
Halo Teman Sehat! Kamu pasti udah ngga asing kan sama kata “antibiotik”? Tapi, apakah kamu udah familiar dengan kata “resistensi antibiotik”?
Antibiotik adalah obat yang telah digunakan sejak 70 tahun terakhir untuk mengatasi infeksi bakteri. Sejak tahun 1940-an, antibiotik udah mengatasi banyak penyakit dan mencegah kematian akibat penyakit infeksi.
Akibat hitsnya antibiotik, obat ini telah banyak digunakan di seluruh negara dalam jangka waktu yang lama, sehingga bakteri yang seharusnya dapat dibunuh oleh antibiotik mengalami evolusi. Evolusi, artinya bakteri beradaptasi menjadi lebih kuat, sehingga antibiotik yang udah ada menjadi kurang efektif.
Bakteri bisa mengalami resistensi antibiotik, atau dalam bahasa gampangnya: bakteri kebal sama antibiotik. Akibatnya, bakteri ngga mati dan pertumbuhannya bisa terus terjadi, sehingga infekesi yang terjadi lebih parah dan makin sulit buat disembuhkan.
Resistensi antibiotik menglami peningkatan di seluruh negara. Kenapa ini bisa terjadi?
32% dari 10.000 orang di 12 negara menganggap bahwa meminum antibiotik sebaiknya dihentikan ketika sudah merasa lebih baik (World Health Organization)
Benarkah pendapat itu?
Jelas salah dong, ya! Nah, itulah kenapa peristiwa resistensi antibiotik ini terus mengalami peningkatan karena banyak orang yang ngga menghabiskan antibiotik sesuai dosis yang diberikan.
Hampir 50% antbiotik tidak diresepkan secara benar. Antibiotik diberikan walaupun tidak dibutuhkan, atau pemberian durasi dan dosis yang tidak tepat. (Centers for Disease Control and Prevention)
Terdapat 2 hal yang menyebabkan meningkatnya kasus resistensi antibiotik di dunia:
- Kesalahan penggunaan antibiotik, misalnya antibiotik diminum oleh pasien flu akibat virus, padahal antibiotik seharusnya digunakan untuk mengatasi penyakit akibat bakteri.
- Penggunaan antibiotik yang terlalu berlebihan dan ngga sesuai dosis, misalnya seseorang diberikan antibiotik sebanyak 2 kali sehari selama 5 hari, tetapi pasien itu meminum antibiotik dengan aturan yang salah dan ngga sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
Faktor lain yang berperan adalah kurang berjalannya aturan dari pemerintah yang terkait peredaran antibiotik. Antibiotik yang dapat dengan mudah didapatkan tanpa resep dokter terlebih dahulu di apotek atau toko obat akan menyebabkan persebaran resistensi antibiotik menjadi semakin mudah.
Emang resistensi antibiotik berdampak buruk buat kita?
Iya dong! Resistensi antibiotik akan menyebabkan bakteri kebal dari pengobatan, sehingga tidak bisa mati. Akibatnya adalah peningkatan biaya perawatan di rumah sakit, tambahan waktu menginap di rumah sakit, dan peningkatan jumlah kecacatan dan kematian.
Parahnya, peristiwa ini akan menyebabkan tindakan medis seperti kemoterapi, transplantasi organ, hingga operasi jadi makin berbahaya buat pasien tanpa adanya antibiotik yang efektif untuk mencegah dan mengatasi infeksi.
Bagaimana cara mencegah hal ini?
Ini adalah beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk mencegah resistensi antibiotik ala WHO.
- Hanya menggunakan antibiotik yang disarankan/diresepkan oleh tenaga kesehatan
- Jangan meminta antibiotik pada tenaga kesehatan apabila dinilai tidak diperlukan
- Selalu mengikuti anjuran penggunaan antibiotik dari tenaga kesehatan
- Jangan pernah membagikan atau menggunakan antibiotik sisa orang lain
- Cegah infeksi dengan mencuci tangan, menyiapkan makanan secara bersih, mencegah kontak dekat dengan orang yang sakit, seks aman, dan lakukan vaksinasi.

Setiap tanggal 14 hingga 20 November, kita memperingati World Antibiotic Awareness Week loh! Ayo gunakan antibiotik secara bijak dan tepat.


1 Comment