Dopamine Dressing, Tingkatkan Mood Lewat Fashion

Hai, Sahabat Sehat! Pernahkah mendengar istilah dopamine dressing? Istilah ini dianggap sebagai fashion “sehat” yang sangat berguna utamanya di era pandemi Covid-19 dalam meningkatkan mood. Penasaran kenapa dopamine dressing bisa mempengaruhi kesehatan? Yuk, simak ulasan di bawah.

mengenal dopamine dressing
Foto : Pexel.com

Mengenal Dopamine Dressing

Dopamin disebut sebagai hormon bahagia, pembawa pesan antar neuron dan berpengaruh kuat pada mood, perhatian dan motivasi. Semakin tinggi level dopamin, semakin baik dan bersemangat seseorang, dan sebaliknya.

Lalu, bagaimana dnegan dopamine dressing? Dikutip dari Womens Health, psikolog fashion Amerika Serikat, Dawnn Karen menerangkan dopamine dressing didasarkan pada pemilihan aktif baju yang dikenakan guna mendatangkan sukacita, menggambarkan korelasi langsung antara rasa sartorial (berkenaan dengan jahitan, pakaian atau model pakaian) dan tingkat kebahagiaan pemakai.

Lebih lanjut Dawnn Karen menjelaskan bahwa “Mood enhancement dressing dimulai dari internal, yakni sikap, dan dilanjutkan ke eksternal berupa pakaian, sehingga menciptakan keselarasan antara internal dan eksternal atau sikap dan pakaian”. Maka dopamine dressing bisa juga disimpulkan sebagai gaya berpakaian yang mencerminkan style unik dan pencerminan diri seseorang.

dopamine fashion
Foto : Pexel.com

Cara kerja dopamine dressing

Dopamine dressing diasosiasikan sebagai perasaan bahagia yang diperoleh dari pakaian. Warna dianggap menjadi faktor penting di dalamnya. Berdasarkan psikologi warna, secara sadar atau tidak, warna bisa memicu emosi, mengundang reaksi dan mengubah mode berpikir. Oleh karena itu, meskipun ngga ada panduan tertulis mengenai pakaian yang bsia digolongkan sebagai dopamine dressing. Pakaian dengan warna yang semakin cerah dan terang mampu memberikan efek sukacita yang semakin tinggi.

Studi mengenai pakaian dan pengaruhnya terhadap perasaan pemakainya dilakukan oleh Adam dan Galinsky tahun 2012. Dalam studi tersebut, partisipan diminta mengenakan jas dengan arti simbolik yang melekat di pakaian, 1 kelompok mengenakan jas dokter dan 1 kelompok lainnya menggunakan jas pelukis. Hasil menunjukkan bahwa partisipan yang mengenakan jas dokter merasa lebih percaya diri dan kemampuan menyelesaikan tugasnya meningkat. Hal ini dihubungkan dengan jas dokter yang memiliki arti simbolik dengan kedudukannya sebagai dokter.

Warna-warna mood booster

Berdasarkan psikologi warna, setiap warna memiliki efek psikologis berbeda. Nah, berikut ragam warna yang bisa digunakan dalam dopamine dressing kamu:

1) Kuning
Kuning diasosiasikan dengan kebahagiaan, kegembiraan, dan energi. Kuning memberikan efek hangat, meningkatkan rasa senang dan menstimulus aktivitas mental.

2) Pink
Pink merepresentasikan cinta tulus dan diasosiakan dengan masa muda, kelembutan, harapan, dan optimisme.

3) Merah
Merah ngga hanya diasosiasikan dengan sinyal bahaya dan peringatan, tetapi juga enerji, kekuatan, dan semangat. Warna merah meningkatkan kecepatan metabolisme, mempercepat detak jantung dan menaikkan tekanan darah.

4) Oranye
Oranye merupakan perpaduan enerji merah dan kegembiraan kuning. Ini diasosiasikan dengan matahari terbit dan kegembiraan serta mewakili antusiasme, kreativitas, kesuksesan, dan stimulus.

5) Biru
Berlawanan dengan warna primer merah, biru diasosiasikan dengan ketenangan, simpati dan spiritual dan merepresentasikan refleksi internal diri manusia. Berbeda efeknya dengan merah, biru menurunkan kecepatan detak jantung bahkan memperlambat metabolisme.

Sahabat Sehat, setelah menilik efek warna dan dopamine dressing pada mood, ngga ada salahnya mempertimbangkan warna tersebut pada fashion-mu sehingga meski  #DiRumahAja kamu bisa tetap ceria dan tersenyum.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Lilic, N. 2021. Dopamine dressing is a real thing and we’re all for it. https://www.womenshealth.com.au/dopamine-dressing-is-a-real-thing-and-we-re-all-for-it. Diakses 11 Juli 2021.

Adam, H., Galinsky, A.D. 2012. Enclothed cognition. Journal of Experimental Social Psychology 48(4) : 918-925.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.