Asam Karminat, Pewarna Merah dari Serangga

Sahabat Sehat, tahukah kamu bahwa selain entomophagy, serangga sudah dimanfaatkan sejak lama dalam industri pangan? Mungkin tanpa sadar kamu juga pernah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung pewarna merah dari serangga. Yap, salah satu penggunaan produk dari serangga, yaitu asam karminat dan karmin yang berfungsi sebagai pewarna makanan.

pewarna merah dari serangga
Foto: Pexels.com

Apa itu asam karminat?

Asam karminat adalah bahan pewarna hasil ekstrak cochineal yang merupakan bahan pewarna merah pada serangga betina kering. Kermes vermilio, Porphyrophora polonica, Porphyrophora hamelii, Dactylopius coccus, dan Kerria lacca merupakan beberapa taksa serangga yang bisa diekstrak untuk menghasilkan asam karminat. Pada serangga cochineal, asam karminat menyusun 20% massa tubuh serangga kering.

Pigmen, asam karminat, ini secara kimia diklasifikasikan sebagai antrakuinon. Pigmen utama (> 95%) dalam cochineal adalah C-glikosida dan asam karminat. Biasanya asam karmitat diproduksi dalam bentuk karmin, yaitu aluminium oksida pekat yang setidaknya mengandung 50% asam karminat. Saat ini, 80% persen produksinya atau sekitar 200 ton per tahun, dihasilkan oleh Peru, sedangkan sisanya diproduksi oleh negara di Amerika Selatan lainnya dan negara Uni Eropa seperti Polandia dalam jumlah kecil.

Produksi Asam Karminat

Dibutuhkan sekitar 70.000 cochineal betina kering untuk membuat satu pon karmin atau sekitar 100.000 serangga untuk mendapatkan 1 kg ekstrak karmin. Meskipun sangat ngga efisien, cara ini masih banyak digunakan untuk menghasilkan pewarna.

Tren pewarna alami pada industri pangan membuat permintaaan akan karmin meningkat pesat dari tahun 2004 hingga 2010. Tingginya permintaan dan sedikitnya barang yang diproduksi menyebabkan kelangkaan yang memicu kenaikan harga. Kepopuleran karmin juga dikarenakan harganya yang lebih terjangkau disbanding jenis pewarna alami lainnya seperti pewarna dari ekstraksi buah bit atau stroberi.

Penggunaan asam karminat

Pewarna ini seringkali dicantumkan dalam label dengan kode E120, cochineal, karmin/asam karminat, natural red 4. Selain harganya yang terjangkau, karmin juga punya banyak kkelebihan lain loh, Sahabat Sehat. Misalnya, stabil terhadap cahaya, dan panas, serta tahan pada kondisi adverse storage condition.

Pada industri pangan, karmin digunakan sebagai pewarna makanan dalam produk seperti jus, es krim, yogurt, dairy products dan permen, sebagai pewarna pada produk kosmetik seperti eye shadow dan lipstik. Industri farmasi menggunakannya sebagai pewarna obat-obatan dan indikator kimia analitik.

pewarna merah asam karmitat
Foto: Pexels.com

Keamanan Asam Karminat

Asam karminat masuk dalam golongan pewarna yang aman digunakan oleh FDA selama mematuhi praktik GMP (Good Manufacturing Practices). Sayangnya, asam karmitat bisa memberikan reaksi negatif pada sebagian orang. Beberapa kasus yang dilaporkan berupa anak menjadi hiperaktif karena timbulnya reaksi alergi setelah mengonsumsi makanan mengandung asam karminat. Penggunaan karmin dalam kosmetik juga dapat menyebabkan reaksi alergi.

European Food Safety Authority (EFSA) ngga merekomendasikan produsen makanan untuk menggunakannya, tetapi masih diperbolehkan untuk digunakan. Mengingat reaksi akibat eksposur karmin yang mungkin terjadi maka wajib untuk mencantumkan penggunaannya dalam label. Selain alergi, penggunaan karmin juga perlu diwaspadai terkait pola hidup vegan atau vegetarian dan ketentuan religi (halal atau kosher).

Sahabat Sehat, bisa dilihat besarnya potensi serangga dan pemanfaatannya di berbagai industri. Kira-kira, ada ngga ya, produk kesukaan kamu yang menggunakan pewarna karmin?

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

National Center for Biotechnology Information. 2022. PubChem Compound Summary for CID 10255083, Carminic acid. https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Carminic-acid. Diakses 27 Februari 2022.

Galaffu, N, Bortlik, K, Michel, M. 2015. 5 – An industry perspective on natural food colour stability. Editor(s): Michael J. Scotter, In Woodhead Publishing Series in Food Science, Technology and Nutrition, Colour Additives for Foods and Beverages. Woodhead Publishing. Pages 91-130.

Solymosi, K, Latruffe, N, Morant-Manceau, A, Schoefs, B. 2015. 1 – Food colour additives of natural origin. Editor(s): Michael J. Scotter, In Woodhead Publishing Series in Food Science, Technology and Nutrition, Colour Additives for Foods and Beverages. Woodhead Publishing. Pages 3-34.

Villaño, D, García-Viguera, C, Mena, P. 2016. Colors: Health Effects, Editor(s): Benjamin Caballero, Paul M. Finglas, Fidel Toldrá, Encyclopedia of Food and Health. Academic Press. Pages 265-272.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.