Cukai Rokok Naik 2020, Sudah Efektifkah?

Teman Sehat, tahukah kamu per 1 Januari 2020, diberlakukan kenaikan Cukai Hasil Tembakau (CHT) dan Harga Jual Eceran (HJE) rokok? Langkah ini dipercaya sebagai solusi pemerintah untuk menekan laju pertumbuhan perokok, terutama usia muda. Seberapa efektifkah kebijakan ini? Yuk, simak penjelasannya!

Kenaikan cukai rokok, seberapa signifikan?

Tahukah kamu, Pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan RI No. 152 yang mengatur tarif cukai minimal dan HJE per batang rokok sesuai jenisnya. CHT rata-rata mengalami kenaikan 23%, kecuali pada jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang hanya dinaikan 10%.

Hal ini disebabkan SKT banyak menyerap tenaga kerja dan mayoritas berbahan baku lokal. HJE terendah ditetapkan naik rata-rata 35%, sehingga harga rokok per paknya bisa mengalami kenaikan Rp 2.000 sampai Rp. 3.000.

Mungkin kamu mengira kenaikannya masih belum signifikan dan terbilang masih murah. Tapi, kenaikan CHT tahun ini tertinggi sejak 2010 sebesar 16%. Kenaikan ini juga menandakan langkah awal pemerintah untuk peduli pada isu kesehatan. Sebuah analisis menganggap ini terlalu tinggi, karena akan berdampak pada penurunan keuntungan petani, meskipun meningkatkan keuntungan pendapatan pemerintah.

Situasi konsumsi yang ingin dikendalikan

Kabar baiknya, menurut Riskesdas 2018, prevalensi perokok aktif ≥10 tahun mengalami penurunan sebesar 0.5% menjadi 28.8% di Indonesia. Tapi, faktanya perokok umur 10-18 tahun di Indonesia mengalami peningkatan tajam dari 7.2% (2013) menjadi 9.1% (2018).

Padahal target RPJMN 2019 adalah prevalensi perokok muda sebesar 5.4%. Saat ini, pemerintah melalui RPJMN 2020-2024 memberikan target lebih realistis dengan angka 8.7%. Teman Sehat wajib khawatir, karena belum ada regulasi tegas mengenai iklan sponsor rokok pada kegiatan-kegiatan olahraga, musik, bahkan baliho di jalan-jalan umum.

Harga rokok yang baru pun baru belum terlalu terasa dikarenakan stok di minimarket masih belum terdampak kenaikan cukai. Aturan mengenai ruang bebas rokok juga baru  diterapkan beberapa daerah yang mengatur dalam Perda.

Alternatif untuk petani

Alasan yang banyak digaungkan melawan aturan ini, yaitu petani tembakau dan cengkeh yang akan kehilangan pekerjaan. Selain itu, sosial budaya masyarakat Indonesia yang sangat terikat dengan konsumsi tembakau dan pendapatan tinggi yang hilang bagi pemerintah juga menjadi alasan lainnya.

Nyatanya, petani di belahan bumi lain bisa mensubtitusi tembakau dengan penanaman varietas lain, seperti bunga mawar, kedelai, tebu, jagung, sampai kapas. Bagi hasil pertanian cengkeh, bisa di alih fungsikan menjadi essential oil di Tanzania yang menghasilkan harga yang lebih tinggi.

Penerimaan pemerintah dari pajak dan cukai, Dana Bagi Hasil (DBH) bisa dimaksimalkan oleh Pemprov penghasil tembakau untuk memberi ganti rugi pada petani. Industri Tembakau juga disebut berperan dalam pendanaan pemerintah, tapi di satu sisi menimbulkan kerugian jangka panjang terhadap kematian prematur warganya.

Nah, Teman Sehat, bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Harapannya ini merupakan langkah awal untuk membebaskan Indonesia dari ketagihan warganya terhadap rokok, sehingga bisa lebih merdeka. Yuk, jangan lupa terapkan hidup sehat, agar tetap bermanfaat!

Editor & Proofreader: Firda Shabrina, STP

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *