Teman Sehat, terdapat 3 jenis vaksin Covid-19 yang telah masuk ke Indonesia, diantaranya AstraZeneca, Sinovac, dan Sinopharm. AstraZeneca dan Sinovac telah banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia, sedangkan Sinopharm cenderung masih baru. Kira-kira apa saja perbedaan antara AstraZeneca dan Sinovac? Yuk, simak penjelasannya di sini!
Gambaran umum AstraZeneca dan Sinovac
AstraZeneca mempunyai nama resmi AZD1222 yang berasal dari Inggris dengan pemberian dosis 2 kali penyuntikan berselang 28 hari. Vaksin ini telah diuji di U.S dan International Clinical Trials. AstraZeneca didasarkan pada adenovirus simpanse yang telah dimodifikasi. Masing-masing dosisnya memiliki harga yang relatif lebih rendah dibandingkan jenis vaksin lainnya sehingga cocok didistribusikan ke negara-negara berkembang.

Sinovac mempunyai nama resmi CoronaVac serta berasal dari Cina dengan pemberian dosis 2 kali berselang 21 hari. Sinovac telah diuji di berbagai laboratorium internasional. Sinovac merupakan vaksin Covid-19 yang datang pertama kali di Indonesia kemudian disuntikkan ke Presiden Joko Widodo. Berbeda dengan AstraZeneca, Sinovac menggunakan inactivated virus yaitu virus yang telah dilemahkan atau diinaktivasi sehingga mampu memancing respon imun tubuh.
Efektivitas AstraZeneca dan Sinovac
Faktanya, sampai saat ini AstraZeneca dan Sinovac masih diteliti lebih lanjut sehingga belum bisa dipastikan secara akurat persentase efektivitasnya.
AstraZeneca mengklaim efektivitas vaksin sebesar 70%, namun di lain waktu terungkap efektivitasnya hanya sebesar 62% pada orang yang menerima 2 dosis penuh, dan hampir 90% bagi mereka yang disuntik 1,5 atau 1 dosis penuh. Oleh karena itu, AstraZeneca mengambil rata-rata persentase yaitu sekitar 76%.
Hasil uji vaksin Sinovac di Chili yang dikeluarkan oleh British Medical Journal menunjukkan tingkat efektivitasnya hanya 56,5% setelah seseorang mendapatkan dosis penuh.
Efek samping AstraZeneca dan Sinovac
Secara umum, efek samping vaksin Covid-19 sama yaitu sakit dan nyeri di sekitar daerah suntikan.

Di sisi lain, efek samping AstraZeneca banyak menuai pembicaraan karena beberapa orang mengalami pembekuan darah setelah divaksin. Beberapa negara memutuskan untuk menghentikan pemberian AstraZeneca setelah muncul kasus tersebut. Meskipun pada akhirnya ditarik kesimpulan bahwa penggumpalan darah memang dapat terjadi, namun dengan perbandingan yang sangat langka, yaitu 86 orang dari 25 juta orang.
Lalu program vaksin AstraZeneca tetap dilanjutkan, tetapi ada negara yang membatasi penggunaannya bagi lansia. Selain penggumpalan darah, berikut ini beberapa efek samping AstraZeneca yang jarang terjadi:
- Inflamasi di bagian sumsum tulang belakang
- Anemia hemolitik
- Demam tinggi
Sementara efek samping secara umum diantaranya:
- Nyeri dan hangat di bekas suntikan
- Kelelahan
- Sakit kepala
- Nyeri otot
- Menggigil
Saat fase uji coba, Sinovac sempat menimbulkan efek samping reaksi alergi kulit dan munculnya bekas luka. Namun, bisa diobati dan sembuh dalam 3 hari. Berikut ini beberapa efek samping Sinovac:
- Nyeri di sekitar bekas suntikan
- Kelelahan
- Diare
- Otot lemas
Nah, itu dia perbedaan AstraZeneca dan Sinovac. Pada dasarnya, efektivitas dan reaksi efek samping tergantung kondisi tubuh masing-masing individu. Kamu perlu tahu, jenis-jenis vaksin yang telah masuk ke Indonesia telah dijamin kemanannya. Share informasi ini ke orang-orang sekitar kamu, ya!

