Kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT belakangan sering terjadi dan sebagian besar korbannya adalah perempuan. Kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar seringkali membuat korban KDRT cenderung untuk menutup diri dan menerima segala bentuk kekerasan dari pasangannya. Padahal dampak KDRT ngga hanya menimbulkan trauma fisik namun kearah psikologis seseorang juga. Bagaimana dampak luar biasa KDRT? berikut ulasannya untuk kamu!

Trauma Fisik
Tindakan kekerasan merupakan kasus serius dan akibat yang ditimbulkan dapat terlihat secara nyata. Dampak jangka pendek yang dialami yaitu adanya luka atau trauma fisik mulai dari lebam hingga kelumpuhan yang menyebabkan seseorang kehilangan pekerjaan atau terganggu kehidupan sosialnya. Bahkan pada beberapa kasus, kekerasan fisik terjadi hingga meregang nyawa korban.
Gangguan Kesehatan Reproduksi
Kekerasan dalam rumah tangga juga berdampak pada kesehatan reproduksi seseorang. Beberapa korban perempuan yang mengalami KDRT juga mengalami gangguan kesehatan reproduksi.
Berdasarkan studi yang diunggah dalam Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UISU (Universitas Islam Sumatera Utara) perempuan yang mengalami KDRT seringkali mengalami menstruasi yang ngga tertaur, timbul rasa nyeri parah saat menstruasi (dismenore), jumlah darah haid yang kadang banyak atau sedikit, serta terjadi penurunan libido. Apabila kekerasan terjadi saat sedang hamil, kemungkinan akan terjadi keguguran/abortus, persalinana prematur, dan bayi dapat meninggal saat dalam kandungan.

Dampak Psikologis
Selain luka fisik yang dapat terlihat langsung, dampak secara psikologis jugasangat mempengaruhi kehidupan korban. Dampak psikologis yang paling sering dijumpai yaitu timbulnya perasaan cemas, selalu waspada, depresi, ketakutan, dan seringkali dihantui kejadian yang dialaminya. Ngga sedikit pula korban yang menjadi lebih murung, sering melamun, mudah menangis, sulit tidur dan sering mimpi buruk.
Tentunya efek domino ini terus berlangsung hingga korban mengalami pola hidup ngga teratur dan mengalami perubahan drastis dalam kehidupan sosialnya. Apabila tak mendapat pendampingan yang tepat, kondisi ini bisa kian memburuk, bahkan dapat menimbulkan keinginan untuk menyakiti diri sendiri dan tindakan ekstrem lainnya.
Kesehatan Mental Anak
Anak sering kali menjadi korban secara nggak langsung dari kasus KDRT. Anak yang melihat dan mendengar langsung saat orang tuanya bertengkar akan cenderung berisiko memiliki trauma psikis. Efeknya mungkin bisa berbeda pada setiap orang, salah satunya membuat anak memiliki keinginan untuk meniru hal yang sama.
Berdasarkan salah satu riset, laki-laki yang mengalami kekerasa fisik maupun pelecehan pada masa kanak-kanak dilingkungan keluarganya, memiliki kemungkinan lebih besar untuk melakukan kekerasan dan bersifat agresif. Hal ini mengacu pada perspesktif belajar sosial (social learning).
Sahabat Sehat, ngga ada toleransi untuk KDRT dan katakan tidak untuk segala bentuk kekerasan. Hal ini berlaku baik untuk laki-laki maupun perempuan. Jika kamu megalami kondisi ini jangan ragu untuk menjauh dari orang yang menyakitimu. Janganlah takut karena kamu berhak untuk bahagia.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

