Amankah Donor ASI?

Halo, Teman Sehat! Pernahkah kamu mendengar mengenai donor ASI? Yap, donor ASI bisa berperan sebagai alternatif untuk mendukung ASI eksklusif bagi ibu dengan kondisi tertentu. Kegiatan ini telah ditetapkan WHO dalam protokol pemberian asupan bagi bayi di urutan ketiga. Nah, ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi untuk mencegah terjadinya penularan penyakit. Yuk, simak penjelasan di bawah ini!

Syarat pendonor ASI

  • Memiliki bayi berusia <6 bulan
  • Sehat
  • Produksi ASI sudah mencukupi kebutuhan bayinya dan mendonorkan ASI atas dasar produksi yang berlebih
  • Tidak mengonsumsi obat atau suplemen yang memengaruhi bayi
  • Tidak mempunyai riwayat penyakit menular
  • Tidak menerima transfusi darah atau transplantasi organ dalam 12 bulan terakhir
  • Tidak memiliki pasangan sekseal yang berisiko terinfeksi penyakit menular, narkoba, perokok, atau mengonsumsi alkohol.
  • Melakukan screening berupa tes HIV, hepatitis B, hepatitis C, CMV (cytomegalovirus), dan HTLV (human T lymphotropic virus) lainnya yang dilakukan setiap 3 bulan, jika terdapat keraguan terhadap status pendonor.

Pasteurisasi ASI

Setelah syarat donor ASI terpenuhi, tahap selanjutnya yaitu pasteurisasi ASI. Tujuannya untuk mencegah penularan bakteri dan virus tertentu, sehingga ngga merusak komponen zat gizi dan zat kekebalan tubuh dalam ASI. Berikut beberapa metodenya:

  • Pasteurisasi holder, metode yang paling umum digunakan pada bank ASI donor dengan menggunakan unit pasteurisasi holder untuk memanaskan ASI pada suhu 62,5° selama 30 menit.
  • Pasteurisasi flash-heating, menggunakan peralatan yang tersedia di rumah dengan meletakkan botol kaca yang berisi ASI cair sebanyak 50-150 ml di dalam panci aluminium 1 liter. Tuangkan air ke dalam panci hingga 2 cm lebih tinggi dari batas ASI dalam wadah kaca. Jaga suhu jangan sampai timbul gelembung air. Letakkan wadah kaca pada mangkuk berisi air dingin, jika sudah selesai.
  • Pasteurisasi pretoria, langkah awalnya sama dengan flash-heating, yang membedakan yaitu air yang dituang ke panci berupa air mendidih dan diberikan pemberat di atas wadah kaca selama 20-30 menit. Setelah itu, wadah kaca dipindahkan dan dibuka untuk mendinginkan ASI.

Mutu dan keamanannya

  • Calon pendonor ASI perlu mendapatkan pelatihan mengenai kebersihan, cara memerah, dan menyimpan ASI.
  • Sebelum memerah ASI, pastikan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, lalu keringkan dengan handuk bersih.
  • ASI diperah di tempat yang bersih dan jika menggunakan pompa, maka gunakan yang bagiannya mudah dibersihkan. Pompa ASI dengan tipe balon karet berisiko terkontaminasi.
  • ASI perah disimpan pada tempat tertutup, botol kaca, atau kontainer plastik yang tahan panas.

Nah, berdasarkan informasi di atas, tentunya Teman Sehat sudah memahami mengenai hal ini. Jika akan menggunakan ASI donor, pastikan untuk berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan terlebih dahulu. Selain itu, perhatikan juga kebudayaan dan persyaratan yang dianut oleh masing-masing agama saat melakukan hal ini, Semoga bermanfaat! Jangan lupa share dan komen artikel ini, ya!

Editor & Proofreader: Firda Shabrina, STP

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *