Toilet Training untuk Anak Prasekolah

Hai Sahabat Sehat! Kebersihan adalah hal yang sangat penting dikenalkan oleh anak. Bagaimana ia bisa menjaga lingkungan dan dirinya sendiri perlu diajarkan oleh orang tua sejak dini. Termasuk dalam hal penggunaan toilet yakni buang air besar dan kecil. Apa saja sih yang perlu disiapkan untuk melakukan toilet training pada anak usia prasekolah?

Persiapan toilet training

Kemampuan anak dalam buang air besar (BAB) biasanya lebih dulu mucul sebelum kemampuan buang air kecil (BAK). Ini karena BAB memiliki keteraturan dan sensasi yang lebih besar daripada BAK, sehingga lebih mudah dirasakan oleh anak.

toilet training untuk anak
Foto: Freepik.com

Melatih anak prasekolah dalam mengontrol BAB dan BAK membutuhkan persiapan bagi orang tua maupun dari anak itu sendiri. Kesiapan ini meliputi, kesiapan fisik, psikologis dan intelektual. Persiapan ini perlu dipenuhi dengan baik supaya nantinya anak bisa mandiri saat melakukan BAB dan BAK di toilet.

Kesiapan fisik, berarti anak sudah kuat dan mampu secara fisik untuk menggunakan toilet dan mengontrol keiginan untuk BAK dan BAB. Sedangkan, kesiapan psikologis bisa dilakukan oleh orang tua dengan memberikan suasana yang nyaman dan aman ketika anak ingin dan sedang menggunakan toilet. Terakhir adalah kesiapan intelektual anak, yakni anak diharapkan sudah mampu memahami dan menerima toilet training yang diajarkan oleh orang tuanya untuk mengontrol saat ia hendak BAB dan BAK.

Apa bisa ngga berhasil?

Meskipun sudah melakukan persiapan, kemungkinan toilet training belum memberikan hasil yang diharapkan masih bisa terjadi. Contoh yang paling umum, adanya perlakuan atau peraturan yang ketat dari orang tua kepada anak ketika melakukan toilet training justru bisa mengganggu kepribadian anak kedepannya saat ingin BAK atau BAB. Misalnya, anak jadi takut menunjukkan bahwa ia ingin ke toilet karena orang tuanya sering memarahi saat ia ngga bisa mengontrol keinginan untuk BAB atau BAK.

Sebaliknya, dalam buku “Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I” oleh Hidayat, sikap orang tua yang terlalu santai dalam memberikan aturan toilet training, bisa membuat anak menjadi lebih ceroboh, terkesan menyepelekan, dan lebih emosional dalam melakukan kegiatan tersebut sehari-hari.

Ketidakberhasilan juga bisa terjadi akibat pelatihan diberikan ketika usia anak belum cukup. Hal ini diungkap dalam Iranian Journal of Pediatrics, melakukan toilet training pada anak dengan usia yang tidak tepat akan berdampak pada timbulnya berbagai masalah, seperti anak justru menolak toileting, mengalami sembelit, infeksi saluran kemih, hingga disfungsi berkemih.

toilet training
Foto: Pexels.com

Faktor Kunci Keberhasilan Toilet Training

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa salah satu cara supaya toilet training maksimal adalah kesiapan intelektual, ini bukan hanya berlaku bagi anak, namun juga bagi orang tua yang akan melatih. Orang tua diharapkan selalu terbuka terhadap informasi mengenai toilet training dan ngga hanya terpatok pada satu cara.

Faktor selanjutnya adalah lingkungan yang memiliki peranan dalam membentuk karakter dan kebiasaan. Jadi diharapkan orang yang berada di sekitar anak, seperti orang tua, saudara, atau orang dewasa lainnya dapat memberi contoh yang baik dalam menyukseskan toilet training.

Sekian informasi mengenai toilet training pada anak. Semoga informasi ini bisa membantu Sahabat Sehat, ya!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Hidayat, A. A. (2005). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. Jakarta: Salemba Medika.

Hockenbery, M. J., Wilson, D., & Wong, D. L. (2012). Wong’s essential of pediatric nursing 9: Wong’s essential of pediatric

Hooman, N., Safaii, A., Valavi, E., & AminiAlavijeh, Z. (2013). Toilet training in Iranian children: a cross-sectional study. Iranian Journal of Pediatrics, 23(2), 154.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.