Perhatikan Ini Sebelum Konsumsi Obat Tradisional

Hai Sahabat Sehat! Apakah kamu suka mengonsumsi jamu atau obat herbal? Indonesia memiliki kekayaan tanaman obat yang melimpah. Sudah sejak zaman dahulu manusia memanfaatkan kekayaan alam di sekitarnya untuk memenuhi berbagai kebutuhan, termasuk untuk mencegah penyakit.

Banyak sekali cara pengolahan yang dilakukan untuk membuat obat herbal, ada yang diseduh, dihancurkan hingga menjadi bubuk dan lainnya. Obat herbal kerap kali dimanfaatkan karena mudah dijumpai, kemudahan pengolahannya, harga yang relatif lebih murah dan minimnys efek samping yang diberikan. Meskipun begitu, ada baiknya kamu perhatikan hal ini sebelum mengonsumsi obat tradisional.

penggunaan obat tradisional
Foto: Pexels.com

Bahan yang digunakan

Beragamnya jenis tanaman obat di Indonesia, sering kali membuat Sahabat Sehat kesulitan ketika hendak memilih tanaman mana yang tepat sebagai obat yang dibutuhkan. Seperti contoh lempuyang yang memiliki beberapa jenis. Lempuyang emprit (Zingiber amaricans) dan lempuyang gajah (Zingiber zerumbet) bisa memberikan khasiat untuk menambah nafsu makan, sedangkan lempuyan wangi (Zingiber aromaticum) dipercaya bisa membantu menjaga berat badan.

Ketepatan dosis

Obat tradisional memiliki dosis tertentu dalam penggunaannya, sama seperti obat modern. Hal inilah yang kerap kali dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Misalnya penggunaan buah mahkota dewa yang hanya boleh dikonsumsi dengan perbandingan 1 buah dalam 3 gelas air.

Contoh lainnya pada tanaman dringo (Acorus calamus) yang biasa digunakan untuk mengobati stress. Dalam dosis rendah, dringo bisa memberikan efek relaksasi pada otot dan menimbulkan efek penenang dalam sistem saraf pusat. Akan tetapi, apabila digunakan dalam dosis tinggi, dapat meningkatkan aktivitas mental, pemicu timbulnya kanker, penumpukan cairan di perut dan menimbulkan efek berbahaya bagi usus.

Ketepatan waktu penggunaan

Dalam ramuan jamu kunir asam, kunyit dapat bermanfaat untuk mengurangi nyeri haid, sehingga sangat baik dikonsumsi saat datang bulan. Akan tetapi, apabila dikonsumsi saat awal masa kehamilan, justru berisiko menyebabkan terjadinya keguguran. Oleh karena itu, perlu diperhatikan bahwa ketepatan waktu penggunaan saat penting untuk menentukan efek yang akan diterima bagi tubuh.

penggunaan obat tradisional
Foto: Pexels.com

Ketepatan pemilihan obat

Perbandingan keberhasilan pengobatan dengan efek samping yang ditimbulkan perlu menjadi pertimbangan. Salah satu contohnya penggunaan daun tapak dara yang bermanfaat untuk pengobatan diabetes karena mengandung alkaloid. Di sisi lain, daun tapak dara mengandung vincristine dan vinblastine yang bisa menurunkan sel darah putih hingga kurang lebih 30%, sehingga seseorang yang megonsumsinya berisiko lebih rentan mengalami penyakit infeksi. Biasanya, pengobatan diabetes membutuhkan waktu yang lama,  sehingga daun tapak dara kurang tepat digunakan untuk pengobatan diabetes dan lebih tepat untuk digunakan sebagai obat leukimia.

Sahabat Sehat, meski banyak dianggap lebih aman daripada obat modern, obat tradisional masih memiliki efek samping. Oleh karena itu penting untuk lebih memperhatikan dan membekali diri dengan wawasan terkait obat tradisional sebelum mengonsumsinya, supaya apa manfaat yang diharapkan dapat tercapai.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Bolcskei H, Szantay C Jr, Mak M, Balazs M, Szantay C, 1998, New antitumor derivatives of vinblastine, Acta Pharm Hung., 68(2): 87-93.

Kumala Sari, Lusia Oktora Ruma (2006) “Pemanfaatan Obat Tradisional Dengan Pertimbangan Manfaat Dan Keamanannya,” Majalah Ilmu Kefarmasian: Vol. 3 : No. 1 , Article 1.

Manikandan S, Devi RS., 2005, Antioxidant property of alphaasarone against noise-stressinduced changes in different regions of rat brain., Pharmacol Res., 52(6):467-74

Sastroamidjojo S, 2001, Obat Asli Indonesia, Dian Rakyat, Jakarta, 170.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.