melalui imunisasi dasar pada bayi di bawah 1 tahun sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak 1 bulan. Imunisasi lanjutan atau booster diberikan pada umur 18 bulan sebanyak 1 dosis vaksin. Anak sekolah tingkat dasar diberikan 1 dosis vakin DT di kelas 1, 1 dosis vaksin Td di kelas 2, 1 dosis vaksin Td di kelas 5. Nah Teman Sehat, yuk cek kembali pemberian vaksinnya!

3. Bakteri yang mudah menular dan berbahaya

Nah, ini salah satu alasan kenapa difteri mudah sekali mewabah. Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jose Rizal Latief Batubara, menjelaskan bahwa difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynobacterium diptheriae yang sangat menular dan berbahaya. Penularannya pun termasuk mudah, yaitu melalui droplet (ludah) penderita maupun karir (pembawa) nya. Penyakit ini bisa menyebabkan kematian lantaran sumbatan saluran nafas, peradangan pada lapisan dinding jantung bagian tengah, gagal ginjal, gagal nafas, dan gagal sirkulasi.

4. Imunisasi gagal membentuk antibodi

Vaksin DPT merupakan vaksin mati, sehingga untuk mempertahankan kadar antibodi tetap tinggi di atas ambang pencegahan sangat diperlukan kelengkapan ataupun pemberian imunisasi ulangan. Selain itu, penyimpanan dan transportasi vaksin mempengaruhi kualitas vaksin untuk membentuk antibodi. Terutama wilayah pelosok Indonesia yang jauh dari jangkauan, hal ini merupakan masalah besar.

5. Adanya gerakan anti imunisasi

Teman Sehat pasti familiar dengan gerakan yang satu ini. Gerakan anti imunisasi yang marak pada tahun 2017 ini menyebabkan banyak orang tua menolak imunisasi. Penolakan tersebut berakibat pada rendahnya cakupan imunisasi. Padahal, cakupan imunisasi yang tinggi dan kualitas layanan imunisasi yang baik sangat menentukan pencegahan berbagai penyakit menular termasuk difteri.

Nah, 5 hal tersebut membuat difteri mudah tersebar di mana-mana. Oleh karena itu, Penting banget buat para orang tua memastikan apakah anaknya udah diimunisasi lengkap atau belum. Karena, mencegah lebih baik dari pada mengobati!

Editor & Proofreader: Fhadilla Amelia, S.Gz

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts