Mengenal Diabetes Ginjal: Nefropati Diabetik

Halo Sahabat Sehat! World Diabetes Day jatuh tepat pada tanggal 14 November setiap tahunnya. Saat ini prevalensi diabetes di Indonesia semakin meningkat dan mulai menjadi silent killer karena gejala awalnya sulit terdeteksi dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Nah, apabila diabetes ngga diatasi dengan tepat, kemungkinan timbulnya beberapa komplikasi seperti nefropati diabetik bisa terjadi. Apakah kamu sudah familiar dengan nefropati diabetik? Lebih jelasnya yuk, lihat uraian berikut!

Mengenal Diabetes Ginjal: Nefropati Diabetik
Foto: Pixabay.com

Nefropati Diabetik

Nefropati diabetik ini termasuk penyebab utama gagal ginjal pada penderita diabetes tipe 1 maupun tipe 2. Memiliki kadar gula darah yang tinggi dalam jangka waktu lama ternyata bisa menyebabkan luka pada bagian tubuh seperti nefron yang nantinya dapat membentuk jaringan parut atau bekas luka pada bagian tersebut.

Nefron sendiri merupakan bagian dari ginjal yang berfungsi untuk memisahkan zat yang masih diperlukan tubuh dengan sisa metabolisme dan racun dari darah. Zat yang masih diperlukan tubuh nantinya akan diserap kembali, sedangkan limbah yang sudah ngga digunakan akan dibuang bersama kelebihan cairan tubuh dalam bentuk urin. Nah, jika jaringan parut terbentuk di nefron, maka fungsi nefron ini bisa terganggu, kemudian juga bisa menyebabkan protein (albumin) yang seharusnya diserap kembali menjadi terbuang bersama urin.

Gejala Nefropati Diabetik

Tahap awal berkembangnya, nefropati diabetik ngga menunjukkan gejala. Apabila kerusakan ginjal telah terjadi dalam jangka waktu yang lama, maka gejala akan timbul seperti, nafsu makan berkurang, sakit kepala, mudah merasa letih, sulit berkonsentrasi, kulit kering dan gatal, sering buang air kecil, insomnia, terdapat protein dan busa pada urin, serta bengkak pada bagian mata, lengan, dan tungkai.

Mengenal Diabetes Ginjal: Nefropati Diabetik
Foto: Unsplash.com

Intervensi Diet Nefropati Diabetik

Tujuan diet nefropati diabetik adalah untuk mencegah supaya fungsi ginjal ngga menurun, glukosa darah terkontrol, tekanan darah terkendali, keseimbangan cairan dan elektrolit tetap terjaga. Dengan begitu diharapkan status gizi juga bisa dipertahankan seoptimal mungkin.

Diet ini dilakukan dengan memberikan energi 35 kkal/kg, protein dengan jumlah moderat 0,8 gr/kg BB dengan penyesuaian fungsi ginjal, dan bisa juga diberikan diet rendah protein 0,6 gr/kg BB. Pada penderita yang menjalani hemodialisis dianjurkan asupan protein yang tinggi, yakni sebesar 1,2 gr/kg BB, sedangkan jika menjalani continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) maka protein diberikan lebih tinggi, yaitu maksimal 1,5 gr/kg BB.

Nefropati diabetik memiliki dampak negatif yang cukup besar bila ngga segera ditangani dengan tepat. Informasi di atas bisa kamu bagikan ke orang terdekat sekaligus membantu mereka untuk lebih aware terhadap nefropati diabetik. Selalu jaga kesehatan dan salam sehat untuk kamu dan keluarga ya, Sahabat Sehat!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Kresnawan, T., Darmarini, F. (2004). Penatalaksanaan diet pada nefropati diabetik. Gizi Indonesia. 27(2):77-81. https://ejournal.persagi.org/index.php/Gizi_Indon/article/download/9/6. Diakses pada 12 November 2021.

Wahyuningsih, S., Seno, H., Adi, S., Suhartono., Sakundarno, M. (2018). Faktor risiko kejadian nefropati diabetika stadium 3-5. Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal. Vol. 8. No. 2. Hal 135-143. https://journal.stikeskendal.ac.id/index.php/PSKM/article/view/354/237. Diakses pada 12 November 2021.

Western Pacific Region. (2000). The Asia-Pacific perspective: Redefining obesity and its treatment. World Health Organization. https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/206936/0957708211_eng.pdf?sequence=1&tnqh_x0026;isAllowed=y. Diakses pada 12 November 2021.

World Health Organization. (2016). Obesity. https://www.who.int/health-topics/obesity#tab=tab_1. Diakses pada 12 November 2021.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.