Mengenal Gejala dan Penyebab Skizofrenia

Bagi penderita skizofrenia, batasan antara kenyataan dan imajinasi sering kali terlihat samar yang menyebabkan delusi atau halusinasi. Meskipun kondisi ini cukup langka, diperkirakan dialami oleh kurang dari 1% penduduk dunia, dampaknya sangat besar bagi kehidupan seseorang dan lingkungan sekitarnya.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi skizofrenia dan gangguan psikotik berat lainnya di Indonesia adalah 6,7 per 1.000 rumah tangga. Artinya, ratusan ribu keluarga di Indonesia menghadapi kondisi ini.

Foto: Freepik

Skizofrenia bukanlah kepribadian ganda, bukan pula akibat dari kesurupan atau pengaruh hal mistis lainnya. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), skizofrenia adalah gangguan mental kronis dan berat yang memengaruhi cara berpikir, merasakan, dan berperilaku.

Mengenal Gejala Skizofrenia

Biasanya, gejala gangguan ini mulai muncul di masa remaja atau awal usia 20-an. Laki-laki umumnya mulai merasakan gejalanya di usia akhir remaja hingga awal 20-an, sedangkan perempuan sedikit lebih lambat, yaitu di akhir 20-an atau awal 30-an. Tanda-tanda awalnya seringkali tidak disadari karena sangat mirip dengan perilaku “wajar” remaja pada umumnya.

Lalu, bagaiman gejalanya? Gejala awalnya berupa sering menyendiri, perubahan pola tidur, sulit berkonsentrasi, penurunan prestasi di sekolah, rasa curiga tanpa alasan yang jelas, dan munculnya ide-ide yang terasa ganjil. Seiring berjalannya waktu, gejalanya akan berkembang menjadi tiga kategori utama, yaitu gejala positif, negatif, dan kognitif.

Dalam konteks medis, gejala positif bukan berarti hal yang baik, melainkan munculnya pikiran atau perilaku baru yang biasanya tidak ada, seperti halusinasi. Gejala negatif adalah hilangnya perilaku atau fungsi normal yang seharusnya dimiliki seseorang, seperti hilangnya motivasi.

Sedangkan, gejala kognitif gejala kognitif menunjukkan adanya hambatan pada fungsi otak atau proses berpikir seseorang. Misalnya, mengalami kekacauan dalam berpikir dan berbicara yang terlihat ketika pembicaraan seseorang melompat-lompat dari satu hal ke hal lain tanpa kaitan yang jelas.

Foto: Freepik

Apa penyebabnya?

Sejauh ini, penelitian belum menemukan satu penyebab tunggal yang memicu skizofrenia. Para ahli meyakini bahwa kondisi ini muncul secara kompleks akibat faktor genetika dan lingkungan. Selain itu, aspek psikososial juga berperan dalam menentukan kapan gejala mulai muncul dan bagaimana perkembangannya ke depan.

Salah satu faktor risiko yang cukup menonjol adalah penggunaan ganja dosis tinggi, yang sering kali dikaitkan dengan peningkatan risiko terjadinya gangguan ini. Para peneliti menemukan bukti kuat adanya keterkaitan antara penggunaan ganja dengan skizofrenia. Berdasarkan salah satu studi tahun 2022 yang dimuat dalam Psychological Medicine, diperkirakan bahwa sekitar 30% kasus skizofrenia pada pria usia 21–30 tahun sebenarnya bisa dicegah jika mereka terhindar dari gangguan penggunaan ganja.

Sahabat Sehat, hingga kini fokus utama penanganan skizofrenia adalah mengelola gejala agar tetap terkendali, karena memang belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkannya secara total. Sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan psikiater atau ahli kesehatan mental di bidang ini untuk mendapat penanganan yang tepat.

Referensi

U.S. National Institute of Mental Health. Schizophrenia.
https://www.nimh.nih.gov/health/statistics/schizophrenia
Diakses pada 22 Desember 2025

Kementerian Kesehatan RI. 2018. Hasil Utama Riskesdas 2018.
https://dinkesjatengprov.go.id/v2018/storage/2019/09/Hasil-Riskesdas-2018-1.pdf
Diakses pada 22 Desember 2025

WHO. 2025. Fact Sheets: Schizophrenia.
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/schizophrenia
Diakses pada 22 Desember 2025

Hjorthøj, C., Compton, W., Starzer, M., Nordholm, D., Einstein, E., Erlangsen, A., … Han, B. (2023). Association between cannabis use disorder and schizophrenia stronger in young males than in females. Psychological Medicine, 53(15), 7322–7328. doi:10.1017/S0033291723000880

Healthline. 2025. What Do You Want to Know About Schizophrenia?
https://www.healthline.com/health/schizophrenia
Diakses pada 22 Desember 2025

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.