Penikahan Dini, Yes or No?

pernikahan dini

“Pernikahan dini”

Apa yang terlintas di pikiranmu saat membaca istilah itu?

Apakah kamu langsung terbayang tentang sinetron Agens Monica? Atau hal lainnya yang sedang hits saat ini?

Yap! Baru-baru ini, salah seorang ustadz terkenal Indonesia melangsungkan pernikahan anak laki-laki sulungnya yang baru berusia 17 tahun dengan perempuan berusia 19 tahun.

Pernikahan ini mungkin terbilang istimewa, kenapa? Karena di kota-kota besar, apalagi Jakarta, pernikahan biasanya dilakukan apabila pasangan telah berusia diatas 24 tahun, iya kan?

Lalu apakah pernikahan anak ustadz ini tergolong pernikahan dini? Yuk, pahami tiga hal ini!

Pada usia berapa sih seseorang bisa disebut melakukan pernikahan dini?

Taukah kamu? Undang-undang mengatur usia minimal untuk menikah loh.

Usia minimal laki-laki untuk menikah adalah 19 tahun, sedangkan bagi perempuan 16 tahun (UU Perkawinan 1974)

Batasan usia untuk menikah ini terbilang rendah apabila dibandingkan dengan negara-negara lain, seperti 158 negara lainnya yang menetapkan usia minimal 18 tahun.

Jadi, pernikahan dini adalah mereka yang menikah sebelum mencapai usia yang ditetapkan UU Perkawinan, yaitu dibawah 19 tahun bagi laki-laki dan dibawah 16 tahun bagi perempuan.

Kenapa pernikahan dini bisa terjadi?

Banyak hal yang menyebabkan hal ini terjadi. Sinetron Agnes Monica pada tahun 2001 lalu mengisahkan adanya “kecelakaan” sebelum menikah, alias married by accident. Namun, berbeda kasusnya dengan anak ustadz yang baru saja menikah. Anak ustadz melangsungkan pernikahan di usia muda karena alasan agama dan menghindari terjadinya zina. Alasan lain yang tidak kalah banyak menyebabkan pernikahan dini adalah perjodohan dan tingkat ekonomi rendah yang diharapkan bisa lebih baik setelah menikah.

Apakah pernikahan dini dianjurkan dari sudut pandang kesehatan?

Sebenarnya, melakukan pernikahan dini sangatlah berisiko loh, Teman Sehat. Kenapa?

Pertama, belum siapnya organ reproduksi perempuan. Apabila hamil dengan kondisi tersebut, akan mengakibatkan angka kematian ibu meningkat karena banyaknya masalah yang dihadapi selama proses kehamilan dan melahirkan. Padahal, usia ideal untuk hamil menurut Kementerian Kesehatan dan BKKBN adalah 20 hingga 35 tahun.

Banyak penelitian juga menyebutkan bahwa anak yang dilahirkan dari ibu remaja cenderung memiliki kualitas kesehatan yang rendah, seperti dilahirkan dalam kondisi berat lahir rendah (<2,5 kg) yang bisa menigkatkan risiko kematian bayi.

Belum lagi ditambah dengan risiko minimnya pengetahuan tentang cara merawat bayi, pemenuhan gizi bayi, pemberian ASI, pemberian makanan pendamping ASI, dan lain-lain, bisa semakin membuat kondisi kesehatan anak semakin buruk. Kasihan kan bayinya?

Disamping itu, kesiapan mental mereka yang melakukan pernikahan dibawah usia ini patut dipertanyakan.  Kesiapan mental merupakan hal penting dalam pengambilan keputusan seumur hidup ini, betul kan Teman Sehat? Bahkan, data menyebutkan terdapat hampir 50% pasangan yang melakukan pernikahan dini mengalami perceraian.

Jadi, bagaimana pendapatmu tentang pernikahan dini? Yuk, tuliskan pendapatmu di kolom komentar!

Related Posts

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.