
Sahabat Sehat, kabar mengkhawatirkan datang dari Inggris. Pada 8 Desember 2025, otoritas kesehatan setempat mengonfirmasi penemuan varian mpox ‘rekombinan’ baru. Varian ini ditemukan pada seorang pria yang baru kembali dari Asia. Temuan ini menjadi pengingat bahwa ancaman mpox atau yang juga dikenal sebagai cacar monyet masih belum berakhir.
Mpox bukanlah virus baru
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kasus mpox telah telah terjadi di beberapa negara Asia sepanjang tahun 2025, termasuk di Thailand, Malaysia, dan Jepang. Kasus di Jepang ditemukan pada seseorang yang baru saja kembali dari salah satu negara Afrika. Sedangkan di Indonesia, ada 88 kasus Mpox yang terkonfirmasi selama tahun 2022 hingga 2024. Kasusnya tersebar di Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kepulauan Riau, dan DI Yogyakarta.
Sejak pertama kali diidentifikasi pada monyet di Denmark (1958) dan manusia di Kongo (1970), sirkulasi virus ini meningkat drastis setelah dunia berhasil memberantas cacar (smallpox) pada tahun 1980. Pada Agustus 2024, WHO sempat mendeklarasikan Status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (PHEIC) akibat lonjakan kasus mpox secara global. Di Kongo, terdapat lebih dari 20.000 kasus hanya dalam 10 bulan pertama tahun 2025. Meskipun begitu, status daruratnya telah dicabut pada September 2025.
Ditemukannya varian baru mpox
Sayangnya, keberadaan virus ini ngga pernah hilang sepenuhnya. Dalam kasus mpox terbaru di Inggris, yang terjadi adalah peleburan genetik dari dua virus mpox, yaitu Clade Ib dan Clade IIb, yang membentuk strain hibrida baru.
Dr. Jesse Dunning dari Institut Ilmu Pandemi Universitas Oxford menjelaskan, peleburan seperti ini paling mungkin terjadi ketika seseorang terinfeksi dua clade secara bersamaan. Meskipun varian baru ini belum terbukti lebih mematikan, para ilmuwan menegaskan bahwa setiap evolusi virus berpotensi mengubah cara penularan dan tingkat keparahannya.
Menanggapi perkembangan ini, Katy Sinka, Kepala Infeksi Menular Seksual dari UK Health Security Agency (UKHSA), dan para ahli epidemiologi lainnya menekankan masih perlunya penelitian lebih lanjut untuk mendalami bagaimana virus mpox bermutasi secara global. Mereka mengingatkan, virus mpox dan keluarga “poxvirus” yang memang dikenal memiliki kemampuan alami untuk bermutasi dan menciptakan versi baru dari diri mereka sendiri.

Bagaimana mencegah penularan mpox?
Penularan mpox sendiri terjadi melalui kontak fisik erat, seperti kontak kulit, hubungan seksual, droplet pernapasan, atau menyentuh benda yang terkontaminasi. Selain menghindari kontak dengan penderita, hingga saat ini upaya pencegahan terbaik adalah melalui vaksinasi.
Di Indonesia sendiri, BPOM telah mengonfirmasi penggunaan vaksin mpox untuk kelompok berisiko tinggi dengan mengandalkan vaksin Modified Vaccinia Ankara-Bavarian Nordic (MVA-BN). Vaksin ini adalah vaksin turunan cacar (smallpox) generasi ketiga yang dirancang secara non-replicating, artinya ia tidak dapat berkembang biak di dalam sel manusia, sehingga lebih aman.
Sahabat Sehat, hingga saat ini belum ditemukan kasus mpox terbaru di Indonesia. Jadi, ngga perlu panik dan tetap waspada akan risiko penularannya. Segera lakukan vaksinasi bila kamu termasuk dalam kelompok yang berisiko tinggi.
BBC. 2025. New mpox strain identified in England
https://www.bbc.com/news/articles/cm2087g0z9po
Diakses pada 10 Desember 2025
DW. 2025. New strain of mpox virus: What you need to know
https://www.dw.com/en/new-strain-of-mpox-virus-what-you-need-to-know/a-75077995
Diakses pada 10 Desember 2025
Tribunnews.com. 2024. Vaksin Mpox Sudah Disetujui oleh WHO dan BPOM, Dapat Diberikan Saat Situasi Darurat.
https://www.tribunnews.com/kesehatan/2024/09/15/vaksin-mpox-sudah-disetujui-oleh-who-dan-bpom-dapat-diberikan-saat-situasi-darurat?page=all.
Diakses pada 10 Desember 2025
Tempo. 2024. Kemenkes Utamakan Vaksinasi Mpox untuk Kelompok Resiko Tinggi, Siapa Saja?
https://www.tempo.co/lingkungan/kemenkes-utamakan-vaksinasi-mpox-untuk-kelompok-resiko-tinggi-siapa-saja--14947
Diakses pada 10 Desember 2025

