Sahabat Sehat, lost generation merupakan kondisi hilangnya kualitas suatu generasi akibat adanya krisis tertentu. Lost generation juga terjadi akibat kasus malnutrisi pada anakyang mengakibatkan ketertinggalan dalam proses berpikir tinggi atau higher order thinking skills. Hal ini akan berdampak terhadap kualitas bonus demografi yang diperkirakan terjadi pada tahun 2030.
Lost generation dan malnutrisi
Menurut Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Ali Khomsan dalam bukunya berjudul Ekologi Masalah Gizi, Pangan, dan Kemiskinan, lost generation adalah gambaran potensi anak-anak yang hilang akibat kondisi gizi buruk, sehingga saat sekolah mereka mengalami penurunan kemampuan berpikir cerdas. Apabila ini terjadi pada sebagian anak-anak di Indonesia maka bukan tak mungkin jika banyak keluarga miskin dan kurang sejahtera bermunculan beberapa dekade tahun ke depan.

Faktanya, 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau saat manusia berada di dalam kandungan hingga usia lahir 2 tahun menjadi waktu emas penentu kesehatannya bahkan akan berpengaruh terhadap risiko penyakit kronis saat dewasa. Pada kurun waktu ini seharusnya bayi dan balita mendapatkan gizi terbaik. Pemerintah juga bertanggungjawab atas kualitas gizi bayi dan balita karena kebutuhan pangan merupakan Hak Asasi Manusia.
Berdasarkan hasil survei Status Gizi Balita Indonesia tahun 2021, persentase balita kurus dan sangat kurus yaitu 7,1%, tahun 2019 sebesar 7,4%. Hal ini menunjukkan adanya penurunan angka balita kurus dan sangat kurus. Sementara persentase balita gizi kurang dan gizi buruk tahun 2021 yaitu 17%, tahun 2019 sebesar 16,3%. Hal ini menunjukkan adanya kenaikan angka balita gizi kurang dan buruk. Kenaikan ini juga disebabkan kondisi pandemi Covid-19 yang terjadi sejak tahun 2020 sehingga berpengaruh terhadap ekonomi dan akses kesehatan masyarakat.
Lost generation dan Covid-19
Anak-anak cenderung memiliki risiko infeksi ringan Covid-19 dibandingkan orang dewasa. Namun, ancaman lainnya datang dari segi pendidikan dan gizi. Kedua aspek ini memiliki efek yang baru terlihat beberapa tahun kemudian. Anak yang dibatasi pergi ke sekolah sehingga mengurangi kualitas kegiatan belajarnya. Terlebih bila anak berada di wilayah yang akses internetnya belum memadai, berkemungkinan besar mengalami banyak ketertinggalan dalam hal pendidikan.
Selama pandemi Covid-19 banyak pencari nafkah keluarga yang di PHK. Akibatnya, pendapatan pun berkurang sehingga memengaruhi kemampuan keluarga membeli kebutuhan pangan yang berimbas pada sulitnya pemenuhan gizi bayi dan balita di keluarga tersebut. Oleh karena itu, risiko lost generation selama pandemi Covid-19 juga meningkat.

Apa yang terjadi saat bonus demografi?
Berdasarkan Buletin APBN tahun 2018, bonus demografi berhubungan erat dengan kasus stunting anak di Indonesia. Pasalnya, stunting menyebabkan penurunan intelegensia (IQ) sehingga individu tersebut susah mencari pekerjaan kelak ketika dewasa. Tingkat pendapatan pun berkurang dan kemiskinan pun meningkat. Jika stunting terjadi pada banyak balita maka banyak SDM kurang berkualitas bermunculan. Bukan bonus demografi yang didapatkan, melainkan beban demografi yang akan menghantui.
Nyatanya stunting menyebabkan kerugian ekonomi mencapai 3% Produk Domestik Bruto (PDB) atau sekitar Rp 300 triliun per tahun. Hmm, ternyata masalah gizi bisa berdampak sangat besar bagi perekonomian suatu negara ya, Sahabat Sehat.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

