Apa Itu Hot Flashes pada Menopause?

Halo, Teman Sehat! Kamu pasti udah sering mendengar istilah menopause. Istilah ini merujuk pada kondisi yang dialami perempuan yang ditandai dengan berhentinya siklus menstruasi yang berlangsung selama masa klimakterium. Pada masa ini, perempuan pada usia 45 tahun telah mengalami penuaan indung telur sehingga sudah tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan hormon estrogen. Pada fase ini, salah satu tand yang dialami perempuan adalah hot flashes. Yuk, simak penjelasannya!

Apa itu hot flashes?

Hot flashes yaitu perasaan panas, gerah, bahkan rasa seperti terbakar pada area wajah, lengan, leher, dan tubuh bagian atas, serta muncul banyak keringat khususnya dimalam hari. Kondisi ini yang paling sering dikeluhkan dan menjadi masalah utama dalam menghadapi masa klimakterium. Meskipun setiap perempuan memiliki durasi yang berbeda-beda tapi pada umumnya kondisi ini berlangsung selama 3 sampai 5 menit.

Ada keluhan lain yang terjadi saat ini berlangsung, seperti rasa gelisah, jantung berdenyut kencang (palpitasi), rasa denyut pada kepala dan leher, nyeri kepala, dan biasanya disertai mual. Perubahan fisiologis ini bisa terlihat dari naiknya suhu tubuh, denyut nadi, dan nafas. Berapa lama hot flashes berlangsung? Kondisi ini akan mereda saat tubuh berhasil menyesuaikan diri dengan kadar hormon estrogen yang rendah.

Penanganan hot flashes

Dalam mengatasi masalah ini, seseorang bisa memperoleh terapi farmakologi maupun non-farmakologi.

  • Penanganan hot flash yang utama adalah terapi sulih hormon. Pengobatan non-hormonal yang memberikan hasil cukup efektif diantaranya adalah klonidin dengan dosis 0,05 mg dua kali sehari selama 8 sampai 12 minggu, dan nalokson yang merupakan suatu antagonis opiat. Suatu laporan mengenai Pemberian paroksetin 10-20 mg selama 4 minggu dan fluoksetin selama 9 minggu memberikan hasil yang efektif.
  • Terapi farmakologi yang sering digunakan untuk mengatasi hot flashes yaitu Hormone Replacement Therapy (HRT). HRT berefek dalam meringankan keluhan vasomotor dan keluhan urogenital yang berhubungan dengan menopause, tetapi penggunaan HRT ngga disarankan dalam jangka waktu yang lama.
  • Terapi non-farmakologi juga dapat digunakan untuk meredakan gejala dan rasa ngga nyaman pada tubuh. Terapi magnet, homeopati, akupuntur, dan terapi relaksasi adalah beberapa jenis terapi yang bisa membantu. Yap, terapi ini masuk dalam kategori terapi non-hormonal! Tujuannya untuk meringankan rasa tegang dan cemas, serta membuat otot-otot tubuh menjadi lebih rileks.
  • Alternatif lainnya seperti meditasi, self talk, relaksasi otot progresif, latihan pernafasan, dan terapi tertawa. Pilihan-pilihan ini bisa menstimulus hormon ‘bahagia’ yang berdampak positif bagi tubuh

Nah, Teman Sehat seperti itu lah informasi mengenai hot flashes pada menstruasi. Semoga informasi ini bermanfaat untuk kamu dan orang yang kamu cintai ya, jangan lupa untuk membagikan artikel ini ke orang terdekat kamu ya. Salam Sehat!

Editor & Proofreader: Fhadilla Amelia, SGz

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.