Prolonged Grief Disorder saat Duka Berkepanjangan

Hai, Sahabat Sehat, di masa pandemi Covid-19 saat ini tentu ngga sedikit orang yang ada disekitar atau bahkan kamu sendiri mengalami kehilangan serta duka saat orang yang dicintai meninggal dunia. Rasa cinta yang besar juga membuat timbulnya duka tersebut berlangsung berkepanjangan. Tanpa sadar kamu dan orang disekitar kamu memiliki risiko mengalami prolonged grief disorder, apa itu?

mengenal prolonged grief disorder
Foto: Unsplash.com

Apa itu prolonged grief disorder?

Istilah prolonged grief disorder (PGD) mungkin masih asing dan masih jarang yang memahami istilah ini, tapi sebenarnya sedang mengalaminyai. PGD merupkan gangguan yang melibatkan kerinduan terus-menerus untuk almarhum atau orang yang meninggal, sebagai rasa sakit emosional seperti duka yang berkepanjangan dan menyebabkan kesulitan dalam menerima kematian.

Gejala prolonged grief disorder

Seperti permasalahan kesehatan mental lainya PGD memiliki beberapa gejala menunjukkan kondisi sesorang yang mengalaminya. Gejala klinis yang timbul dapat terlihat hampir setiap hari dan setidaknya berlangsung dalam 6 bulan. Orang dengan PGD akan mengalami gangguan identitas misalnya, merasa seolah-olah bagian daris endiri telah hilang atau meninggal, rasa ngga percaya tentang kematian, atau menghindari kenyataan orang lain sudah meninggal. Orang yang mengalaminya juga bisa merasa sakit secara emosional yang intens seperti kemarahan, kepahitan, dan kesedihan terhadap hal yang berhubungan dengan kematian, kesulitan bersosialisasi, enggan mengejar minat dan sulit merencanakan masa depan, serta selalu merasa kesepian yang intens.

prolonged grief disorder
Foto: Unsplash.com

Dampak buruknya

Rasa duka yang berlangsung sangat lama tentu memberikan beban secara emosinal dan fisik bagi seseorang. Rasa duka yang sudah mengarah pada PGD bisa mempengaruhi kualitas hidup dan kesehatan seseorang. Kondisi PGD berisiko menyebabkan seseorang mengalami sulit tidur, stress, kehilangan kemampuan secara sosial, bahkan hingga terjadinya penyakit kardiovaskular. ika ngga ditangani dengan tepat, kondisi ini bisa membuat seseorang sulit melanjutkan hidup dengan baik di masa mendatang. Bahkan orang dengan PGD memiliki kecenderunagn untuk menghindar dari lingkungan, menjadi penyendiri dan paling fatal adalah keinginan untuk bunuh diri.

Segala sesuatu yang berlebihan tentu ngga baik, begitu pula dengan rasa duka. Merasa kehilangan akan seseorang yang kamu cintai terkadang sulit, mengikhlaskan dan selalu mendoakan merupakan pilihan terbaik yang bisa kamu lakukan. Jika kamu memiliki orang disekitar yang mengalami PGD jadilah teman untuknya. Bila kondisinya ngga kian membaik, jangan ragu untuk meminta bantuan profesional, ya Sahabat Sehat!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Complicated grief in the DSM-5: Problems and solutions. https://www.heighpubs.org/hjcap/pdf/apmh-aid1019.pdf. Diakses pada tanggal 4 Desember 2021

Treating Prolonged Grief Disorder A Randomized Clinical Trial. https://jamanetwork.com/journals/jamapsychiatry/article-abstract/1917889. Diakses pada tanggal 4 Desember 2021

Prolonged grief disorder following the Coronavirus (COVID-19) pandemic. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7194880/. Diakses pada tanggal 4 Desember 2021 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.