Halo Teman Sehat! Siapa yang ngga kenal Raden Ajeng Kartini, sosok tangguh yang mampu mengubah perspektif dunia tentang perempuan pada masa itu dan sangat berdampak pada masa sekarang.

Emang gimana sih cerita singkat kehidupan tokoh emansipasi wanita ini? Apa aja yang berhasil diubah oleh seorang Raden Ajeng Kartini dan gimana caranya? Check this out, Teman Sehat, mungkin kamu akan merinding dan ikut terharu kalau membaca kisah perjuangan Beliau ini.
1. Tokoh emansipasi wanita yang diakui dunia
Raden Ajeng Kartini adalah wanita yang dilahirkan pada 21 April 1879. Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita, bukan cuma di Indonesia, tapi di mata dunia loh, Teman Sehat!
Sebagai keturunan ‘darah biru’, RA Kartini berkesempatan buat mendapatkan pendidikan formal, yang ngga bisa dirasakan oleh anak perempuan lain. RA Kartini menyadari bahwa pendidikan adalah kunci untuk memperluas pilihan hidup, yang seharusnya menjadi hak bagi semua orang, termasuk perempuan.
2. Budaya ‘pingit’ yang justru menciptakan perubahan
Budaya ‘pingit’ yang mewajibkan anak perempuan untuk tinggal di rumah sejak menstruasi pertama hingga menikah, ngga menyurutkan niat RA Kartini buat terus belajar. Selama masa dipingit inilah, Raden Ajeng Kartini berkirim surat dengan teman-temannya di luar negeri, terus membaca buku, dan majalah.
Kartini menulis surat kepada banyak orang, tapi Surat-surat RA Kartini kepada Rosa Abendanon-Mandri lah yang mungkin paling memberikan dampak besar buat kita semua.
“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”
Itulah sepenggal kalimat dalam surat Raden Ajeng Kartini yang dikirimkan kepada Nyonya Abendon pada Agustus 1990.
“Pergilah, laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas. Dibawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik dan mana yang jahat. Pergi! Pergilah! Berjuang dan menderitalah, tetapi bekerja untuk kepentingan yang abadi”
Itu juga sepenggal isi surat Raden Ajeng Kartini kepada Nyonya Abendon pada Agustus 1991.
Ditengah diskriminasi perempuan yang sangat kental pada masa itu, pada tahun 1903, RA Kartini berhasil mendirikan sebuah sekolah khusus anak perempuan yang bertujuan untuk mengembangkan karakter, sekaligus memberikan pelatihan praktik dan pendidikan umum, seperti seni, literatur, dan ilmu pengetahuan.
3. Raden Ajeng Kartini fokus pada isu kesehatan
Empat hari setelah melahirkan anak laki-lakinya pada 17 September 1904, RA Kartini meninggal karena komplikasi setelah melahirkan ketika berusia 25 tahun.
Tapi ternyata, cerita tentang Kartini justru mendunia setelah kepergiannya. Pada tahun 1905, JH Abendanon (suami dari teman bersuratnya) mengumpulkan 106 surat yang dituliskan RA Kartini kepada istrinya dan beberapa surat dari RA Kartini kepada yang lainnya, kemudian meringkas dan menerbitkannya pada tahun 1911 sebagai buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
JH Abendanon menceritakan bahwa RA Kartini adalah perempuan muda yang sangat concern dengan beberapa isu: poligami, pernikahan dini, pendidikan, peran perempuan sebagai ibu, dan diskriminasi pribumi pada masa kolonial Belanda.
Nah, Teman Sehat, mari teruskan perjuangan Raden Ajeng Kartini demi Indonesia yang lebih baik! (agt&don)

