Yuk, Ciptakan Gaya Hidup Sehat dengan Konsumsi Pangan Fungsional dan Nutrasetikal!

Halo Teman Sehat! Gimana kabar kamu hari ini? Semoga tetap sehat dan semangat ya! FYI, beberapa hari yang lalu, linisehat berkesempatan untuk hadir di acara HISEA 2018. Acara apa sih itu? Yap, HISEA atau Heath Ingredient South East Asia merupakan pameran produk, teknologi dan inovasi dari perusahaan dan lembaga di dalam dan luar negeri yang berfokus pada pengembangan pangan fungsional, minuman dan suplemen untuk menuju Asia Tenggara yang sehat.

HISEA 2018

Sumber : dok. pribadi linisehat.com

Oh iya, acara ini diselenggarakan atas kerjasama HISEA dengan P3FNI (Perhimpunan Pegiat Pangan Fungsional dan Nutrasetikal Indonesia) dan UBM yang terlaksana selama 3 hari dari tanggal 27 –  29 Maret 2018. Selain itu, acara ini juga didukung oleh lembaga ISNFF (International Society for Nutraceutical & Functional Food), APSKI (Asosiasi Pengusaha Suplemen Kesehatan Indonesia) dan PATPI (Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia).

Acara ini ngga cuma berisikan pameran produk, teknologi dan inovasi-inovasi yang keren loh, Teman Sehat! Tapi juga ada workshop dan konferensi yang bisa menambah ilmu tentang tren pangan fungsional yang terjadi saat ini. Gaya hidup sehat yang mulai banyak dipilih oleh masyarakat, menjadikan makanan sehat seperti pangan fungsional dan nutrasetikal akan mulai banyak dicari dan dibutuhkan oleh masyarakat.

Workshop HISEA 2018, “Positioning Functional Foods and Nutraceuticals in Indonesia

Workshop ini dibuka oleh ibu Prof. Dr. C. Hanny Wijaya, M. Agr, selaku ketua P3FNI yang menyatakan bahwa Indonesia berpotensi dalam mengembangkan produk pangan fungsional dan nutrasetikal. Selain itu, workshop kali ini terasa spesial, karena moderatornya adalah Prof. Dr. F.G. Winarno, Bapak Teknologi Pangan Indonesia.

Sumber : dok. pribadi linisehat.com

Workshop terbagi dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama disajikan oleh Drs. Teppy Usia, M. Phil, Ph.D dari BPOM, Prof. Dr. Sri Raharjo dari UGM dan Ibu Ayu selaku perwakilan dari APSKI. Sedangkan workshop pada sesi ke dua, disajikan oleh Prof Rindit Pambayun dari PATPI, BPOM dan Dr. Kazuo Miyashita

Pangan Fungsional, Nutrasetikal, Kini dan Nanti

Pangan fungsional dan nutrasetikal berbeda berdasarkan fungsinya, yaitu ngga cuma bermanfaat buat tubuh, tapi juga bisa mencegah dan mengobati penyakit tertentu. Seperti contohnya, jamu yang merupakan salah satu produk pangan fungsional di Indonesia. Jamu bisa dikategorikan sebagai pangan fungsional atau nutrasetikal berdasarkan tujuan, regulasi dan teknologi yang digunakan.

Sumber : dok. pribadi linisehat.com

Banyaknya penelitian tentang pangan fungsional, seperti pada kandungannya (serat pangan, probiotik-prebiotik, dan sebagaianya), pengaplikasiannya pada makanan (daging, roti, dan sebagainya), dan fungsi tertentu (mengatur berat badan, imunitas, dan sebagainya), membuat penelitian tentang pangan fungsional semakin berkembang. Salah satunya, pada makanan tradisional yang berpotensi menjadi pangan fungsional di masa depan, karena manfaatnya bagi tubuh. Di Indonesia, makanan tradisional seperti, torbagun, rusip/masin/cinclauk, tinur dan laor bisa menjadi salah satu pangan fungsional yang tren di masa depan.

Selain itu, mulai banyaknya masyarakat Indonesia yang mulai sadar dengan gaya hidup sehat, juga memengaruhi penjualan produk yang mendukung kesehatan masyarakat. Adanya peningkatan kebutuhan produk yang fokus pada kesehatan masyarakat, seperti produk pangan fungsional dan nutrasetikal juga meningatkan daya jual produk. Oleh karena itu, kedepannya para pengusaha merasa bahwa Indonesia bisa menjadi pasar yang menjanjikan untuk produk pangan fungsional dan nutrasetikal.

Peran food scientist, Regulasi dan Negara Maju

Biasanya penelitian yang dilakukan oleh food scientist di laboratorium, akan berakhir di jurnal dan dibukukan. Tetapi, kedepannya dengan adanya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat dan makanan yang memliki manfaat lebih, maka food scientist akan lebih fokus terhadap penelitian yang bisa menghasilkan produk yang manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat.

Sumber : dok. pribadi linisehat.com

Selain itu, adanya dukungan regulasi dari peraturan pemerintah melalui BPOM, tentang makanan yang memiliki nilai lebih, seperti pangan fungsional, secara ngga langsung juga membantu produsen yang ingin mengembangkan produk tersebut. Walaupun mulai tahun 2016, regulasi tentang pangan fungsional udah ngga dibuat khusus, tapi regulasi ini disatukan dalam bentuk klaim berdasarkan bahan dasar, gizi, kesehatan dan klaim lain.

Di Jepang, penelitian dan regulasi pangan fungsional sudah diterapkan, salah satunya pangan fungsional yang berasal dari laut. Menurut penelitian yang dilakukan, konsumsi makanan yang berasal dari laut bisa menurunkan resiko penyakit NCD (Non-Communicable Disease), seperti penyakit kardiovaskular, diabetes dan hipertensi.

Zat gizi baik yang ada di dalam makanan laut, salah satunya omega-3 PUFA (Polyunsaturated fatty acid). Zat gizi omega-3 PUFA dan EPA/DHA, merupakan salah satu zat gizi yang digunakan pada produk pangan fungsional yang ditujukan buat kesehatan (orang yang menderita penyakit tertentu) atau klaim fungsional (orang yang sehat dan ingin meningkatkan fungsi tubuhnya).

Nah, Teman Sehat acaranya keren banget kan? Ternyata produk pangan fungsional dan nutrasetikal punya manfaat yang banyak loh, buat kesehatan tubuh kamu. Seperti yang diungkapkan Prof. Dr. F.G. Winarno, dalam penutupan workshop kemarin, “Pangan fungsional merupakan makanan terbaik bagi Indonesia, dengan adanya penjelasan dari pakar-pakar yang ahli di bidangnya, mari bersama mengembangkan pangan fungsional di Indonesia”. Yuk, ciptakan gaya hidup sehat dengan mengonsumsi pangan fungsional dan nutrasetikal!

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *