Hari Tani Nasional 2020: Petani, Si Penyelamat yang Tak Sejahtera

Teman Sehat, persoalan pangan merupakan hidup dan matinya bangsa. Setidaknya itulah yang ditanamkan oleh Presiden pertama Ir. Soekarno. Makanan yang biasa disantap di piring saat ini sudah melalui proses panjang dari awal hingga akhir industri pangan. Kalau memandang proses awal dari sektor pertanian, timbul pertanyaan, sudahkah petani Indonesia sejahtera?

Pertanian akibat pandemi

Menurut BPS, sektor pertanian mendapatkan angin segar sebagai penyumbang pertumbuhan ekonomi positif tertinggi ketika Indonesia di ambang resesi (penurunan signifikan kegiatan ekonomi). Pada triwulan II pada tahun 2020 ini naik 2,19% dari tahun sebelumnya dan diprediksi sebagai pertumbuhan tertinggi di antara triwulan lain tahun ini. Hal tersebut cukup masuk akal karena triwulan ini merupakan puncak dari musim panen.

Person Holding Rice Grains

Mengingat setiap sektor kegiatan sebenarnya terdampak pandemi, maka perlu kebijakan dan stimulus untuk menjaga keberlangsungan produksi petani. Jangan sampai terlena dengan persediaan pangan sekarang, ya!

Pendapatan petani yang sempat jatuh

Nilai Tukar Petani (NTP) yang mengacu pada tahun 2018 menggunakan skala 100, yang berarti >100 petani untung, sedangkan <100 petani rugi. BPS menyampaikan laporan bahwa NTP bulan Mei dan Juni 2020 mencapai titik terendah, yaitu 99,47 dan 99,62. Penyebabnya bisa karena PSBB pemerintah yang membatasi produksi restoran dan pabrik makanan sehingga harga produk pertanian pun anjlok. Tak heran beberapa bulan lalu, kamu sering melihat buruh tani yang memberi secara gratis hasil panennya.

Petani, Sawah, Pedesaan, Pertanian, Asia, Gunung

Selain NTP, sudah menjadi rahasia umum pendapatan buruh tani di pedesaan sangat berbeda dari pendapatan pekerjaan lain. Pada data lain yang dirilis BPS, upah nominal buruh tani naik. Namun upah sebenarnya menurun sampai hanya di angka Rp. 52.212 per hari di bulan Maret 2020. Upah ini masih kalah jauh dengan buruh bangunan di kota yang bernilai Rp. 85.624 per hari. Maka pantas saja orangtua sering menyuruh menghabiskan satu butir nasi karena kasihan pada petani.

Jika dibandingkan dengan dunia

Global Food Security Index menilai Indonesia dalam keterjangkauan, ketahanan, dan keamanan pangan. Kepentingan buruh tani yang masih disampingkan terlihat pada PDB (Produk Domestik Bruto) per kapita atau pendapatan per kepala yang masih sangat rendah. Buruh tani menjadi salah satu pekerjaan dengan penghasilan sangat rendah di Indonesia.

Crop farmer showing money in green summer field in countryside

Kemudian akses keuangan petani Indonesia masih di bawah rata-rata dunia. Faktanya memang petani Indonesia masih kurang melek teknologi dan kadang sering dipermainkan oleh tengkulak yang memainkan harga. Fakta yang cukup miris sebagai negara agraris.

Beragam fakta di negeri ini membuat wajar anak muda banyak yang menjauhi profesi petani. Belum lagi ditambah masalah kepemilikan lahan dan alih fungsi lahan pemukiman. Terakhir, pembahasan RUU Cipta Kerja yang masih ditentang oleh berbagai kalangan, termasuk buruh tani. Menuju Hari Tani Nasional 2020, sudah sejahterakah petani saat ini? Teman Sehat, ayo kita peduli.

Jangan lupa bagikan informasi menarik ini ke orang-orang sekitar kamu, ya!

Editor & Proofreader: Mega Kurniawati, SGz

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.