Diabetes Kehamilan, Apa sih Itu? Yuk, Simak!

Halo Teman Sehat! Pernah dengar istilah diabetes kehamilan? Atau pernah dengar Diabetes Melitus Gestasional? Sebenarnya diabetes macam apa sih itu?

Diabetes kehamilan atau diabetes melitus gestasional (DMG) adalah ketidakmampuan tubuh mentoleransi glukosa saat hamil sehingga gula darah akan tinggi pada saat kehamilan. Dikatakan DMG jika diagnosis pertama kali ditemukan saat ibu sedang hamil (ibu belum pernah didiagnosis diabetes sebelum kehamilan).

International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan adanya 20,9 juta atau 16,2% perempuan dengan DMG yang melahirkan pada tahun 2015. Di Indonesia diperkirakan ada 3-5% DMG dari kelahiran normal.

Lalu, apa saja sih faktor risiko DMG?

Studi meta-analisis yang dilakukan oleh Kiani pada tahun 2017 menyatakan bahwa faktor-faktor risiko dari DMG adalah sebagai berikut.

  • Wanita berusia 30 tahun atau lebih saat hamil,
  • mempunyai riwayat keluarga yang menderita diabetes,
  • mempunyai riwayat melahirkan bayi dengan berat badan berlebih atau makrosomia (berat badan bayi 4000 – 4500 g),
  • mempunyai riwayat intoleransi terhadap glukosa, dan
  • obesitas atau kegemukan.

Jika memiliki satu atau lebih dari faktor risiko diatas, sebaiknya Teman Sehat waspada dan memeriksakan diri sebagai bentuk pencegahan dari DMG agar ngga mengalami komplikasi penyakit lebih lanjut, ya!

Dampak dari DMG apa saja, ya?

Dampak dari DMG bisa dirasakan oleh ibu dan juga calon bayi yang dikandung. Berdasarkan Indonesian Clinical Practice Guidelines for Diabetes in Pregnancy pada tahun 2013, dampak dari DMG jika ngga ditangani dengan baik adalah sebagai berikut.

1. Dampak pada bayi

Efek jangka pendek pada janin yang dikandung adalah meningkatnya risiko makrosomia, kelainan bawaan, bayi lahir dengan hipoglikemia (gula darah yang rendah), dan bayi lahir prematur, sedangkan efek jangka panjangnya, yaitu meningkatnya risiko diabetes dan obesitas pada anak di masa depan.

2. Dampak pada ibu

Efek jangka pendek pada ibu hamil adalah meningkatnya risiko metode kelahiran caesar, infeksi saluran kemih, dan preeklampsia, sedangkan efek jangka panjangnya, yaitu adanya risiko terkena diabetes melitus tipe 2 secara permanen. Wah, tentunya Teman Sehat ngga mau kan mengalaminya?

Bagaimana cara deteksi dininya?

Tes deteksi dini buat mengecek DMG adalah dengan menggunakan OGTT (Oral Glucose Tolerance Test). OGTT merupakan tes buat mengetahui kemampuan tubuh dalam menstabilkan gula darah. Hasil tes ini dalam Perkeni (2011) dibagi menjadi 3, yaitu

  1. normal, jika 2 jam setelah tes hasil gula darah < 140 mg/dL;
  2. ada gangguan toleransi glukosa dalam tubuh, jika 2 jam setelah tes, hasil gula darah berada dalam rentang 140-199 mg/dL;
  3. diabetes, jika hasil gula darah 2 jam setelah tes ≥ 200 mg/dL.

Terus, kalau kena DMG, penanganannya bagaimana?

Baca juga: Cegah Diabetes Gestational dengan 3 Makanan Ini!

Penanganan DMG salah satunya adalah dengan perubahan pola makan atau diet. Menurut Kurniawan (2016), terapi diet (pola makan) merupakan strategi utama buat mengontrol gula darah dalam tubuh. Terapi ini dilakukan agar gula darah menjadi normal dan terkontrol sehingga komplikasi dari penyakit ini bisa dicegah. Akan tetapi, jangan lupa Teman Sehat, diet harus tetap bisa membantu penambahan berat badan sesuai masa kehamilan.

Selain terapi diet, latihan dan olahraga juga bisa dilakukan buat membantu mengontrol gula darah agar mencapai normal. Jangan lupa konsultasi dengan dokter dan ahli gizi juga supaya terapi yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan.

Nah, sekarang Teman Sehat sudah tau kan tentang DMG? Ada yang pernah mengalami atau ada yang punya cara penanganan lainnya? Yuk tulis di kolom komentar!

Editor & Proofreader: Narita Putri, S.Gz.

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *