Kenali Beda Disinfektan dan Antiseptik

Halo Sahabat Sehat! Berawal dari adanya kuman di sekitar yang bisa berdampak terhadap munculnya gangguan kesehatan, seperti infeksi. Maka, banyak orang yang memanfaatkan penggunaan disinfektan dan antiseptik sebagai penangkal kuman untuk keperluan sehari-hari. Tapi, persepsi masyarakat terhadap istilah keduanya acapkali mengalami kekeliruan. Nah, yuk simak penjelasan lengkapnya.

Mengenal Disinfektan

Disinfektan merupakan zat kimia yang dipakai untuk merusak sel, menghambat pertumbuhan atau membunuh kuman (bakteri, virus, dan jamur, kecuali spora bakteri) pada permukaan benda mati, contohnya peralatan rumah tangga seperti meja, kursi, atau matras tidur, lantai, hingga sudut dinding ruangan.

perbedaan disinfektan dan antiseptik
Foto: Freepik.com

Bila terkena bagian tubuh, disinfektan bisa menyebabkan iritasi kulit hingga berisiko menjadi pemicu kanker. Oleh karena itu, disinfektan ngga disarankan penggunaannya pada kulit dan membran mukosa. Biasanya disinfektan digunakan dengan cara mengusapkannya secara langsung pada permukaan benda mati yang terkontaminasi kuman.

Kamu bisa menemukan produk disinfektan di pasaran, seperti natrium hipoklorit, alkohol 70%, ammonium kuartener, dan hidrogen peroksida. Mengingat konsentrasi dan waktu paparan antara obyek dengan disinfektan pada tiap jenis disinfektan berbeda. Maka, kamu dianjurkan untuk melihat petunjuk pemakaian pada label kemasan sebelum menggunakannya, supaya aman dan hasilnya efektif.

Pengaplikasian disinfektan melalui teknik spray atau fogging juga bisa digunakan untuk mengontrol kuantitas antimikroba dan kuman di ruangan yang berisiko tinggi. Selain itu, sinar ultraviolet (UV) juga digunakan untuk ruangan yang sulit dijangkau sehingga proses ini dapat meminimalkan penularan kuman patogen dari permukaan benda mati ke manusia.

Mengenal Antiseptik

Nah, kalau antiseptik ini merupakan bahan kimia disinfektan yang memiliki toksisitas cukup rendah sehingga bisa langsung diaplikasikan pada jaringan yang hidup, seperti kulit, selaput lendir, atau luka. Fungsi antiseptik, yakni untuk mengurangi hingga mencegah terjadinya infeksi.

Antiseptik dapat bekerja dengan cara menghancurkan (bakteriosida) atau menghambat pertumbuhan kuman (bakteriostatik). Pemanfaatan antiseptik yang kerap digunakan adalah untuk membersihkan luka, sterilisasi tangan sebelum melakukan tindakan operasi. Beberapa contohnya, yaitu povidon iodin, kalium permanganat, hidrogen peroksida, dan alkohol.

perbedaan disinfektan dan antiseptik
Foto: Freepik.com

Sediaan pembersih tangan seringkali mengandung antiseptik, seperti kandungan alkohol dengan kadar 60-70%. Kadar yang terdapat di dalam sediaan tersebut memang jauh lebih rendah dibandingkan dengan disinfektan.

Sahabat Sehat, aplikasi disinfektan pada permukaan benda mati bertujuan untuk mengurangi kontaminan kuman yang menempel, sehingga bila digunakan secara langsung pada manusia tentu kurang tepat. Tingginya konsentrasi bahan kimia pada disinfektan, jumlah paparan yang ngga terkendali, hingga risiko yang ditimbulkan menjadi faktor pertimbangan untuk berhati-hati dalam menggunakannya.

So, penularan infeksi akibat kuman patogen bisa diminimalkan dengan menjaga kebersihan diri maupun mendisinfeksi peralatan di dalam ruangan serta meningkatkan daya tahan tubuh. Yuk, sama-sama dengan bijak menggunakan disinfektan dan antiseptik sesuai kebutuhan.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Camille E. Beauduy, et al. 2021. Miscellaneous Antimicrobial Agents; Disinfectan, Antiseptics, & Sterilants. Basic & Clinical Pharmacology

CDC. 2016. Guideline for Disinfection and Sterilization in Healthcare Facilities. https://www.cdc.gov/infectioncontrol/guidelines/disinfection/disinfection-methods/chemical.html Diakses 4 Agustus 2021

Ulas Tezel, et al. 2015. Quarternary ammonium disinfectan: microbial adaptation, degradation and ecology, Current Opinion in Biotechnology

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.