Kenali 3 Metode Deteksi Bakteri Listeria

Halo Teman Sehat! Kita masih akan membahas seputar Listeria yang berdampak fatal bagi bayi, anak-anak, orang sakit, ibu hamil, lansia, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Tapi, yang perlu Teman Sehat ketahui adalah orang sehat juga bisa terinfeksi bakteri listeria meskipun ngga masuk kelompok berisiko di atas. Nah, cara penularannya adalah lewat kontaminasi makanan! Lantas, gimana sih diagnosisnya?

Listeriosis cuma bisa didiagnosis secara pasti dengan cara membiakkan organisme ini dari darah, cairan cerebrospinal (cairan otak dan sumsum tulang belakang), dan kotoran (sulit dilakukan dan terbatas kegunaannya). Tapi ngga perlu khawatir karena saat ini udah ada beberapa metode yang berkembang untuk mendeteksi keberadaan listeria dalam makanan, terutama bakteri L. monocytogenes, baik secara konvensional, deteksi cepat, serologi maupun secara molekuler. Bagi kamu yang bekerja di bidang kesehatan atau laboratorium, infomasi berikut pasti seru banget!

1. Metode deteksi secara konvensional 

Metode ini dilakukan untuk mendeteksi bakteri L. monocytogenes dalam sampel makanan dengan teknik isolasi dan identifikasi untuk menentukan agen penyebab utama. Tahap pertama adalah pemupukan pada larutan pra-pengkayaan selektif Listeria spp., larutan pengkayaan selektif Listeria dan plating pada media agar selektif Listeria spp. yang sudah dilengkapi dengan inhibitor untuk menghambat pertumbuhan kontaminan dengan penambahan beberapa antibiotika antara lain Acriflavin HCl, Cycloheximide, Nalidicid acid, Lithium chloride, Polymixin B-Sulfat, Ceftazidime dan Fosfomisin.

Bakteri Listeria spp. terdeteksi jika bentuk koloni yang kecil, bulat, halus dan adanya zona hitam di sekeliling koloni bakteri karena terdapat degradasi aeskulin, dengan pewarnaan gram menunjukkan warna ungu dan berbentuk batang. Kekurangan dari metode ini adalah memerlukan waktu yang lama (>1 minggu), beberapa media selektif yang mahal dan membutuhkan peralatan yang banyak.

2. Metode deteksi cepat

Metode ini cocok banget untuk mendeteksi L. monocytogenes dalam makanan, karena sampel makanan yang sifatnya ngga tahan lama. Metode yang dipilih memiliki kriteria sederhana, sensitif (dapat mendeteksi dengan level 1 sel/gr makanan), bersifat spesifik terhadap 6 spesies Listeria spp., akurat, cepat (dapat memberikan hasil kurang dari 1 hari) dan ngga mahal. Metode deteksi cepat menggunakan alat yang secara otomatis bisa mendeteksi berbagai macam foodborne pathogen termasuk Listeria spp.

3. Metode deteksi secara molekuler

Metode ini lebih sensitif dibandingkan dengan metode konvensional. Prinsip kerjanya adalah dengan mendeteksi adanya gen hlyA yang mengkode produksi toksin LLO pada L. monocytogenes. Dengan metode ini, deteksi terhadap bakteri listeria bisa dilakukan lebih cepat sekitar 1 – 60 jam, tergantung pada jenis metode molekuler yang digunakan.

Penggunaan metode-metode tersebut bisa dipakai untuk mendeteksi bakteri listeria sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Tentunya masing-masing dari metode tersebut mempunyai kekurangan dan kelebihan. Pendeteksian sangat diperlukan untuk memastikan makanan yang akan dijual atau dikonsumsi aman. Seru banget kan Teman Sehat? Ternyata ngga gampang ya buat mengatakan apakah suatu makanan mengandung bakteri tertentu atau ngga!

Editor & Proofreader: Fhadilla Amelia, SGz

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *