Teman Sehat, tahu ngga kalau sepakbola merupakan cabang olahraga dengan penikmat terbanyak sedunia? Indonesia sendiri belum bisa dikatakan berhasil menangani olahraga sepakbolanya. Salah satu usaha yang coba ditingkatkan dimulai dengan mendatangkan pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-Yong. Uniknya, ternyata dia punya aturan ngga boleh makan gorengan untuk pemain, loh. Mengapa demikian? Yuk, simak alasan-alasannya di sini!
Penyakit (lama) Tim Nasional Indonesia
Penonton Timnas Sepakbola Indonesia pasti sudah tahu, kalau pemain sering mengumpan panjang bola di lapangan, artinya stamina pemain sudah habis. Nyatanya memang susah mempertahankan kebugaran atlet sepakbola selama 90 menit pertandingan. Biasanya saat memasuki menit ke-70, bisa dibedakan manakah pemain yang masih bugar dan pemain yang sudah kelelahan.
Inilah yang coba diubah oleh pelatih Timnas Indonesia baru. Pelatih yang pernah membawa Timnas Korsel juara turnamen antar timnas negara Asia Timur pada 2017, mencoba memperbaiki fisik pemain Indonesia. Salah satu yang paling ditekankan adalah pelarangan konsumsi makanan berlemak seperti gorengan. Kebiasaan makan gorengan memang sudah membudaya, sehingga wajar jika ada pemain yang melanggar karena gorengan sudah menjadi cemilan wajib sehari-hari.
Perlukah gizi pada atlet sepakbola?
Larangan pelatih tersebut cukup masuk akal. Makanan yang digoreng tentu mengandung minyak atau lemak yang sangat tinggi. Lemak ini akan susah dibakar dalam metabolisme tubuh saat diperlukan menjadi energi. Sedangkan, sepakbola dengan keperluan lari yang cukup menguras energi ditambah beban metabolisme tentu membutuhkan proses metabolisme energi yang cepat. Maka dari itu, rekomendasi yang dianjurkan ialah mencukupi asupan karbohidrat dengan lemak dan protein yang disesuaikan.
Karbohidrat mudah diubah menjadi energi sehingga bisa dijadikan bahan bakar utama pemain sepakbola. Penelitian lebih lanjut menyarankan perlunya mengawasi makanan yang masuk sebelum pertandingan. Pemain harus memastikan persediaan penyimpanan glikogen yang nantinya bisa diubah menjadi bentuk energi. Nah, glikogen ini dibentuk dari asupan karbohidrat yang sedikit lebih dari cukup. Karbohidrat juga dapat dipenuhi lewat minuman berenergi yang mampu mempertahankan kadar air tubuh atlet.
Mengikuti perkembangan sport science di Eropa
Perkembangan gizi praktis untuk atlet sepakbola ngga cukup hanya berupa persiapan menuju pertandingan. Atlet juga disediakan menu untuk menghadapi jadwal pertandingan yang padat hanya dengan jeda 2-3 hari. Menu ini biasanya berupa pengembalian cadangan glikogen serta protein yang cukup untuk memperbaiki otot dengan cepat. Selain itu, hidrasi air juga perlu diperhatikan.
Juara Liga Champions 2020, Bayern Munchen pun terlihat jelas memanfaatkan sport science-nya. Ini terlihat dari beberapa pemain, seperti Robert Lewandowski dan Leon Goretzka yang secara fisik bertambah kekar. Hal ini didapatkan melalui penjagaan makan dan gizi serta latihan fisik yang sesuai. Jadi makin penasaran Timnas Indonesia bisa punya fisik seperti pemain Eropa ngga, ya?
Olahraga ngga akan pernah bisa lepas dari aturan pola pemenuhan gizinya. Gizi diibaratkan senjata atlet sepakbola untuk terus berlari. Meskipun memang kebiasaan makan yang buruk terkhusus pada atlet akan menjadi tantangan tersendiri. Apalagi masih banyak klub professional yang belum sadar akan gizi pemain. Semoga prestasi Timnas Indonesia bisa terus berjaya ya! Jangan lupa share informasi menarik ini!
Editor & Proofreader: Mega Kurniawati, SGz
