Halo Sahabat Sehat! Penyandang disabilitas merupakan sekelompok orang yang membutuhkan perhatian khusus. Kehadirannya sering tak dianggap, dipandang lemah, dan tak berdaya akibat keterbatasan yang dimiliki. Meski demikian, penyandang disabilitas juga memiliki hak sebagai manusia yang harus dipenuhi dan dijamin, yakni hak hidup, hak mendapatkan pendidikan dan pekerjaan, serta kemudahan mengakses ruang publik.
Penyandang disabilitas sangat beragam, mulai dari keterbatasan secara fisik, intelektual, mental, dan sensorik dalam waktu yang lama. Tunanetra adalah salah satu contohnya, mengalami hambatan dan kesulitan akibat gangguan atau kelainan pada indra penglihatannya. Lantas, apa yang bisa membantu tunanetra dalam berinteraksi dengan lingkungannya?

Mengenal huruf Braille bagi tunanetra
Braille merupakan suatu sistem dalam bentuk titik-titik yang timbul, bisa dibaca melalui bantuan jari tangan oleh tunanetra. Kode ini bukanlah bahasa, melainkan sebuah simbol yang bisa digunakan sebagai bahan bacaan bagi tunanetra.
Simbol ini dibentuk dalam satuan ruang yang dikenal dengan sel Braille, terdiri dari enam titik yang disusun dalam dua baris pararel yang masing-masing memiliki tiga titik. Satu sel bisa digunakan untuk mewakili huruf alfabet, angka, tanda baca, hingga seluruh kata.
Braille tentu sangat memudahkan tunanetra untuk mengakses literasi melalui sentuhan saat membaca atau menulis. Rangkaian huruf ini membutuhkan ruang yang lebih banyak pada lembaran setiap halamannya dibanding sistem biasa.
Melalui Braille, tunanetra akan lebih mudah mendapatkan informasi dan meningkatkan pengetahuan mengenai banyak hal. Kedudukan huruf ini di ranah umum menjadi penting, karena peranannya yang vital sebagai media komunikasi tunanetra.

Perangkat Braille lebih modern
Seiring berkembangnya teknologi dalam industri komputer, huruf Braille sudah tersedia dalam bentuk perangkat lunak dan perangkat braille elektronik portabel. Perangkat ini memungkinkan pengguna, yakni tunanetra untuk menyimpan dan mengedit tulisannya sendiri, kemudian menampilakannya kembali baik secara verbal maupun taktual. Hasil yang bisa diperoleh adalah salinan cetak melalui Braille embrosser yang digerakkan oleh komputer bagian desktop.
Di negara maju yang telah banyak menyediakan komputer di sekolah, memanfaatkan perangkat ini yang umumnya untuk anak-anak belajar Braille contractions serta mengeja tiap huruf sehingga tunanetra bisa mengeja dan menulis menggunakan keyboard.
Penggunaan perangkat digital sangat bergantung pada masing individu. Bagi tunanetra dewasa lebih memilih memanfaatkan keberadaan teknologi, seperti pembesar video, pembaca layar, atau perekam. Ini karena ngga semua tunanetra bisa menggunakan Braille.
Indonesia telah memiliki majalah berformat Braille, yakni “Gema Braille” yang dibuat oleh Kementerian Sosial melalui Balai Literasi Braille Indonesia (BLBI). Braille telah menjadi sarana komunikasi efektif dan tentunya membuat tunanetra semakin “melek” akan literasi.
Dukung dan semarakkan gerakan literasi, yuk!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
