Inilah Risiko Kehamilan Dini di Usia Remaja!

Halo, Teman Sehat! Menurut WHO, ternyata ada 10 juta kehamilan yang ngga diinginkan terjadi setiap tahun. Kehamilan tersebut terjadi pada remaja perempuan berusia 15-19 tahun di negara berkembang. Kehamilan dini umumnya terjadi karena kemiskinan, kurangnya pendidikan, serta rendahnya kesempatan kerja.

pregnant woman wearing yellow floral dress standing while touching her tummy and facing her right side near brown field during daytime

Secara umum, penyebab utama kematian remaja perempuan karena terjadinya komplikasi selama kehamilan dan persalinan. Melahirkan bayi di usia dini juga bisa meningkatkan risiko kesehatan bagi ibu dan bayi yang dilahirkan. Penasaran dengan jenis risiko yang mungkin terjadi? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

1. Hipertensi

Remaja yang hamil memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi dibandingkan dengan wanita hamil usia 20 atau 30an. Akibatnya, risiko terjadinya preeklampsia juga tinggi. Preeklampsia ditandai dengan hipertensi, protein dalam urin berlebih, pembengkakan tangan dan wajah, serta kerusakan organ. Sedangkan, komplikasi akibat hipertensi selama kehamilan yaitu bayi lahir prematur dan berat badan bayi lahir rendah.

2. Kelahiran prematur

baby lying in incubator

Kelahiran prematur merupakan kelahiran bayi yang terlalu dini sebelum kehamilan 37 minggu. Kelahiran prematur digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu persalinan ekstrim prematur (<28 minggu), persalinan sangat prematur (28-32 minggu), dan persalinan prematur (32-37 minggu). Komplikasi bayi yang lahir prematur diantaranya mengalami masalah pernapasan, pencernaan, penglihatan, hingga kematian. Menurut WHO, sekitar satu juta bayi meninggal setiap tahun karena komplikasi kelahiran prematur.

3. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Bayi prematur cenderung memiliki berat badan kurang dari seharusnya. Bayi dengan BBLR memiliki berat badan kurang dari 2500 g. Hal ini berhubungan dengan mortalitas (kematian) dan morbiditas (penyakit) pada bayi baru lahir. Pertumbuhan bayi BBLR saat masih menjadi janin terbatas, sehingga akan memengaruhi pertumbuhannya di masa kanak-kanak dan meningkatkan risiko penyakit saat usia dewasa, seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular.

4. Anemia

Anemia atau kekurangan sel darah merah terjadi akibat perdarahan setelah melahirkan. Selain itu, kurangnya asupan zat besi dan folat selama kehamilan dini juga bisa menjadi penyebab terjadinya anemia. Kehamilan di usia remaja berisiko tinggi mengalami anemia pasca persalinan. Hal tersebut disebabkan kurangnya dukungan lingkungan dan sosial sehingga remaja kurang memiliki pengetahuan tentang perawatan janin selama kehamilan. Contohnya seperti, pengetahuan tentang pentingnya mengonsumsi tablet zat besi atau folat.

5. Depresi

Foto stok gratis air mata, anak, berbayang

Depresi pada ibu yang masih remaja terjadi setelah melahirkan bayi. Kondisi ini lebih parah dibandingkan baby blues atau sindrom yang dialami ibu umumnya yang ditandai dengan perubahan emosi. Gejala depresi meliputi kesulitan bonding atau membangun ikatan dengan bayi, kelelahan, kegelisahan, serangan panik, serta berpikir untuk melukai diri sendiri dan bayi.

Nah, berdasarkan informasi di atas, kamu tentunya menjadi lebih paham mengenai risiko kehamilan dini di usia remaja. Jangan lupa untuk menyebarkan informasi ini ke orang-orang di sekitar kamu, ya. Semoga bermanfaat!

Editor & Proofreader: Mega Kurniawati, SGz

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *