Risiko Kesehatan Gaya Hidup Sedentari

Halo Teman Sehat! Seiring perkembangan jaman dan teknologi, bergeser pula pola gaya hidup, dari yang awalnya aktif menjadi gaya hidup sedentari. Sebagai contoh apa kegiatan yang sudah kamu lakukan pagi ini? Berjalan kaki ke kantor, sekolah, atau kampus, naik tangga, jogging, short warming up, atau hanya duduk sambil menunggu waktu masuk kantor, sekolah, atau kampus?

Apa yang dimaksud dengan gaya hidup sedentari?

Pada era teknologi yang serba canggih saat ini, manusia dimanjakan dengan segala sesuatu yang serba mudah. Di satu sisi kemudahan teknologi banyak menguntungkan berbagai sektor, tetapi di sisi lain manusia menjadi kurang beraktivitas. Banyak orang yang beralih mengendarai kendaraan bermotor atau angkutan umum dibandingkan berjalan atau bersepeda.

Hal ini memunculkan tipe gaya hidup sedentari. Menurut kamus besar bahasa indonesia, sedenter berarti berkurangnya aktivitas olahraga karena diganti dengan kegiatan duduk.

Beberapa pendapat menyebutkan gaya hidup sedentari sebagai sitting disease. Mengapa disebut demikian? Hal ini dikarenakan gaya hidup sedentari terdiri atas kegiatan dengan pengeluaran energi rendah, seperti duduk baik ketika bekerja maupun di sekolah, duduk sambil membaca majalah atau koran, menonton televisi, menggunakan media sosial, mengendarai mobil, dan lain-lain.

Menurut ANPHA, orang dewasa di Australia menghabiskan sebanyak 8-12 jam per hari (50-70%) dengan berperilaku sedenter dari total terjaga 16 jam. Di Indonesia, penduduk berusia diatas 10 tahun memiliki perilaku sedenter sebanyak 3-5,9 jam sehari (42%). Sementara itu, proporsi penduduk Indonesia kurang aktivitas fisik sebesar 26.1%.

Dampak Gaya Hidup Sedentari

Menurut ANPHA, resiko kematian meningkat seiring dengan kebiasaan gaya hidup sedentari yang meningkat pula. Bertoglia et al. mengungkapkan bahwa gaya hidup sedentari membawa berbagai macam dampak penyakit, seperti penyakit jantung koroner, diabetes melitus tipe 2, dan kanker kolon. Berikut ini beberapa penyakit yang diakibatkan oleh gaya hidup sedentari.

1. Obesitas

Seseorang yang terbiasa duduk dalam waktu yang lama lebih beresiko menjadi overweight. Kebiasaan duduk terlalu lama mengakibatkan penggunaan otot punggung, otot dada, dan otot kaki berkurang. Otot tersebut membutuhkan asupan gula dan lemak yang lebih banyak dibandingkan dengan otot lainnya. Apabila duduk terlalu lama, maka terjadi peningkatan glukosa darah dan lemak. Peningkatan gula dan lemak yang tidak diiringi dengan penggunaannya menjadi kalori menyebabkan terjadinya penumpukan.

2. Penyakit Jantung Koroner

Serangan jantung dan penyakit jantung koroner merupakan salah satu contoh cardiovaskular disease (CVD) yang disebabkan oleh gaya hidup sedentari. Resiko CVD meningkat sebesar 1.68 kali ketika duduk terlalu lama. Selain itu, terlalu lama menatap layar monitor, baik komputer ataupun televisi juga dapat meningkatkan resiko CVD sebesar 2.25 kali.

3. Diabetes melitus tipe 2

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bertoglia et al.pada populasi di Chile menunjukkan bahwa faktor resiko diabetes melitus tipe 2 adalah gaya hidup sedentari (54%) dan obesitas (25%). Laki-laki yang berperilaku sedenter berpeluang lebih besar mengalami diabetes melitus tipe 2, sedangkan perempuan obese beresiko lebih besar memiliki diabetes melitus tipe 2. Gaya hidup sedentari memicu terjadinya resistansi insulin, yaitu penyebab diabetes melitus tipe 2.

4. Kanker

Studi meta-analisis yang dilakukan oleh Lin dan Colditz menunjukkan bahwa semakin lama waktu yang digunakan untuk duduk semakin meningkat pula resiko terjadi kanker kolon dan kanker endometrial. Sementara itu, kanker payudara dan ginjal diduga disebabkan oleh obesitas.

5. Depresi

Cara tepat untuk mengatur perubahan mood adalah dengan melakukan aktivitas fisik. Selain itu, rutin melakukan aktivitas fisik juga membantu mengatur emosi. Gaya hidup sedentari dapat mengakibatkan seseorang menjadi depresi. Menonton televisi terlalu lama beresiko 1.13 kali mengalami depresi, sedangkan penggunaan internet atau computer yang lama beresiko 1.22 kali.

Nah, itulah beberapa penyakit yang disebabkan karena terlalu banyak menghabiskan waktu dengan duduk manis di kursi atau sofa. Solusi sehat yang dapat kamu lakukan adalah mengatur waktu yang tepat. Contohnya, setelah duduk selama 3 jam bekerja, selingi dengan 1 jam senam atau olahraga di gym. Mengurangi gaya hidup sedentari dan meningkatkan aktivitas fisik sama dengan mengurangi resiko terjadinya penyakit kronis. Bagaimana pendapatmu?Share yuk dikolom komentar!

 

Editor & Proofreader : Asiyah Mutmainnah, S.Gz

 

Referensi :

[ANPHA] Australian National Preventive Health Agency. 2014. Evidence Brief: Obesity: sedentary behaviours and health. Sydney (AU): Australian National Preventie Health Agency

Bertoglia MP, Gormaz JG, Libuy M, Snhueza D, Gajardo A, Srur A, Wallbaum M, Erazo M. 2017. The population impact of obesity, sedentary lifestyle, and tobacco and alcohol consumption on the prevalence of type 2 diabetes: Analysis of a health population survey in Chile, 2010. PloS ONE. 12 (5): 1-11

[Kemenkes] Kementerian Kesehtan RI. 2013. Riset kesehtan dasar 2013. Jakarta (ID): Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

[KBBI] Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2016. Pengertian sedenter. Diunduh pada 8 Desember 2017. Tersedia pada https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/sedenter

Lin Y, Colditz GA. 2014. An active lifestyle for cancer prevention. Journal of the National Cancer Institute. 106 (7): 1-3

Zhai L, Zhang Y, Zhang D. 2015. Sedentary behaviour and the risk of depression: a meta-analysis. Br J Sports Med. 49 (11): 705-709

Ford ES, Caspersen CJ. 2012. Sedentary behaviour and cardiovaskulat disease: a review of prospective studies. Intl J Epidemiol. 41 (5): 1338-1353

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *