Sahabat Sehat, berbicara mengenai tumbuh kembang anak memang ngga akan ada habisnya. Mengapa demikian? Yap, karena pertumbuhan anak merupakan masa keemasan yang menjadi perhatian utama bagi semua orang tua supaya bisa mengoptimalkan berbagai aspek yang dibutuhkan untuk masa depan anak.
Mengenal istilah faltering growth ini menunjukkan adanya keterlambatan pertumbuhan berat badan anak yang ngga sesuai dengan kurva pertumbuhan seusianya. Kondisi seperti ini umum dijumpai pada bayi dan anak usia pra-sekolah.

Mengenal faltering growth
Faltering growth atau gagal berkembang merupakan suatu kondisi ketika tren garis pada kurva pertumbuhan menunjukkan rendahnya peningkatan berat badan anak berdasarkan usia dan jenis kelaminnya. Hal ini disebabkan oleh faktor organik (infeksi, kelainan jantung, bibir sumbing) dan non-organik (asupan zat gizi yang kurang adekuat dan faktor susah makan pada anak). Dampak jangka panjang yang berisiko pada faltering growth, seperti wasted, stunted, dan underweight yang kemungkinan bisa menjadi penyakit degeneratif saat dewasa.
Berat badan anak bisa dipantau melalui grafik standar dari World Organization Health (WHO) dan buku kesehatan ibu dan anak (KIA) yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Seorang anak disebut gagal tumbuh bila kenaikan berat badan di bawah percentil 5 atau merujuk pada tren berat badan yang dipantau selama tiga bulan.
Strategi mengatasi faltering growth
Jika orang tua menemukan ketidaksesuaian tinggi atau berat badan anak dengan angka yang seharusnya, maka dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak, dan melibatkan tenaga kesehatan lain, seperti ahli gizi. Pentingnya asesmen dan analisis lebih lanjut mengenai hal ini dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan yang ada pada anak.

Perlunya menyusun strategi untuk memudahkan manajemen perbaikan pola makan anak berdasarkan hasil pemeriksaan. Berikut cara yang bisa dicoba dan dilakukan (1) penetapan waktu makan; (2) memberi penguatan anak untuk menyuap dan menghabiskan makanannya; (3) makan bersama keluarga; dan (4) mengurangi adanya hukuman atau pemaksaan.
Sahabat Sehat, kecukupan zat gizi baik pada ibu yang sedang hamil maupun anak merupakan bagian tak terpisahkan dalam pemenuhan zat gizi dalam waktu tertentu. Zat gizi memberikan pengaruh jangka pendek yang penting dalam perkembangan otak, tumbuh kembang dan pembentukan massa otot tubuh serta proses metabolisme glukosa, lipid dan protein.
Sebaliknya, bila asupan zat gizi ngga optimal, maka efek jangka panjang yang bisa terjadi, yaitu munculnya gangguan kognitif, sistem imunitas yang baik, dan sindrom metabolik. Jangan lupa untuk selalu memantau indikator pertumbuhan pada bayi maupun anak ya, Sahabat Sehat!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
