Mungkinkah Dunia Kekurangan Makanan Suatu Hari Nanti?

Teman Sehat, pernahkah kamu membayangkan bahwa suatu hari nanti, makanan di dunia ngga cukup lagi buat semua orang di dunia? Mungkinkah dunia kekurangan makanan suatu hari nanti?

Percaya atau ngga, pernah ada teori yang menjawab pertanyaan ini. Teori Malthus, pada tulisannya “Essay on the Principle of Population“, menyebutkan bahwa populasi bertumbuh dengan prinsip geometrik, sementara produksi pangan bertumbuh secara aritmatika. Kalau kamu lupa dengan prinsip matematika ini, maka beginilah perumpamaannya:

  • Pertumbuhan pupulasi (geometrik): 1, 2, 4, 8, 16, 32, 54, 128, 256
  • Pertumbuhan produksi pangan (aritmatika): 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9.

Apa artinya? Malthus berpendapat bahwa dengan pola seperti ini, akan tiba suatu masa ketika manusia kekurangan, bahkan ngga punya pangan untuk bertahan hidup.

The power of food

Makanan dan kesehatan sangatlah berhubungan. Apapun yang kita makan akan memengaruhi kesehatan kita. Makanya, dikenal istilah yang pasti ngga asing lagi buat kamu: you are what you eat.

“Makanan dan pola makan yang tidak sehat meningkatkan risiko berbagai jenis penyakit dan merupakan faktor utama penyebab penyakit tidak menular,” ungkap Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Ibu Nila F. Moeloek dalam The First Asia Pacific Food Forum (APFF) yang dibuka oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Jusuf Kalla pada 30 Oktober 2017 lalu di Jakarta.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2013, jumlah orang Indonesia yang mengalami penyakit tidak menular meningkat setiap tahunnya dan kini telah menjadi penyebab kematian utama di Indonesia.

  • 25,8% hipertensi
  • 15,4% obesitas
  • 12,1% stroke
  • 2,3% diabetes
  • 1,5% penyakit jantung koroner
  • 0,2% penyakit ginjal kronis

Bukan cuma lanjut usia yang mengalami penyakit-penyakit ini. Kini, makin banyak anak muda yang masih dalam usia produktif menderita penyakit ini.

Baca juga: Selain Korupsi, Penyakit Ini Juga Habiskan Uang Negara

Food, Planet and Health

Kamu pasti pernah dengar tentang food waste kan? Menurut Dr. Brent Loken dari EAT Foundation, terdapat 3 jenis food waste yang harus diminimalisir, atau lebih bagus kalau bisa dihindari.

  1. Hasil sampingan dari lahan pertanian.
  2. Sisa makanan dari piring kita. Nah, seberapa banyak dari kita yang masih belum bisa menghabiskan makanan di piringnya? Bisa kamu bayangkan seberapa banyak sisa makanan dari sebuah kondangan? Kalau tiap minggu ada kondangan, berapa banyak sisa makanannya dalam setahun?
  3. Makan terlalu banyak. Yap! Ini poin menarik karena ternyata kalau kebutuhan kita sehari adalah 1.500 Kal, buat apa makan sebanyak 3.000 Kal? Selain merugikan buat diri sendiri, ternyata seharusnya kalori dari makanan berlebih ini bisa ‘disumbangkan’ kepada orang lain yang lebih membutuhkan.

Ketiga jenis food waste ini harus dihindari karena selain mubazir, pengolahan food waste juga bukan perkara mudah buat dilakukan.

Data dari Food and Agricultural Organization menyebutkan bahwa sebanyak 723 juta orang di dunia yang mengalami kekeringan kronis, 490 juta orang diantaranya berada di wilayah Asia Pasifik. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah Asia Pasifik merupakan ‘rumah’ bagi penderita malnutrisi.

Di sisi lain, data dari WHO yang disebutkan oleh Dr Alessandoro Demaio, masih dalam event The First Asia Pacific Food Forum, telah terjadi peningkatan remaja obesitas sebanyak 10 kali dibandingkan 40 tahun lalu. Kebayang kan seberapa banyak food waste yang seharusnya bisa dialihkan buat anak-anak kurang gizi?

Selain membutuhkan lahan dan teknologi, rasa tanggung jawab dan peduli akan makanan yang kita punya juga bisa menghindarkan peristiwa dunia kekurangan makanan di suatu hari nanti.

Baca juga: Masih Suka Menyisakan Makanan? Cek Fakta Ini!

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts