Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) adalah penyebab kematian pertama di dunia yang menyebabkan sekitar 17,7 juta kematian setiap tahunnya. Penyakit ini juga merupakan pembunuh nomor 1 di Indonesia. Penyakit kardiovaskular sering banget dikaitkan dengan asupan lemak yang tinggi, khususnya lemak jenuh. Tapi, hasil penelitian terbaru dari McMaster University yang dimuat dalam The Lancet pada 29 Agustus 2017 lalu menemukan hasil baru yang anti-mainstream.
Penelitian yang telah dipresentasikan dalam Congress of the European Society of Cardiology di Barcelona, Spanyol ini merupakan penelitian besar
Penelitian ini menggunakan data dari Prospective Urban Rural Epidemiology (PURE) yang melibatkan 135.335 dewasa usia 35-70 tahun dari 18 negara berpendapatan rendah, menengah, dan tinggi. Selama sekitar tujuh setengah tahun, seluruh responden dalam penelitian ini dipantau kebiasaan makannya dan dihubungkan dengan penyakit kardiovaskular.
Berikut ini adalah 4 poin utama dalam penelitian itu
- Tidak terdapat hubungan antara asupan lemak (baik itu lemak jenuh ataupun lemak tak jenuh) dengan penyakit kardiovaskular, ataupun kematian.
- Asupan lemak, termasuk lemak jenuh, sebanyak 35% dari kebutuhan energi harian berhubungan dengan penurunan risiko kematian dini.
- Asupan karbohidrat yang tinggi (lebih dari 60% dari kebutuhan energi harian) bisa meningkatkan risiko kematian dini! Nah, ini poin penting yang harus di-highlight. Yap, kamu benar. Nasi, roti, mi, atau pasta adalah contoh sumber karbohidrat.
- Konsumsi sayur, buah, dan legume (termasuk kacang-kacangan) dengan total 3 porsi (atau sekitar 375 hingga 500 gram) dalam sehari bisa menurunkan risiko kematian dini.

“Penurunan asupan lemak otomatis akan menyebabkan peningkatan pada asupan karbohidrat dan kami menemukan bahwa pada populasi tertentu, misalnya Asia Selatan, yang tidak mengonsumsi banyak lemak tetapi mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah banyak, memiliki angka kematian tertinggi,” ungkap Dr Mahshid Dehghan, PhD.
“Selama puluhan tahun, fokus dunia kesehatan tertuju pada penurunan asupan lemak total dibawah 30% dan lemak jenuh dibawah 10% dari asupan energi harian. Hal ini bertujuan untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, tapi hingga sekarang, kita belum tau bagaimana cara menggantikan lemak jenuh dalam diet kita,” tambahnya.
Menurutnya, panduan diet yang berlaku saat ini dibuat sekitar 40 tahun lalu dengan menggunakan data dari negara Barat dengan konsumsi lemak 40-45% dari kebutuhan energi dan lemak jenuh yang lebih dari 20%.
Penelitian ini juga mengundang beberapa ahli gizi dan kesehatan dunia, seperti Profesor Jeremy Pearson dari British Heart Foundation untuk meninjau kembali panduan diet yang ada, untuk memastikan bahwa masyarakat mendapatkan pesan dan manfaat yang terbaik.
Meskipun demikian…

Dr Alison Tedstone, kepala ahli gizi di Public Health England menyatakan bahwa asupan lemak yang tinggi akan menyebabkan penambahan berat badan dan meningkatkan risiko penyakit jantung.
“Kami merekomendasikan diet seimbang dengan mengonsumsi karbohidrat kompleks, mengurangi lemak, dan menukar sumber lemak jenuh dengan lemak tak jenuh,” menurut Dr Alison Tedstone.
Jadi intinya, lebih perhatikan jumlah asupan karbohidrat kamu ya Teman Sehat. Jangan lupa buat selalu konsumsi sayur dan buah setiap hari, oke?


1 Comment