Perlukah Si Kecil diberikan Asupan Suplemen?

Hai, Sahabat Sehat! Siapa sih yang ngga mau buah hatinya selalu sehat, tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya? Nah, beberapa orang tua juga melakukan berbagai upaya untuk memastikan sang buah hati tetap sehat, salah satunya dengan memberi suplemen. Apakah suplemen memang dibutuhkan anak? Suplemen apa yang tepat diberikan, ya? Yuk, simak informasi berikut ini!

suplementasi pada anak
Foto: Freepik.com

Kenapa diberikan suplemen?

Pada dasarnya suplemen bisa melengkapi zat gizi yang kurang dari asupan makanan. Suplemen dianjurkan pada anak dalam kondisi tertentu, misalnya pada anak yang sulit makan untuk menghindari risiko gangguan pertumbuhan. Mengingat manfaatnya, sebagian besar Ibu mungkin akan langsung memberikan suplemen. Padahal, mengonsumsi suplemen dengan jenis apapun yang melebihi tingkat batas atas asupan akan sangat berisiko bagi kesehatan, loh!

Suplemen apa saja?

Salah satu pertimbangan dalam memberikan suplemen untuk buah hati, yakni pengetahuan akan manfaatnya. Sebab, suplemen banyak banget macam dan jenisnya. Ada yang berupa vitamin, mineral, antioksidan, atau zat gizi lain seperti asam lemak dan asam amino, serta zat essensial lainnya seperti serat.

Seperti apa rekomendasinya?

Rekomendasi dari WHO mengenai suplementasi vitamin dan mineral telah digunakan sebagai pedoman. Dalam hal ini, jenis dan jumlah pemberian vitamin dan mineral sudah disesuaikan dengan kondisi tiap negara, seperti memperhitungkan prevalensi masalah kesehatan yang banyak terjadi. Nah, berikut rekomendasi suplemen vitamin dan mineral di Indonesia.

Vitamin A

Kekurangan vitamin A, bisa berdampak pada berbagai gangguan penyakit Kurang vitamin A (KVA). Suplementasi vitamin A telah menjadi program Kementerian Kesehatan Indonesia, yaitu setiap bulan Februari dan Agustus. Berdasarkan rekomendasi WHO, pemberian vitamin A pada bayi usia 6-11 bulan sebanyak 100.000 IU dan untuk anak usia 12-59 bulan sebanyak 200.000 IU.

Vitamin D

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), sebaiknya bayi ngga terlalu sering terpapar sinar matahari untuk menghindari risiko kanker kulit. Oleh karena itu, AAP menyarankan pemberian suplementasi vitamin D pada bayi ASI eksklusif, bayi yang minum susu formula kurang dari 1 liter per hari, anak-anak, dan remaja sebesar 400 IU. Nah, menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), belum ada bukti ilmiah untuk rekomendasi suplemen vitamin D untuk anak Indonesia secara rutin.

perlukah suplementasi pada anak
Foto; Pixabay.com

Zat Besi

Suplementasi ini ditujukan pada negara dengan prevalensi anemia >40%. Indonesia memiliki angka prevalensi anemia yang cukup tinggi, data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa kejadian anemia akibat kekurangan zat besi pada anak dibawak 5 tahun sebesar 38,5%. Suplementasi zat besi telah disarankan rutin diberikan setiap hari selama 3 bulan setiap tahunnya pada bayi mulai usia 6 bulan.

Zink

Zink yang mampu mendukung fungsi kekebalan tubuh memiliki efek positif menurunkan angka kematian anak akibat penyakit infeksi, loh! Suplementasi zink ini juga sudah rutin diberikan pada bayi usia 6-23 bulan selama minimal 2 bulan setiap 6 bulan sekali.

Iodium

Mineral ini penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan iodium akan menyebabkan Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY). Di Indonesia sendiri, telah dilakukan fortifikasi iodiom pada garam untuk mengurangi risiko ini. Menurut WHO, pemberian suplementasi iodium hanya diutamakan pada anak yang rentan kekurangan iodium.

So, jangan asal memberikan suplemen ya Sahabat Sehat! Konsultasikanlah pada dokter sebelumnya. Pastikan suplemen yang diberikan emang dibutuhkan sang buah hati. Selalu perhatikan asupan makan anak juga, supaya kebutuhan zat gizi yang diperlukan tubuh bisa terpenuhi meski tanpa bantuan suplemen. Keep happy family!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Tabita IA, Sudargo T, Nisa FZ. 2012. Faktor ibu dalam pemberian suplemen pada anak prasekolah. Jurnal Gizi Indonesia. 8(4):172-181. https://jurnal.ugm.ac.id/jgki/article/view/18214

Utami AP, Juniarsana IW. 2013. Gambaran tingkatpengetahuan dan tingkat konsumsi vitamin (A,C,E) pada ibu-ibu yang mengonsumsi suplemen di lala studio. Jurnal Skala Husada. 10(2): 159-166. http://poltekkes-denpasar.ac.id/files/JSH/V10N2/Aris%20Prasetya%20Utami1,%20I%20Wayan%20Juniarsana2%20JSH%20V10N2.pdf

IDAI. 2017. Perlukah suplementasi vitamin dan mineral pada bayi dan anak? Diakses pada 16 November 2021. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/perlukah-suplementasi-vitamin-dan-mineral-pada-bayi-dan-anak 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.