Salam Sehat! Sembelit atau konstipasi menjadi kondisi gangguan kesehatan saluran cerna yang umum di masyarakat. Tapi, ternyata kondisi konstipasi juga dapat berhubungan dengan munculnya gejala irritable bowel syndrome (IBS), loh! Kondisi demikian disebut sebagai IBS-C (IBS dengan konstipasi). Sahabat Sehat, penting untuk tahu serba-serbi tentang IBS-C. Yuk, simak ulasan berikut!
IBS dengan konstipasi (constipation) (IBS-C)
IBS merupakan kondisi iritasi yang umumnya menyerang usus besar. IBS dengan konstipasi (IBS-C) merujuk pada kondisi IBS yang didominasi dengan munculnya konstipasi. Penderita IBS-C mengalami sembelit lebih sering dibandingkan dengan diare. Beberapa gejala IBS dengan konstipasi diantaranya yaitu sakit perut, kembung, dan perubahan kebiasaan buang air besar. IBS-C berbeda dengan sembelit kronis ya, Sahabat Sehat. Pasien IBS sering mengalami sakit perut dan kram. Sebaliknya, penderita sembelit kronis biasanya tidak mengalaminya.

Gejala IBS-C
Gejala utama dari penderita IBS-C umumnya yaitu sembelit. Gejala yang mengikuti kondisi sembelit diantaranya, yaitu mengejan, kembung, jarang buang air besar, sakit perut dan rasa tidak nyaman, buang air besar yang keras dan nyeri, rasa yang tidak nyaman seolah-olah buang air besar tidak lengkap, serta kebutuhan untuk mengubah posisi atau mendorong bagian tubuh untuk buang air besar. Seseorang yang mengalmai IBS-C juga bisa mengalami masalah kesehatan sekunder, seperti wasir.
Faktor Penyebab dan Risiko
Penderita IBS-C dapat bermula dari infeksi usus, seperti keracunan makanan. Juga, akibat berkurangnya motilitas. Motilitas menggambarkan gerakan mendorong bahan sisa pencernaan sepanjang saluran cerna. Motilitas yang rendah menyebabkan pencernaan menjadi lambat dan menimbulkan masalah buang air besar.
Selain itu, kondisi ini juga bisa disebabkan oleh disbiosis dan pertumbuhan berlebih bakteri usus kecil. Disbiosis terjadi saat flora usus tidak seimbang antara mikroorganisme baik dan patogen. Sedangkan pertumbuhan berlebih bakteri usus kecil terjadi saat bakteri usus besar berpindah ke usus kecil dan tumbuh dan berkembang di sana. Pertumbuhan mikroorganisme yang pesat di dalam usus halus berakibat pada munculnya kondisi kembung dan gejala pencernaan lainnya.
Hipersensitivitas visceral juga menjadi gejala kuat pada munculnya IBS. Kondisi ini menunjukkan peningkatan persepsi usus terhadap stimulus. Sahabat sehat yang sering terpapar stres juga berisiko pada gangguan pencernaan. Stres berlebih akan memperburuk kondisi IBS dengan konstipasi (IBS-C).

Selain beberapa hal yang disebebkan di atas, konsumsi minuman beralkohol dan merokok juga menjadi faktor terjadinya IBS-C. Pasalnya, IBS lebih sering diderita oleh masyarakat yang mengonsumsi alkohol dan merokok dibandingkan dengan orang yang tidak minum alkohol dan tidak merokok.
Sahabat Sehat, jika kamu mengalami gejala di atas tentunya masih perlu untuk berkonsultasi dengan ahli, ya! Tidak baik, jika kamu langsung menyimpulkan bahwa kamu menderita IBS dengan konstipasi (IBS-C). Terdapat banyak pengujian yang diperlukan untuk dokter memastikan kondisi kamu berkorelasi dengan IBS-C atau tidak. So, jangan malas memeriksakan kondisi kesehatanmu ke fasilitas kesehatan. Salam Sehat!
