Daun Katuk, ASI Booster Sahabat Ibu Menyusui

daun katuk sebagai ASI booster
Foto: Pixabay.com

Hai Sahabat Sehat! Tahukah kamu, ASI (Air Susu Ibu) merupakan sumber pangan yang paling baik dan optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi karena mengandung zat gizi yang lengkap dengan faktor antibodi untuk bayi. Maka dari itu, ngga heran banyak ibu yang khawatir jika mulai mengalami masalah dalam menyusui, salah satunya ketika produksi ASI menurun.

Produksi ASI yang menurun dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti metabolisme tubuh, kesehatan mental, dan konsumsi makanan. Selain makanan gizi seimbang yang dikonsumsi sehari-hari, ada beberapa jenis makanan yang memiliki manfaat khusus untuk memperlancar ASI (ASI booster), salah satunya dengan daun katuk. Yuk, kenalan lebih jauh dengan daun katuk, sayur ASI booster sahabat ibu menyusui!

ASI Booster

ASI booster atau pelancar ASI merupakan pangan yang bisa membantu meningkatkan jumlah dan kualitas ASI. Selain itu, ASI booster dapat berperan dalam memperbaiki mood, memberikan efek rileks, mengembalikan energi dan cairan yang hilang, membantu metabolisme karbohidrat, serta meningkatkan hormon untuk produksi ASI. Beberapa jenis pangan tersebut adalah teh, sup ayam, kacang-kacangan, pare, daun torbangun, dan daun katuk.

Daun Katuk sebagai ASI Booster

Katuk (Sauropus androgynus) merupakan salah satu tanaman yang sudah banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, baik sebagai obat tradisional maupun diolah menjadi sayur. Banyak masyarakat yang mamanfaatkan daun katuk sebagai ASI booster karena selain mudah didapatkan, daun katuk juga ngga menimbulkan efek samping ketika dikonsumsi. Beberapa pnelitian meyimpulkan bahwa daun katuk bisa meningkatkan produksi ASI lebih banyak dibanding dengan jenis sayur yang lain.

Daun katuk (100g) mengandung energi sebesar 59 kkal, 6.4 g protein, 1.0 g lemak, dan 9.9 g karbohidrat. Selain itu, juga terdapat kandungan vitamin B6 dan zat besi yang berfungsi untuk mencegah anemia, vitamin C sebagai antioksidan dan meningkatkan pertumbuhan sel, vitamin D untuk menjaga sistem kekebalan tubuh, serta kalsium untuk kesehatan tulang.

Tingkatkan hormon Prolaktin dan Oksitosin

manfaat daun katuk
Foto: Freepik.com

Selain kandungan zat gizi makro dan mikro yang baik, daun katuk juga mengandung beberapa, zat aktif, seperti galactogogue, fitosterol, dan alkaloid papaverin. Zat tersebut berpengaruh langsung terhadap hormon prolaktin dan oksitosin, yaitu hormon yang mempengaruhi produksi ASI. Galactogogue mampu meningkatkan hormon prolaktin dan oksitosin, sehingga jumlah produksi ASI juga meningkat.

Fitosterol yang terkandung dalam daun katuk juga sering disebut sebagai fitoestrogen. Komponen tersebut bekerja seperti hormon estrogen yang memicu terbentuknya hormon prolaktin. Alkaloid papaverin berperan sebagai zat rileksasi pada otot dan memperbesar pembuluh darah, sehingga dapat memperlancar sirkulasi hormon prolaktin dan oksitosin.

Nah, sekarang jangan khawatir jika produksi ASI mulai ngga lancar. Daun katuk bisa menjadi solusi untuk ASI booster yang bersahabat untuk ibu menyusui. Semoga bermanfaat ya, Sahabat Sehat!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

DKT Indonesia. 2019. Sahabat ASI untuk 1000 Hari Emas Si Buah Hati. Jakarta (ID) : Nakita ID. https://moth3rs.com/wp-content/uploads/ebook-asi.pdf Diakses pada 7 Agustus 2021

Indrayani D, Shahib MN, Husei F. the effect of katuk (Sauropus androgunus (L) Merr) leaf biscuit in increasing  prolactine levels of breastfeeding mother. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 16(1) : 1-7. https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas/article/view/11324 Diakses pada 7 Agustus 2021

[Kemenkes] Kementerian Kesehatan. 2018. Tabel Komposisi Pangan Indonesia 2017. Jakarta (ID) : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://www.panganku.org/id-ID/beranda Diakses pada 7 Agustus 2021

Widiyanti D, Heryati K. 2018. Effect on food consumption postpartum mother’s breastfeeding in clinical practice midwife in Bengkulu City. International Journal of Recent Scientifict Research. 9(5) : 26807-26812. https://www.recentscientific.com/sites/default/files/10754-RW-2018.pdf Diakses pada 7 Agustus 2021

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.