Kenapa Negeri Agraris dan Maritim Seperti Indonesia Masih Impor Pangan?

Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan jalah cukup menghidupimu

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman…

Lirik lagu Koes Plus di atas menjadi deskripsi yang tepat bahwa sejak dulu Indonesia merupakan negeri agraris dan maritim. Seharusnya dengan titel itu, Indonesia bisa memenuhi semua kebutuhan pangan masyarakatnya, kedaulatan pangan. Nyatanya? belum! Indonesia masih membutuhkan pasokan pangan dari negara lain untuk mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Gandum, beras, gula, daging, garam, bawang, kedelai dan masih banyak lagi adalah contoh bahan pangan yang masih impor.

Pemerintah melakukan Impor pangan bukan tanpa alasan loh, Teman Sehat!. Yuk kita bahas beberapa alasan kenapa negeri agraris dan maritim seperti Indonesia masih impor pangan.

1. Konsumsi pangan jenis tertentu yang terlewat besar

Indonesia merupakan konsumen beras paling tinggi perkapita dibanding seluruh negara yang ada di dunia. Sebanyak 312g beras dikonsumsi oleh masing-masing orang Indonesia setiap hari. Artinya masyarakat Indonesia menggantungkan sumber kalori paling banyak kepada beras. Belum makan kalau belum makan nasi/beras, ya kan?.

Nasi

Konsumsi beras yang cukup besar dan bersifat harian membuat mau tidak mau pemerintah harus menyediakan beras dalam jumlah cukup dan terus menerus. Produksi dalam negeri yang nggak cukup dan sistem penyimpanan logistik yang belum sempurna, menyebabkan pemerintah terpaksa melakukan impor beras dari Vietnam, Thailand, Pakistan, India dan Myanmar.

Baca juga5 Makanan Pokok Selain Nasi yang Mungkin Belum Kamu Tau

2. Gagalnya diversifikasi pangan

Sudah pernah dengar diversifikasi pangan? Yup! diversifikasi pangan bermaksud menganekaragamkan konsumsi pangan di masyarakat Indonesia supaya tidak tertuju ke salah satu jenis pangan tertentu. Misalnya untuk makanan pokok sumber karbohidrat, nggak harus selalu konsumsi beras, tetapi bisa sesekali diganti dengan jagung, singkong, ubi atau sagu.

Sekarang, sudah sangat jarang mendapati masyarakat Madura yang konsumsi jagung atau masyarakat Indonesia Timur yang konsumsi sagu sebagai bahan makaan pokok seharo-hari. Mereka tidak bisa disalahkan, beras mungkin lebih enak dan lebih mudah diolah dari bahan mentah menjadi siap konsumsi dibanding jagung atau sagu.

3. Gagal panen karena cuaca atau faktor lain

Walaupun Indonesia disinari matahari sepanjang tahun, fenomena cuaca yang tidak terprediksi seperti El Nino yang sebabkan kemarau lebih panjang seperti dapat sebabkan gagal panen. Belum lagi serangan hama dan kelangkaan pupuk, membuat risiko tanaman pangan untuk puso makin besar.

4. Pangan yang bersangkutan tidak dapat tumbuh di Indonesia

Gandum dan terigu adalah contoh dari poin ini. Beberapa percobaan menanam gandum yang sudah direkaya genetiknya, sejak periode Orde Baru di Malang dan Banjarnegara yang iklimnya menyerupai Sub Tropis masih belum memperlihatkan hasil yang optimal. Kedelai memang bisa tumbuh di Indonesia, namun bentuk bulirnya kecil-kecil dan produktifitasnya rendah. Akibatnya gandum sebagai bahan baku mi instan dan kedeali untuk tempe mayoritas adalah hasil impor. Eh, bukan mayoritas, semuanya.

5. Lahan pertanian yang beralih fungsi

Pertumbuhan ekonomi membuat kota-kota yang dulu terhitung kecil berubah perlahan menjadi pusat urban. Pemukiman terpaksa didirikan di atas lahan yang sebelumnya merupakan lahan produktif tanaman pangan. Selain itu, keputusan praktis menjual lahan ke pengembang perumahan didorong oleh ketidakpastian keuntungan hasil panen, jika dibandingkan untung uang hasil penjualan lahan.

Masyarakat kita juga masih belum bisa meninggalkan konsep rumah tapak yang boros lahan menuju hunian vertikal.

Semoga dengan adanya UU No 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan bisa menghambat konversi lahan produktif tanaman pangan.

Baca juga : 5 Langkah Sederhana untuk Menjamin Ketahanan Pangan

Nah itu dia Teman Sehat, kenapa negeri agraris dan maritim seperti Indonesia masih impor pangan. Ada yang terlewat dari tulisan kita? kalau kamu punya pendapat lain, sampaikan di kolom komentar ya!

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *