Hybrid Immunity Terbentuk Pasca Vaksinasi Penyintas COVID-19

Penekanan sebaran kasus COVID-19 di Indonesia dan negara lain masih terus dikendalikan. Seiring berjalannya waktu, berbagai upaya pengembangan dan pembaharuan peneltian terkini pun dilakukan, seperti pemantauan kadar antibodi sebagai indikator kekebalan tubuh bagi penyintas COVID-19.

Mengenal Sistem Imunitas dalam Tubuh Manusia

mengenal sistem kekebalan tubuh manusia dan terbentuknya hybrid immunity
Foto: Pexels.com

Sistem imun dalam tubuh terdiri dari sistem imun bawaan (innate) dan adaptif (adaptive). Innate merupkan sistem imun alami yang memiliki sifat ngga spesifik, responnya cepat, dan lebih primitif. Kekebalan bawaan ini sudah ada sejak lahir, fungsinya untuk melindungi tubuh dari berbagai jenis infeksi.

Sedangkan sistem imun adaptive kebalikannya, yaitu memiliki respon yang spesifik terhadap benda asing (antigen) tertentu sehingga perlawanannya pada kuman patogen penyebab infeksi pun lebih efektif. Kekebalan ini akan didapatkan dengan berjalannya waktu, misalnya pasca mengalami sakit tertentu atau menerima imunisasi.

Imunitas Alami Pasca Infeksi COVID-19

Paparan virus SARS-CoV-2 bisa membentuk imunitas alami, yaitu antibodi, sel T, dan sel B pada penyintas COVID-19. Respon imun yang terbentuk memiliki fungsi, diantaranya antibodi yang merupakan protein bisa beredar dalam sirkulasi darah dan mampu mengenali serta menetralisir benda asing seperti virus. Sel T bekerja dengan mengenali dan membunuh kuman patogen dan sel B bertugas membuat antibodi baru sesuai sinyal kebutuhan dari tubuh.

Kekebalan yang terbentuk bisa mencegah terjadinya infeksi berulang. Nah, berapa lama kekebalan ini bisa bertahan di dalam tubuh penyintas? Bukti ilmiah mengenai lamanya antibodi alami ini menetap dalam tubuh masih menjadi kontroversi. Studi Dan tahun 2021, menunjukkan bahwa kekebalan bisa berlangsung selama 8 bulan.

Sedangkan yang dilansir oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, bagi penyintas COVID-19, perlindungan tubuh terhadap virus SARS-CoV-2 menurun hingga hilang pasca dua atau tiga bulan. Oleh karena itu, di Indonesia, vaksinasi dianjurkan pemberiannya jika sudah lebih dari tiga bulan dinyatakan pulih.

Apa itu Hybrid Immunity?

mengenal hybrid immunity
Foto: Pexels.com

Hybrid Immunity merupkan kondisi sistem kekebalan tubuh yang diperoleh dari penggabungan antara kekebalan alami dan kekebalan yang diperoleh dari vaksinasi. Menurut pendapat Crotty, fenomena hybrid immunity menunjukkan adanya peningkatan respon imunitas sebesar 25-100 kali dibanding kekebalan alami. Tipe vaksin yang dapat memicu hybrid immunity masih dalam proses penelitian.

Kekebalan alami penyintas COVID-19 bersifat ngga permanen dan antibodi spesifiknya pun berusia pendek. Mengingat berbagai varian virus SARS-CoV-2 yang ada saat ini, anjuran vaksinasi bisa digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menambah kekuatan imunitas bagi penyintas COVID-19.

Nah, selain itu, vaksinasi juga bisa membantu menurunkan angka morbiditas dan mortalitas akibat reinfeksi. Jadi, jangan ragu lagi untuk vaksinasi, ya! Semoga informasi ini bermanfaat, Sahabat Sehat.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Crotty, S. 2021. Hybrid Immunity: Covid-19 vaccine responses provide insights into how the immune system perceives threates. Science

Dan JM, et al. 2021. Immunological memory to SARS-CoV-2 assessed for up to 8 months after infection. Science

Kementerian Kesehatan RI. 2020. Antibodi dan Kekebalan Corona bisa Hilang Setelah Pasien Sembuh. http://www.p2ptm.kemkes.go.id/artikel-ilmiah/antibodi-dan-kekebalan-corona-bisa-hilang-setelah-pasien-sembuh Diakses pada 15 Agustus 2021

Kementerian Kesehatan RI. 2021. Pelaksanaan Vaksinasi COVID-19 pada Kelompok Sasaran Lansia, Komorbid, dan Penyintas COVID-19, serta Sasaran Tunda. Surat Edaran No. HK.02.02/I/368/2021

NCBI. 2020. The Innate and adaptive immune systems. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279396/ Diakses pada 15 Agustus 2021

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.