Apa sih, Helicopter Parenting?

Teman Sehat, pernah ngga sih dengar istilah helicopter parenting? Yap, istilah ini pertama kali dipakai dalam buku Parents Teenagers karya Haim Ginott. Helicopter parenting adalah pola asuh orang tua yang memperhatikan dan mengendalikan kehidupan anaknya berlebihan.

Orang tua ingin terlibat dalam setiap kegiatan, keputusan, bahkan tanggung jawab yang seharusnya bisa ditentukan dan dijalankan sendiri oleh si kecil. Terutama, saat si kecil mulai memasuki masa remaja dan dewasa muda.

Ngga bisa dipungkiri, bahwa setiap orang tua memang ingin memberikan yang terbaik buat anaknya. Tapi, kalau hal ini dilakukan dengan cara yang berlebihan maka bisa berdampak buruk buat perkembangan si kecil.

Apa ya, dampaknya buat si kecil?

Walaupun orang tua memiliki niat baik buat mengasuh si kecil, tapi pola asuh ini justru bisa menjadi “bumerang” bagi orang tua. Anak yang orang tuanya menerapkan pola asuh helicopter parenting, akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri dan kurang berharga. Hal ini bisa disebabkan kurangnya kepercayaan orang tua pada anak dalam menjalankan tugasnya.

Perhatian, pengawasan, dan bantuan yang berlebihan dari orang tua, akan menyebabkan si kecil tumbuh menjadi pribadi yang kurang mandiri dalam melakukan segala sesuatu, termasuk dalam pengambilan keputusan. Si kecil juga akan merasa kurang kompeten dalam mengatasi masalah, termasuk mengatasi kesedihan, kekecewaan, dan tekanan dalam hidup. Hal ini berkaitan dengan minimnya usaha yang berasal dari diri sendiri, karena orang tuanya selalu berperan besar dalam kehidupannya.

Kenapa ya, orang tua cenderung melakukan pola asuh ini?

Sadar atau ngga, ada beberapa alasan yang menyebabkan orang tua cenderung menerapkan pola asuh ini. Berikut ini beberapa alasan yang menyebabkan orang tua memilih pola asuh helicopter parenting:

  1. Perasaan takut dan cemas, jika si kecil mengulang kejadian buruk yang menimpa orang tuanya dulu.
  2. Perasaan terabaikan, ngga dicintai, dan kekecewaan di masa lalu membuat orang tua ingin memperbaiki keadaannya.
  3. Penerapan pola asuh dari teman sebaya, membuat orang tua merasa perlu melakukan hal yang sama kepada anak mereka.

Gimana ya, agar orang tua bisa menghindari hal ini?

Menurut Michael Ungar, inti dari pola asuh adalah menjadikan seorang anak sebagai pribadi yang mampu melakukan dan bertanggung jawab terhadap tugasnya. Orang tua juga harus memberikan kesempatan kepada anak buat berjuang dengan usahanya sendiri, dan membiarkan anak mengalami kekecewaan atau kegagalan, sebagai bentuk proses kehidupan demi perkembangan kualitas diri.

Sebaiknya, orang tua memberikan kebebasan kepada anak dalam membuat pilihan yang baik untuk diri mereka sendiri, dengan tetap memberikan saran dan sesekali memberikan bantuan. Orang tua harus dapat menyingkirkan ego mereka untuk selalu andil dalam kehidupan anak. Hal ini akan lebih baik bagi perkembangan anak, dibandingkan dengan membuat mereka terus bergantung kepada orang tua atau orang di sekitarnya dalam menyelesaikan masalah atau membuat keputusan.

Nah, sekarang kamu udah tau kan,  helicopter parenting itu apa? Kalau kamu paham pola asuh ini, diharapkan para orang tua dan calon orang tua, bisa lebih cermat dalam menjalankan pola asuh buat perkembangan si kecil.

Editor & Proofreader : Firda Shabrina, STP

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *