Di tengah maraknya penggunaan tumbler sebagai pengganti kemasan sekali pakai, banyaknya pilihan material di pasaran seringkali membuat bingung menentukan mana yang terbaik. Plastik, stainless steel, atau kaca? Ketiga bahan tersebut punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Kalau Sahabat Sehat masih kesulitan untuk memilih tumbler yang aman untuk penggunaan jangka panjang, yuk, simak utas singkat berikut ini!

Stainless Steel vs Kaca, Mana yang Terbaik?
Sebagian besar tumbler, yang beredar di pasaran terbuat dari stainless steel, kaca, plastik polikarbonat, dan plastik jenis lain seperti tritan atau polipropilena. Bahan stainless steel dan kaca sering dianggap paling aman karena bersifat inert atau tidak reaktif dengan minuman di dalamnya.
Stainless steel food-grade, seperti seri 304 atau 316, sangat tahan lama dan tidak bereaksi dengan cairan asam atau panas. Kemampuan untuk menjaga panas atau dinginnya juga sangat baik. Kalau Sahabat Sehat mau menggunakan jenis ini, pastikan bahan yang digunakan bukan stainless steel berkualitas rendah yang mudah berkarat dan melarutkan logam seperti kromium atau nikel.
Di sisi lain, kaca borosilikat menjadi pilihan paling aman secara kimiawi karena benar-benar non-reaktif, tidak menyerap noda atau bau, dan mudah dibersihkan. Namun, tetap memiliki kekurangan, yaitu lebih berat dan rentan pecah. Bagi Sahabat Sehat yang punya mobilitas tinggi, tumbler kaca dengan pelindung silikon bisa menjadi pilihan yang patut dipertimbangkan.

Bagaimana dengan bahan plastik?
Tumbler berbahan plastik memiliki keunggulan dalam segi harga. Bahan ini juga ringan dan tahan banting sehingga nyaman untuk dibawa bepergian. Jika Sahabat Sehat ingin memilih tumbler berbahan plastik, perhatikan kode daur ulang segitiga atau resin identification code di bagian bawah produk.
Kode #7 (Other) sering kali menandakan polikarbonat yang berpotensi mengandung Bisphenol-A (BPA), senyawa pengganggu hormon yang berisiko bagi kesehatan jika terkonsumsi. Melihat potensi bahayanya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia telah melarang penggunaan BPA pada kemasan pangan untuk bayi sejak tahun 2018. Pilihan yang lebih aman adalah plastik dengan kode #2 (HDPE), #4 (LDPE), #5 (PP), atau plastik yang secara khusus berlabel “BPA-Free“.
Selain bahan, perhatikan juga ini!
Jika berbicara tentang tumbler, cara penggunaan dan perawatannya juga berpengaruh pada tingkat keamanannya. Beberapa jenis tumbler ngga cocok untuk menyimpan air panas, karena berpotensi mempercepat migrasi zat kimia berbahaya, termasuk BPA.
Selalu bersihkan tumbler secara berkala, namun hindari menggunakan sikat abrasif untuk tumbler berbahan stainless steel karena dapat merusak lapisan pelindungnya. Kemudian, banyak yang ngga sadar bahwa bagian gasket atau karet penutup pada tumbler stainless steel sering kali bisa menyerap air.
Jika dibiarkan, sisa air ini bisa memicu korosi di celah-celah sempit pada tumbler. Oleh karena itu, sesekali bongkar seluruh bagian tumbler dan bersihkan secara menyeluruh. Pastikan juga bagian tersebut sudah kering dengan sempurna sebelum digunakan kembali.
Beberapa jenis tumbler berbahan plastik juga sebaiknya ngga dicuci dengan air mendidih. Oleh karena itu, selalu cermati dan ikuti petunjuk penggunaan dan perawatan dari produsen yang biasanya dicantumkan pada kemasan.

