Intermittent Fasting untuk Kondisi Resisten Insulin

Halo Teman Sehat! Kamu pernah mendengar istilah intermittent fasting ngga? Nah, kali ini kita akan bahas tentang istilah yang satu ini, yaitu tentang waktu terbaik untuk makan dalam rangka menurunkan berat badan yang didasarkan pada teknik puasa yang bertujuan untuk memperbaiki pola makan. Ngga cuma itu loh, intermittent fasting juga bisa memperbaiki kondisi resistensi insulin.

Apa itu resisten insulin? Resistensi insulin adalah keadaan di mana sel-sel otot, lemak, dan hati mulai menolak atau mengabaikan sinyal yang dikirimkan hormon insulin-yaitu mengeluarkan glukosa dari aliran darah dan memasukkannya ke dalam sel kita. Glukosa, juga dikenal sebagai gula darah yang merupakan sumber bahan bakar bagi tubuh. Pada resistensi insulin, kadar insulin terlalu tinggi tapi insulin ngga bekerja dengan baik. Karena kadarnya yang terlalu tinggi ini, penderita bisa mengalami berbagai komplikasi, salah satunya berdampak pada kesulitan menurunkan berat badan. Nah, buat memperbaikinya, Teman Sehat bisa melakukan puasa intermiten.

Cara melakukannya mungkin perlu waktu beberapa minggu atau bahkan sebulan untuk mengikuti pola makan ini. Tapi, Teman Sehat jangan pernah menyerah untuk mendapatkan kondisi tubuh yang optimal lewat cara ini. Berikut ini adalah metode yang paling populer:

1. Metode 16/8

Metode ini juga disebut protokol Leangains, yaitu dengan melewatkan sarapan dan membatasi waktu makan sehari-hari menjadi 8 jam, misalnya dari jam 1 siang sampai jam 9 malam. Kemudian ditingkatkan lagi menjadi  16 jam .

2. Eat-stop-eat

Makan-berhenti-makan, maksudnya gimana sih? Metode ini melibatkan puasa selama 24 jam, sekali atau dua kali seminggu, misalnya dengan tidak makan dari makan malam sampai makan malam keesokan harinya.

3. Diet 5: 2

Pada dua hari tidak berturut-turut dalam seminggu, Teman Sehat hanya makan 500-600 kalori. Pada 5 hari lainnya, Teman Sehat bisa makan secara normal, tapi kalorinya diusahakan lebih rendah dari biasanya. Metode ini bagus dalam menurunkan berat badan asalkan pola makan terkontrol diluar waktu yang 2 hari tersebut.

Apakah menggunakan metode ini ataupun tidak, Teman Sehat harus bijak dalam memutuskannya. Nah, 2 faktor berikut penting banget dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk mengikuti metode intermittent fasting.

  • Usia: kalau kamu lebih muda, kamu mungkin memerlukan tiga kali makan sehari untuk menunjang proses pertumbuhan. Terlebih jika Teman Sehat sebenarnya sudah memiliki tubuh yang ideal.
  • Tingkat latihan/aktivitas fisik setiap hari: kalau Teman Sehat termasuk orang yang aktif, punya segudang kesibukan, dan rutin berolahraga, maka Teman Sehat hanya membutuhkan diet gizi seimbang.

Nah, begitulah sekilas tentang intermittent fasting yang perlu Teman Sehat ketahui. Jika penasaran atau ingin memperoleh informasi yang akurat mengenai diet atau pola hidup sehat lainnya, Teman Sehat bisa berdiskusi dengan para ahli gizi. Boleh juga dengan mengisi kolom komentar di bawah ini.

Editor & Proofreader: Fhadilla Amelia, S.Gz

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *