Double Burden of Malnutrition di Indonesia, Seburuk Apakah?

Halo Teman Sehat! Pada saat ini, dunia ngga terkecuali Indonesia sedang menghadapi masalah yang bernama double burden of malnutrition. Hal ini merujuk pada keadaan dimana terjadi malnutritisi baik gizi lebih maupun gizi kurang. Masalah yang satu ini sudah sangat mengkhawatirkan, lantas bagaimana faktanya yang terjadi di Indonesia?

Stunting

Stunting atau pendek merujuk pada keadaan seseorang yang berbadan kecil dibandingkan usia yang seharusnya. Kasus ini sudah menyentuh angka 37.2% secara nasional pada tahun 2013 dan diprediksi akan terus meningkat. Menurut data Bank Dunia 2015, 8.4 juta anak Indonesia mengalami stunted dan menderita kurang gizi kronik. Selain itu, 37.2% balita mengalami stunted yang diperburuk dengan rendahnya kesadaran masyarakat terkait masalah ini. Lantas apa dampaknya?

Baca juga : Stunting: Masalah 1 dari 3 Anak di Indonesia

  • Stunting dapat menurunkan produktivitas seseorang saat dia tumbuh dewasa disertai peningkatan risiko penyakit tidak menular
  • Stunting dapat menurunkan IQ 5-11 poin
  • Anak yang stunting berefek pada rendahnya prestasi di sekolah
  • Anak yang stunting akan berpenghasilan 10% lebih rendah di usia produktifnya

Obesitas

Obesitas atau gemuk didefinisikan sebagai indeks massa tubuh ≥27. Di Indonesia, pada semua kategori usia masalah gizi yang satu ini menunjukan adanya peningkatan. Uniknya, fakta sebelumnya menunjukan bahwa obesitas merupakan masalah kesehatan yang terjadi pada masyarakat kelas ekonomi atas, namun demikian, obesitas pada kelompok ekonomi bawah menunjukan peningkatan yang signifikan saat ini. Data dari Asian Development Bank Institute tahun 2016 menunjukan bahwa 1 dari 4 orang Indonesia mengalami overweight. Kemudian data Riskesdas 2013 menunjukan prevalensi obesitas mencapai 15.4%. Obesitas merupakan masalah yang butuh penanganan serius, mengapa?

Baca juga : Green Coffee Bisa Turunkan Berat Badan? Cek Faktanya Di Sini!

  • Meningkat risiko morbiditas atau kematian, seiring dengan meningkatnya indeks massa tubuh maka risiko kematian juga meningkat
  • Meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi, dislipidemia, diabetes mellitus, penyakit jantung koroner, gagal jantung, stroke, kanker, dll
  • Pada wanita usia produktif, obesitas bisa mengganggu siklus menstruasi bahkan menyebabkan amenore
  • Dampak sosial, seperti stigma negatif ‘gendut’ di masyarakat, gangguan percaya diri, bahkan dapat berujung dengan perilaku makan menyimpang.

Nah, Indonesia sedang bertarung menghadapi 2 masalah yang kompleks ini Teman Sehat. Di satu sisi, masalah gizi kurang masih susah ditangani, di sisi lain masalah gizi lebih seolah tumbuh subur bak jamur dimusim hujan. Mana yang harus ditaklukkan lebih dulu? Yuk, jadi solusi bagi permasalahan kesehatan bangsa ini!

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *