Sahabat Sehat, tentu sebuah hubungan ngga selamanya baik-baik saja. Ada kalanya permasalahan muncul dan terjadi pertengkaran, perselisihan, bahkan kekerasan. Akan tetapi, jika sudah sampai pada tahap kekerasan verbal, fisik, dan psikis secara terus menerus, maka hubungan tersebut bisa dikatakan sudah ngga sehat.
Meskipun begitu, ngga sedikit orang yang rela bertahan walaupun sudah tersakiti, bahkan menjadi korban kekerasan dari pasangannya. Hal tersebut terjadi karena adanya trauma bonding dalam dirinya.

Apa itu Trauma Bonding?
Trauma bonding pertama kali dicetuskan oleh spesialis terapi kecanduan yaitu Patrick Carnes, Ph.D., CAS pada tahun 1997. Carnes menjelaskan teorinya pada artikelnya berjudul “Trauma Bonds, Why People Bond To Those That Hurt Them” bahwa trauma bonding adalah keterikatan disfungsional pada bahaya, eksploitasi, serta rasa malu. Ketiganya merupakan reaksi terhadap situasi traumatis. Trauma yang dialami pelaku pelecehan atau kekerasan tersebut adalah respon psikologis dalam menangani trauma yang mendasarkan pada cara beradaptasi untuk bertahan hidup.
Penyebab Trauma Bonding
Trauma bonding terbentuk dari hubungan tak sehat antara pihak abusive dan korban. Kondisi tersebut umumnya terjadi saat korban mulai mengembangkan kasih sayang atau empati pada pelaku. Pada akhirnya, korban merasa berat atau terbebani untuk meninggalkan situasi yang sangat toksik.
Selain empati yang berkembang menjadi takut kehilangan, sebab lainnya adalah ketergantungan. Trauma bonding semakin kuat saat korban merasa terbiasa. Perilaku abusive seringkali berlanjut pada fase penyesalan yang membuat pelaku mengakui kesalahannya dan berjanji ngga mengulanginya.
Fase ini membuat korban iba dan memberi kesempatan lagi karena yakin sifat pelaku akan berubah. Setelah ini, pelaku bisa mengulangi hal yang sama, kemudian minta maaf lagi. Pola berulang ini membentuk pola pikir tak sehat bagi korban bahwa setelah ini pelaku menyesal dan berusaha berubah yang disertai harapan tinggi.
Cara Terbebas dari Trauma Bonding
Keluar dari hubungan dengan trauma bonding memang tidaklah mudah. Ikatan tersebut membuat korban enggan berpaling dan kembali lagi ke pelakunya. Hal ini seperti karet gelang yang mengikat. Meskipun demikian, beberapa hal ini bisa membantu mengatasinya.

Putuskan hubungan dengan pelaku
Meskipun sulit di awal, memutuskan komunikasi dengan pelaku merupakan solusi melepaskan diri dari trauma bonding. Hentikan semua komunikasi dengan pelaku, seperti mengganti nomor atau memblokir seluruh media sosialnya.
Hal tersulit yang membuat korban sulit melepaskan diri dari pelaku adalah karena mengingat kebaikan pelaku. Hal tersebut membuat korban mengesampingkan perilaku buruk pelaku yang justru membahayakan. Nah, supaya terlepas, fokuslah pada tindakan negatifnya dan pertimbangkan dampak buruknya.
Berhenti menyalahkan diri sendiri
Dalam mempertimbangkan keberlanjutan hubungan, wajar jika bingung dan menyalahkan diri sendiri. Akan tetapi, hal itu kurang tepat karena kekerasan oleh pelaku justru merugikan dan perilakunya akan sulit diubah, terlebih jika sudah lama dan terus berulang.
Melakukan hal menyenangkan akan melepas stres dan membuatmu lebih rileks. Korban dapat melakukan hobi atau kegiatan positif lainnya, seperti berolahraga, meditasi, berdoa. Para ahli melalui National Violence Hotline mengungkapkan bahwa self-talk sangat membantu untuk menguatkan diri.
Hal terpenting dalam menghadapi hubungan toksik adalah menyadari bahwa hal tersebut tidak baik dan merugikan diri sendiri, sehingga harus dijauhi. Jika ingin memperbaiki kondisi psikis, maka bisa berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

