Sahabat Sehat, selama masa pandemi COVID-19, menjaga kebersihan diri dan lingkungan merupakan sebuah keharusan, termasuk keamanan makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Nah, berkaitan dengan keamanan pangan, faktor yang ngga bisa dipungkiri yaitu keberadaan mikroba pada makanan. Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya pencegahan yang dilakukan untuk menghindari terjadinya masalah kesehatan akibat adanya mikroba jahat. Salah satunya dengan mengetahui FATTOM. Yuk, simak penjelasannya!
Mengenal Foodborne Illness Akibat Mikroba

Sahabat Sehat, tahukah kamu bahwa ada penyakit yang berasal dari pangan? Yap, penyakit akibat konsumsi pangan dikenal sebagai foodborne illness. Biasanya, penyakit ini disebabkan oleh keberadaan mikroba patogen yang merugikan. Contoh mikroba yang perlu diwaspadai antara lain virus, bakteri, parasit, dan kapang.
Keberadaan mikroba penyebab foodborne illness bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti diare, infeksi, keracunan, dan masalah lainnya. Tapi ngga perlu khawatir, kamu bisa mencegah masalah tersebut dengan memahami konsep FATTOM. Check it out!
Apa itu FATTOM?
FATTOM merupakan singkatan dari faktor-faktor pertumbuhan mikroba yang terdiri dari Food (makanan/gizi), Acidity (keasaman), Time (Waktu), Temperature (suhu), Oxygen, dan Moisture (kelembaban).
Food: Hal ini berkaitan dengan ketersediaan makanan atau zat gizi yang diperlukan mikroba untuk tumbuh, contohnya seperti protein, karbohidrat, dan lemak. Biasanya makanan dengan kandungan gizi yang lengkap lebih rentan ditumbuhi mikroba.
Acidity: Masing-masing mikroba memiliki tingkat keasaman optimal yang berbeda-beda supaya bisa hidup. Biasanya hanya sedikit mikroba yang bisa hidup pada makanan dengan tingkat keasaman yang tinggi atau (pH) rendah.
Time: Waktu yang dibutuhkan oleh mikroba untuk berkembang biak juga memengaruhi penyakit yang akan ditimbulkan. Semakin cepat waktu berkembang biak, maka semakin cepat pula jumlah mikroba tersebut melewati batas aman.
Temperature: Suhu juga memengaruhi pertumbuhan mikroba, loh! Biasanya, mikroba ngga bisa hidup pada suhu yang tinggi maupun rendah. Tapi ada juga mikroba yang mampu bertahan pada suhu ekstrem.
Oxygen: Beberapa jenis mikroba dapat hidup dengan keberadaan oksigen maupun tanpa oksigen. Jadi, untuk menghindari cemaran kamu perlu mengetahui karakteristik mikroba tersebut.
Moisture: Kondisi makanan yang lembab bisa memicu tumbuhnya mikroba dengan cepat. Oleh karena itu, makanan yang kering biasanya memiliki umur simpan yang lebih lama.

Mengapa FATTOM penting?
Dengan mengetahui FATTOM dari mikroba secara spesifik, kamu bisa melakukan upaya pengendalian untuk meminimalisir foodborne illness, loh! Contoh langkah paling mudah yang dapat kamu lakukan yaitu melakukan pengendalian terhadap suhu, waktu, keasaman, keberadaan oksigen, dan kelembaban.
Supaya mikroba enggan untuk tumbuh dalam pangan yang kamu simpan, kamu perlu menciptakan kondisi lingkungan yang ngga sesuai dengan kondisi optimal pertumbuhan mikroba tersebut. Dengan begitu pangan bisa lebih awet dan kamu juga terhindar dari penyakit saat mengonsumsinya.
Nah, bagaimana pendapat Sahabat Sehat tentang konsep FATTOM utnuk mencegah pertumbuhan mikroba dalam produk pangan? Yuk, bagikan pendapat kamu di kolom komentar. Jangan lupa sebarkan informasi ini juga, ya!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Terima kasih sudah sharing
Thanks infonya!
jadi paham deh FATTOM, Tq Klara
Thanks for information!!
Tq infonya