Matcha, teh hijau bubuk asal Jepang, telah mendunia berkat citarasa khasnya. Tapi, tahukah Sahabat Sehat kalau tidak semua matcha itu sama? Berdasarkan kualitas, pemrosesan, dan kegunaannya, matcha dibagi menjadi tiga jenis utama, yaitu ceremonial, daily/premium, dan culinary. Yuk, cari tahu perbedaannya!
Ceremonial Grade
Ceremonial grade adalah matcha dengan kualitas tertinggi. Dibuat dari pucuk daun teh termuda yang ditanam di bawah naungan untuk meningkatkan kandungan klorofil dan L-theanine.

Ketika menikmati matcha ceremonial grade, Sahabat Sehat akan merasakan perpaduan rasa gurih (umami) dengan citarasa yang lembut. Jenis matcha ini dirancang untuk dinikmati secara tradisional (usucha atau koicha) dengan hanya diseduh air panas. Citarasa yang unik ini dipengaruhi oleh kandungan asam amino bernama L-theanine.
L-theanine (γ-glutamylethylamide) merupakan asam amino non protein yang dapat ditemukan dalam tanaman teh (Camellia sinensis). Kadarnya akan meningkat ketika tanaman teh dibudidayakan dengan teknik naungan (oishita en). Sebelum panen, tanaman teh ditutupi dari sinar matahari langsung selama 20 hingga 30 hari.
Dalam kondisi stres akibat kurangnya sinar matahari, fotosintesis jadi melambat. Alih-alih mengubah theanine menjadi polifenol (katekin) yang pahit, daun teh akan mempertahankan dan mengakumulasi theanine dalam jumlah besar. Inilah mengapa ceremonial grade memiliki kadar L-theanine tertinggi dan rasa yang paling seimbang, antara pahit dan umami.
Daily/Premium Grade
Dalam hierarki matcha, kategori ini sering disebut sebagai “grade serbaguna” atau “grade premium”. Posisinya berada di tengah, lebih terjangkau daripada ceremonial grade, namun secara kualitas rasa masih jauh lebih unggul dibandingkan culinary grade. Posisi ini menjadikannya pilihan yang paling populer untuk konsumsi sehari-hari (daily).

Dibandingkan ceremonial grade, warnannya masih hijau terang, tapi mungkin bisa sedikit lebih pucat. Kadar L-theanine di dalamnya cukup untuk memberikan rasa gurih, tetapi rasa pahit dari katekin dan astringensinya (sepat) lebih terasa. Karakter rasa lebih kuat inilah yang justru membuatnya cocok untuk dicampur dengan bahan lain. Misalnya, diolah menjadi matcha latte, smoothie, atau shaken dengan es.
Culinary Grade
Culinary grade adalah matcha yang dirancang khusus untuk campuuran memasak dan membuat kue. Terbuat dari daun teh yang dipanen lebih tua, warnanya seringkali lebih kusam (kekuningan atau kecoklatan), namun pekat. Matcha jenis ini juga memiliki rasa yang jauh lebih pahit. Meskipun begitu, rasa kuatnya justru diinginkan agar tidak hilang ketika dipanggang atau dicampur dengan bahan lain, seperti tepung, gula, dan telur. Grade ini merupakan pilihan ideal untuk memberi warna dan rasa matcha pada kue, biskuit, es krim, dan puding.
Ketiga jenis matcha tersebut punya kelebihan dan kekuranganya masing-masing. Jadi, di antara ketiganya, mana yang menjadi pilihan Sahabat Sehat? Selamat mencoba dan menikmati berbagai jenis matcha!
