Mengenal Sindrom Metabolik pada Anak

Waspada! sindrom metabolik pada anak bisa terjadi. Apakah Sahabat Sehat mengetahui sindrom metabolik? sindrom metabolik merupakan kumpulan gejala yang meliputi hipertensi, hiperglikemia, dislipidemia, dan obesitas sentral. 

Gejala obesitas sentral itulah yang seringkali samar karena anak dianggap sehat ketika gemuk. Padahal, anak obesitas atau gemuk tidak bisa dianggap sepele karena ada risiko sindrom metabolik.  

sindrom metabolik anak
Foto: Freepik.com

Tanda Sindrom Metabolik pada Anak 

Sindrom metabolik pada anak sebenarnya sulit untuk ditegakkan karena perubahan fisiologis yang signifikan. Kriteria sindrom metabolik pada anak-anak dibawah 10 tahun tidak didefinisikan dengan rinci karena keterbatasan data. 

Namun, IDF (International Diabetes Federation) dalam Jurnal Diabetology and Metabolic Syndrome melansir beberapa karakteristik untuk menegakkan diagnosis sindrom metabolik pada anak-anak usia 10 hingga 16 tahun. Diagnosa metabolik dapat ditegakkan apabila ada dua atau lebih dari keempat tanda berikut. Pertama, memiliki ingkar pinggang lebih dari 90th percentile. Kedua, memiliki kadar trigliserida lebih dari 150 mg/dl atau HDL kurang dari 40 mg/dl atau mengonsumsi obat penurun lipid. Ketiga, memiliki gula darah puasa lebih dari 100 mg/dl. Keempat, memiliki tekanan darah tinggi lebih dari 130/5 mmHg atau mengonsumsi obat antiipertensi.

Menghadapi Sindrom Metabolik Anak Secara Non Farmakologi

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (2014), penggunaan obat farmakologi tidak direkomendasikan secara khusus. Ada beberapa alasan terkait hal ini, seperti metabolisme anak-anak yang cepat dan meminimalisasi kemungkinan adanya efek samping obat. 

Tapi, tidak menutup kemungkinan pemberian obat dilakukan pada indikasi tertentu, misal LDL lebih dari 190 mg/dl, hipertensi derajat dua, dan lain sebagainya. Namun, menghadapi sindrom metabolik secara non farmakologis masih diutamakan, bagaimana caranya? 

aktivitas fisik anak
Foto: Freepik.com

1. Modifikasi Gaya Hidup dan Aktivitas Fisik untuk Anak 

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, secara global, prevalensi obesitas pada sindrom metabolik meningkat pesat, dari 2010 hanya 6,7% pada 2010 menjadi 9,1% pada tahun 2020. 

Anak obesitas sebaiknya diarahkan untuk melakukan aktivitas fisik dari sedang hingga berat, seperti berjalan kaki, futsal, senam aerobik, dan semacamnya. Menurut Kementerian Kesehatan (2018) dan Annals of the New York Academy of Sciences (2013) setidaknya 60 menit setiap hari.

Batasi screen time anak 1 hingga 2 jam per hari. Menurut Jurnal Child Care: Health and Development, screen time lebih dari 2 jam berisiko meningkatkan obesitas pada anak-anak. Anak hendaknya juga memiliki kualitas tidur yang baik dan meminimalisasi paparan stress, seperti dibangunkan secara perlahan 

2. Tips Intervensi Diet untuk Anak 

Intervensi diet yang bisa diterapkan untuk anak-anak berkaitan dengan gangguan sindrom metabolik, misal ketika hiperglikemia maka membatasi makan atau minuman manis, mengganti minuman manis dengan air putih. 

Mengatasi obesitas dengan mengurangi konsumsi kalori per hari, meningkatkan sumber serat dan antioksidan dari buah dan sayur. Mengatasi profil lipid yang tinggi dengan mengurangi asupan lemak jenuh, kurangi konsumsi makanan yang digoreng.

Selain itu anak-anak biasanya suka processed food atau snack yang cenderung tinggi sodium. Oleh karena itu untuk mencegah tekanan darah tinggi, snack bisa diganti dengan camilan yang alami atau homemade dimana penggunaan garamnya bisa lebih dikontrol. 

Diagnosis sindrom metabolik pada anak harus ditegakkan oleh profesional dokter spesialis anak. Apabila benar anak terdiagnosa sindrom metabolik, maka bisa mengatur gaya hidup, aktivitas fisik dan diet yang tepat. Sementara itu, pengobatan farmakologi tetap harus sesuai resep dokter. 

Referensi

Fang, K., Mu, M., Liu, K., & He, Y. (2019). Screen time and childhood overweight/obesity: A systematic review and meta‐analysis. Child: care, health and development, 45(5), 744-753. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/cch.12701. Diakses 26 November 2023. 

Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2014). Diagnosis dan tatalaksana sindrom metabolik pada anak dan remaja. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia. https://spesialis1.ika.fk.unair.ac.id/wp-content/uploads/2017/03/Konsensus-Diagnosis-dan-Tata-Laksana-Sindrom-Metabolik-Pada-Anak-dan-Remaja.pdf. Diakses 26 November 2023. 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2018. Tips Aktivitas Fisik untuk Anak dan Remaja Usia 5 s/d 17 Tahun. https://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/obesitas/tips-aktivitas-fisik-untuk-anak-remaja-usia-5-sd-17-tahun. Diakses 26 November 2023. 

Mancini, M. C. (2009). Metabolic syndrome in children and adolescents-criteria for diagnosis. Diabetology & metabolic syndrome, 1, 1-4. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2773755/. Diakses 26 November 2023. 

Strasser, B. (2013). Physical activity in obesity and metabolic syndrome. Annals of the New York Academy of Sciences, 1281(1), 141-159. https://nyaspubs.onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/j.1749-6632.2012.06785.x. Diakses 26 November 2023. 

Zimmet, P., Alberti, K. G. M., Kaufman, F., Tajima, N., Silink, M., Arslanian, S., … & IDF Consensus Group. (2007). The metabolic syndrome in children and adolescents–an IDF consensus report. Pediatric diabetes, 8(5), 299-306.https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/j.1399-5448.2007.00271.x. Diakes 26 November 2023. 

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.