Panic Buying, Gejala Masyarakat Ngga Sehat?

Selama pandemi Covid-19, telah terjadi beberapa kali kejadian panic buying. Minggu lalu masyarakat pengguna media sosial dihebohkan oleh “adegan” panic buying salah satu jenis susu di pusat perbelanjaan. Panic buying (pembelian karena panik) merupakan tindakan “rebutan” belanja jenis pangan atau barang tertentu dalam jumlah besar, karena konsumen merasa khawatir ngga akan mendapatkan barang tersebut bila tidak segera membelinya.

Kenapa Panic Buying?

Sahabat Sehat, panic buying bisa terjadi pada berbagai kondisi, seperti saat pandemi, bencana alam, gangguan transportasi, maupun akibat kebijakan pemerintah yang kurang antisipatif. Hal ini biasanya terjadi pada produk pangan dan produk kesehatan. Masih segar dalam ingatan, pada awal pandemi Covid-19 terjadi panic buying terhadap beberapa produk seperti masker, hand sanitizer dan suplemen. Saat beberapa negara menerapkan aturan lockdown, juga terjadi panic buying terhadap makanan dan minuman.

Panic buying biasanya terjadi pada produk pangan atau barang yang tanpa alternatif pengganti, sehingga menyebabkan barang tersebut menjadi langka dan harganya meningkat pesat dalam kurun waktu tertentu. Contohnya panic buying terhadap masker bedah di awal pandemi yang terjadi sebelum masyarakat mengetahui bahwa masker alternatif bisa diproduksi. Tapi, ngga menutup kemungkinan bisa terjadi pada pangan yang memiliki altenatif pengganti, seperti pembelian susu yang sebenarnya sudah tersedia produk penggantinya.

panic buying
Sumber: https://jakarta.tribunnews.com (3/7/21)

Arafat SMY dkk. (2020) dalam penelitian berjudul Responsible Factors of Panic Buying: An Observation from Online Media Reports yang dipublikasi dalam jurnal Frontiers in Public Health yang menganalisis alasan dibalik terjadinya panic buying dari 613 kasus yang terjadi di dunia. Menurut Arafat dkk. panic buying disebabkan oleh adanya peningkatan permintaan terhadap suatu produk yang dianggap penting, antisipasi kenaikan harga, rumor, mengurangi kecemasan, meningkatkan kenyamanan dan kepastian, serta faktor lainnya.

Faktor yang paling dominan, yaitu peningkatan perminataan terhadap produk yang dianggap penting bagi kebutuhan konsumen. Hasil kajian serupa juga diungkap Wahyu AM dkk. (2021) terhadap 418 responden Indonesia dalam artikelnya berjudul “Perilaku Panic Buying Mengiringi Kemunculan Covid-19? Sebuah Studi pada Awal Pandemi di Indonesia”.

Gejala Apa Ini ?

Tinjauan dari perspektif perilaku konsumen, tindakan panic buying terhadap pangan dengan alternatif pengganti mengindikasikan konsumen mudah terprovokasi rumor, mudah merasa stress, cemas, khawatir dan ngga aman. Biasanya juga disertai terbatasnya pengetahuan tentang alternatif produk pengganti.

Panic buying terhadap kebutuhan pokok harian, seperti kelangkaan beras dan pangan pokok lainnya juga bisa dianggap sebagai upaya bertahan hidup atau mekanisme koping, yang bila terus berlangsung bisa menimbulkan kerawanan pangan dan gizi.

Sedangkan bila terjadi pada pangan bukan kebutuhan pokok yang tersedia alternatifnya, seperti kasus jenis susu ini, besar kemungkinan karena faktor psiko-sosial konsumen. Cukup mencengangkan bahwa 56,7% responden dalam kajian Wahyu AM dkk. (2021) mengalami cemas dan sangat cemas akibat pandemi Covid-19, dan 53,9% diantaranya pernah melakukan panic buying di masa pandemi ini.

Selain karena masalah psiko-sosial, panic buying pada pangan dengan alternatif pengganti juga bisa menjadi indikasi bahwa literasi pangan dan gizi belum memadai. Harapannya tentu, pengunaan media sosial dan teknologi modern bisa dioptimalkan untuk mengungkit literasi pangan dan gizi masyarakat

masyarakan melakukan panic buying akibat pandemi
Sumber: Wartaekonomi.co.id, Jumat 22 Mei 2021

Selain itu, kejadian ini juga menjadi sinyal bahwa masyarakat yang menjadi representasi konsumen tersebut mudah terprovokasi rumor, mudah stress, cemas dan merasa khawatir, disertai pengetahun yang belum memadai tentang alternatif pengganti. Hal ini mungkin juga mengindikasikan adanya gangguan kesehatan mental dan sosial dari masyarakat yang melakukannya, yang tentunya perlu diteliti lebih mendalam. Merujuk kepada definisi sehat menurut Lembaga Kesehatan Dunia atau WHO, sehat adalah keadaan lengkap kesejahteraan fisik, mental dan sosial seseorang, dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 2005).

Sahabat Sehat masih ingat kah dengan tiga kalimat nasihat Dr Ibnu Sina (Avicenna) 12 abad yang lalu? Bahwa “Kepanikan adalah separuh penyakit. Ketenangan adalah separuh obat. Kesabaran adalah awal dari kesembuhan”. Yuk, redakan kepanikan, rasa khawatir dan cemas berlebih termasuk pembelian karena panik.

Tentunya perlu ada peran bersama antara pemerintah dan mayarakat, maupun produsen dan konsumen tentang penerapan kebijakan dan implementasi pelarangan penumpukan stok pangan dalam jumlah besar, pembatasan jumlah pembelian pangan bagi konsumen, dan edukasi tentang pangan alternatif, pangan beragam, serta menjadi konsumen bijak, baik melalui media tradisional maupun modern. Ada banyak cara kok untuk hidup sehat.

Referensi

WHO. Constitution of the World Health Organization. In: World Health Organization: Basic documents. 45th ed. Geneva: World Health Organization; 2005.
Yasir Arafat, SMY et al. Responsible Factors of Panic Buying: An Observation From Online Media Reports. Frontiers in Public Health, 2020. https://doi.org/10.3389/fpubh.2020.603894

Wahyu AM et al. Perilaku Panic Buying Mengiringi Kemunculan COVID-19? Sebuah Studipada Awal Pandemi di Indonesia. Humanitas, 2021;5(1):76 – 98.
https://journal.maranatha.edu/index.php/humanitas/article/view/3347

Related Posts

  1. Maturnuwun pencerahannya Prof.
    PR besar bagi para pemangku kepentingan untuk bisa memberikan edukasi dan keteladanan agar masyarakat tidak mudah melakukan panic buying, khususnya untuk Bahan pangan.

  2. Terimakasih banyak Prof, sangat mengedukasi masyarakat awam maupun mereka pada level pendidikan tinggi. Tentunya ini harus dapat menguatkan setiap stakeholder supaya tidak terjadi kepincangan ekonomi masyarakat menengah kebawah

  3. Betul Prof , panic buying saat pandemi covid ini kita temui..selain susu, di pertokoan kami juga kelangkaan minuman vit.c .yg seharusnya bisa didapat dari konsumsi buah buahan..tulisan Prof . Bisa mengingatkan masyarakat utk tidak panik.terima kasih..

  4. Terima kasih pencerahannya ttg panic buying Prof Hardin, sangat bermanfaat. Doa terbaik u ProF Hardin dan keluarga kiranya Sehat selalu. Amin.

  5. Terima kasih bang Prof…informasi terkait gizi produk yg kurang dipahami masyarakat umum…
    Panic = 1/2 sakit
    Tenang = 1/2 obat
    Sabar = 1/2 sehat

Leave a Reply

Your email address will not be published.