Fenomena Stunting di Hari Gizi Nasional 2018

Stunting adalah istilah yang akhir-akhir ini menjadi topik perbincangan banyak orang, terutama di Indonesia. Memang, stunting bukanlah masalah baru di Indonesia. Stunting telah menjadi masalah di Indonesia sejak lebih dari satu dekade lalu. Namun, masalah ini semakin hangat dibahas karena angka stunting di Indonesia tak kunjung turun dan Indonesia termasuk 10 besar negara dengan jumlah penderita stunting tertinggi di dunia.

Stunting terjadi ketika optimalisasi 1000 Hari Pertama Kehidupan gagal dilakukan. Bukan cuma postur yang lebih pendek, kegagalan pemenuhan gizi selama 1000 HPK juga menyebabkan masalah yang lebih serius, misalnya kegagalan pembentukan otak dan organ lain secara sempurna, sehingga menyebabkan penurunan IQ, banyaknya risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes, yang semua itu bisa mengakibatkan penurunan produktifitas, pendapatan, dan pada akhirnya menyebabkan kemiskinan. Bisa kamu bayangkan apa yang terjadi kalau kasus ini banyak terjadi pada anak-anak Indonesia?

Memperingati Hari Gizi Nasional 2018, Kementerian Kesehatan mengangkat tema “Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi”. HGN tahun ini juga difokuskan pada masalah stunting dengan subtema “Mewujudkan Kemandirian Keluarga dalam 1000 HPK untuk Pencegahan Stunting”. Tema ini sangat relevan dengan tujuan menurunkan angka stunting di Indonesia.

Dalam sambutannya, dr. Anung Sugihartono, M.Kes selaku Direktur Jendral Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa salah satu pernyataan Pak Jokowi adalah untuk menghilangkan kasus gizi buruk. Mengakui sebagai tugas berat, dr. Anung Sugihartono, M.Kes menyebutkan bahwa dengan kerja keras dan cerdas, tujuan itu sangat mungkin untuk dicapai.

Dengan slogan “Bersama Keluarga Kita Jaga 1000 HPK”, Peringatan Hari Gizi Nasional ke-58 ini dimulai dengan launching buku hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017, buku dan website Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) dan Pekan Konseling Gizi Nasional.

Dalam keynote speech-nya, beliau juga menyampaikan bahwa selain Riset Kesehatan Dasar, Kementerian Kesehatan telah memiliki data kesehatan spesifik tentang gizi berskala nasional yang bisa diakses secara terbuka. Data ini bernama Pemantauan Status Gizi (PSG) yang dilakukan setiap tahun sejak 2014. Data PSG terbaru tahun 2017 bisa kamu unduh di sini.

Hasil PSG 2017 menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan jumlah baduta (bawah usia dua tahun) stunting dibandingkan tahun 2016, dari 21,7% menjadi 20,1%. Selain itu, jumlah balita kurus juga mengalami penurunan dari 11,8% pada tahun 2014 menjadi 9,5% di tahun 2017.

Menurutmu, apakah kita mampu mengatasi masalah stunting ini? Yuk, tulis pendapatmu di kolom komentar.

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *