Teman Sehat, ternyata salah satu masalah kesehatan di Indonesia dengan jumlah kejadian yang masih tinggi, yaitu infeksi cacingan. Mungkin terlihat sepele, tapi menurut data yang dilansir oleh World Health Organization (WHO) prevalensi (kemungkinan) terjadinya penyakit ini di negara berkembang sangat tinggi. Kira-kira, apa ya, penyebabnya? Yuk, simak penjelasannya di sini!
Mengapa cacingan identik dengan kekurangan zat gizi?
Penyakit cacingan merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing yang hidup sebagai parasit di dalam tubuh manusia, loh! Siapa pun bisa terinfeksi penyakit ini, ketika larva (telur) cacing ini masuk ke dalam tubuh. Kemudian telur akan berubah menjadi cacing dewasa dan bertelur di dalam tubuh. Inilah yang dikhawatirkan terjadi pada anak-anak.

Yap, parasit ini akan mengonsumsi zat gizi yang seharusnya oleh tubuh si kecil. Hal inilah yang menyebabkan anak-anak berisiko malnutrisi (kekurangan zat gizi), sehingga menyebabkan keterlambatan dalam tumbuh kembang anak. Parasit ini, ternyata bisa merusak jaringan organ tubuh yang menjadi tempat tinggalnya, sehingga menyebabkan diare, sakit perut, anemia (kekurangan darah), dan masalah kesehatan lainnya.
Kira-kira, apa penyebabnya?

Ada beberapa faktor yang bisa memengaruhinya, seperti iklim (khususnya tropis), perilaku yang kurang sehat (buang air besar sembarangan, bermain tanpa alas kaki, dan sebagainya), hingga pendidikan serta sanitasi makanan dan sumber air. Beberapa faktor inilah yang menyebabkan, penyakit ini rentan dialami oleh negara berkembang yang masih mengalami beberapa masalah ini.
Lalu, bagaimana pengobatannya?
Albenazol dan mebendazole merupakan obat pilihan, yang bisa kamu gunakan untuk mencegah penyakit ini. Dosisnya untuk albenazol yaitu 400 mg/oral, bagi dewasa dan anak usia >2 tahun. Sedangkan untuk usia 12-24 bulan, WHO merekomendasikan sebanyak 200 mg.

Dosis mebendazole bagi dewasa dan anak usia >2 tahun yaitu 500 mg. Kedua obat ini, diberikan dosis tunggal oleh petugas kesehatan. Selain itu, obat jenis pyrantel pamoat juga bisa digunakan untuk penyakit ini, dengan dosis 10-11 mg/kg BB/oral dengan dosis maksimum 1 g.
Tindakan operasi diperlukan, jika keadaan darurat karena cacing dewasa menyumbat saluran empedu dan apendiks (usus buntu). Pengobatan ini harus disertai dengan perubahan perilaku hidup bersih, sehat, dan perbaikan sanitasi, ya!
Nah, Teman Sehat inilah beberapa informasi mengenai penyakit cacingan. Tetap jaga kesehatan dan kebersihan, ya! Agar kamu terhindar dari penyakit ini. Ingat, jangan anggap sepele, penyakit ini, karena bisa berakibat fatal kalau ngga ditangani serius. Jangan lupa bagikan artikel ini ke orang terdekatmu, ya!
Editor & Proofreader: Firda Shabrina, STP
