Pentingnya Training Toilet bagi Si Kecil

Tahukah kamu? Toileting atau training toilet menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua untuk membantu si kecil agar mandiri mengurus keperluan buang air kecil dan besar. Mengajarkan toileting atau biasa disebut toilet training pada si kecil harus bertahap dan jangan memaksa jika ia belum siap. Mau tahu gimana caranya? Yuk cek penjelasannya dibawah ini!

Kapan waktu yang tepat?

Penyampaian bagaimana rasa ingin buang air dan tanamkan kebiasaan “kalo mau pipis harus di toilet ya,” merupakan tahap awal yang bisa kamu lakukan pada si kecil. Melatih cara melepas celana lalu memakainya kembali setelah buang air, membersihkan tubuh dan toilet setelah buang air, juga mencuci tangan bisa disampaikan secara alami.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, ngga ada usia pasti untuk memulai training toilet. Namun, apabila dilakukan terlalu dini bisa menimbulkan masalah seperti sembelit, takut untuk ke toilet, infeksi saluran buang air, bahkan stres. Jika si kecil sudah siap secara fisiologi maupun psikologi, maka lebih aman dimulai sekitar usia 18 bulan hingga 3 tahun.

Manfaatnya

  • Melatih kemandirian

Anak yang telah sukses menjalankan training toilet dengan benar akan mandiri dalam aktivitas kesehariannya. Mampu melakukan kegiatan sehari-hari tanpa bantuan serta mengetahui apa yang dibutuhkannya karena sudah terbiasa.

  • Melatih kemampuan sosial dan emosional

Orang tua yang santai dan cenderung acuh mengajarkan anaknya tahapan ini, cenderung membuat si kecil menjadi pribadi yang ceroboh, seenaknya sendiri, dan suka mencari gara-gara. Anak yang diajari berekspresi saat merasa ingin buang air dan tindakan yang harus dilakukan, bisa melatih kemampuan sosialnya, loh!

Tips suksesnya

  • Kenali kesiapan fisik, psikologi, dan kognitif

Kemampuan mengatur refleks otot spincher urethra yang berfungsi mengontrol rasa ingin buang air, mulai bekerja pada usia 18 bulan hingga 2 tahun. Kesiapan motoriknya, seperti jalan dan duduk di toilet serta keterampilan melepaskan pakaiannya sendiri juga sebuah penanda. Selain itu, jika si kecil mampu mengutarakan keinginan untuk buang air, berarti ia telah menghubungkan apa yang dirasakan dengan tindakan yang seharusnya dilakukan.

  • Gunakan bahasa yang sederhana dan media pembelajaran

Agar anak mau memahami penjelasan saat training toilet dan hal yang harus dilakukan,  maka berikanlah penjelasan yang sesederhana mungkin. Selain itu, media video edukasi toileting mungkin lebih melekat dalam ingatannya. Si kecil akan mempertahankan kebiasan ini secara mandiri. Kartun imajiner disertai narasi dengan kalimat sederhana yang mudah dipahami, akan mudah membekas pada daya ingatnya.

  • Beri motivasi, jangan memaksa

Ketika anak sudah mampu melakukannya sendiri, kamu bisa beri positive reinforcement, sekadar tepuk tangan setelah selesai ke toilet. Jangan sekali-kali memarahinya jika belum bisa atau bahkan mengompol.

Perlakuan dan peraturan yang menuntutnya adalah salah satu dampak umum kegagalan pembelajaran ini. Melarang anak buang air besar atau kecil saat pergi akan menggangu psikologisnya. Pemberian hukuman juga akan membuat anak tumbuh menjadi seseorang yang agresif.

Nah, Teman Sehat, ternyata training toilet penting loh untuk perkembangan si kecil. Anak akan terbiasa dan terus melakukannya tanpa dipaksa. So, jangan memarahi atau memaksanya untuk cepat bisa ke toilet sendiri, ya! Semoga bermanfaat, Keep Happy Family!

Editor & Proofreader: Firda Shabrina, STP

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *