Apakah Masa Pandemi Berisiko pada Tumbuh Kembang Anak?

Teman Sehat, Selamat Hari Anak Nasional! Yap, sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) RI, perayaan kali ini hanya dilakukan melalui aplikasi zoom dan membuat kegiatan di Rumah. Tapi, menurutmu apakah selama #dirumahaja dan menghadapi pandemi, tumbuh kembang anak baik-baik saja? Kira-kira, berpengaruh ngga ya? Yuk, simak di sini!

Kualitas pendidikan dengan kegiatan online

Selama pandemi berlangsung, ngga cuma bekerja saja yang dilakukan di rumah, tetapi sekolah juga melakukan sistem yang sama. Bagi tingkat perkotaan, kebutuhan akan akses internet untuk belajar di rumah akan terasa lebih mudah, tetapi berbeda dengan daerah bahkan desa yang kesulitan mengakses kegiatan ini.

Menurut berita yang dilansir oleh bbc.com, kegiatan belajar mengajar (KBM) yang masih belum optimal, menyebabkan capaian akademik siswa ngga berjalan dengan baik, karena adanya beberapa kendala seperti fasilitas yang belum memadai. Dilansir dari publikasi UNICEF, Kementerian Pendidikan RI dan UNICEF bekerja sama untuk memberikan alternatif lain dalam metode KBM, yaitu melalui siaran televisi, radio, maupun booklet.

Tetapi, hal ini juga masih dirasa masih terkendala, dikarenakan ada beberapa daerah tertinggal yang masih belum bisa mengkases siaran telivisi maupun radio karena keterbatasan pasokan listrik, sehingga jalan lainnya adalah guru yang mengunjungi setiap muridnya.

Kebutuhan makanan yang tercukupi

Dilansir dari laman website Kementerian Ketenangakerjaan RI, jumlah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) hingga hari ini mencapai 1,7 juta orang dan diperkirakan akan mencapai 5,23 juta. Status pemutusan kerja ini, secara ngga langsung akan berdampak pada kemampuan satu keluarga untuk memenuhi kebutuhan harian, khusunya pada kebutuhan pangan.

Jika kebutuhan ini sulit untuk dipenuhi, maka akses masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangannya akan terganggu. Walaupun pemerintah dan beberapa organisasi sosial telah memberikan bantuan pangan, tetapi hal ini masih menjadi tugas besar untuk mencari solusi untuk keberlangsungan hidup masyarakat ke depannya, khusunya masyarakat menengah ke bawah.

Kualitas status gizi anak

Salah satu faktor yang memengaruhi tumbuh kembang anak adalah status gizinya. Berdasarkan publikasi dari UNICEF, negara Indonesia masih termasuk posisi ke 5 dengan kasus stunting yang tinggi. Di masa pandemi ini, dampak dari PHK adalah kehilangan mata pencaharian yang menyebabkan risiko wasting dan kekurangan zat gizi mikro meningkat, sehingga akan berdampak bagi tumbuh kembang anak.

Selain itu, terbatasnya akses kesehatan untuk memantau tubuh kembang anak, utamanya di Posyandu maupun Puskesmas, menjadi terhenti. Hal ini menyebabkan beberapa anak yang butuh pemantauan khusus terkait kasus stunting, maupun masalah gizi kurang dan lebih menjadi terganggu.

Apa yang perlu dilakukan?

Masih dalam publikasi studi dari UNICEF, yang menyarankan kepada para stakeholders untuk saling bekerjasama memenuhi kebutuhan keluarga dengan memperluas cakupan program perlindungan sosial bagi keluarga yang terdampak. Selain itu juga perlu diperhatikan untuk membuat guidelines and tools yang baik bagi para siswa.

Nah, itulah beberapa hal yang perlu direnungi kembali terkait perayaan Hari Anak Nasional di kala pandemi. Semoga bermanfaat Teman Sehat!

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *