Bagaimana Perjuangan Pemuda Melawan Pornografi?

Teman Sehat, kasus pelecehan seksual semakin sering terdengar, terutama di kalangan pemuda. Remaja yang baru mengalami pubertas, perlu didampingi edukasi seks dan gender melalui institusi pendidikan dan orang tua. Namun nyatanya, paparan pornografi lebih mudah menghampiri pemuda. Bagaimana perjuangan yang dilakukan pemuda untuk melawan hal ini?

Separah itukah jumlahnya?

Data dari Kemenkes menunjukkan bahwa 94% remaja Indonesia sudah terpapar konten pornografi. Remaja usia 12 tahun yang ngga terpapar pun, cuma terhalang akses internet. Hal ini menandakan konten internet sangat berpengaruh sebagai media yang memperkenalkan konten dewasa pada remaja. Setelah terpapar pun, ngga sedikit masturbasi yang dilakukan remaja.

Media sosial yang diakses di rumah bersama teman, menjadi langkah awal melihat konten yang ngga etis. Meskipun diawali dari ketidaksengajaan, video, foto, komik, sampai games yang sangat bebas memungkinkan munculnya keingintahuan lebih. So, jangan sepelekan hal kecil ini, ya!

Lebih parah dari narkoba

Pornografi lebih berbahaya daripada narkoba, karena bisa merusak 5 bagian otak, terutama Pre Frontal Cortex atau bagian yang bertanggung jawab terhadap logika. Logika yang terganggu, sangat terlihat dan berpengaruh pada prestasi akademik.

Hal ini disebabkan, saat mengakses konten dewasa, hormon dopamin (hormon kesenangan) meluap berlebihan. Kesenangan akan sangat terasa, tapi saat hilang otak akan otomatis mencari kesenangan yang lebih dari sebelumnya. Wah, mengerikan, ya!

Benarkah bermanfaat?

Banyak informasi yang menyatakan bahwa masturbasi setelah menonton video porno, memberikan manfaat bagi kesehatan. Klaim meredakan stres, meningkatkan kualitas sperma, atau memperlancar aliran darah, efeknya sama pada seks sesudah nikah.

Bedanya, karena ngga memiliki pasangan halal, membuat remaja yang ngga  berpikir rasional, akan menghalalkan berbagai cara yang bersifat negatif. Hal ini diluapkan dengan menonton ‘bokep’, masturbasi, bahkan memperkosa. Penelitian lain pun menunjukkan, ngga ada hubungan antara depresi dengan perilaku masturbasi sebagai perilaku membuang-buang zat gizi.

Kamu bisa melawannya!

Berbagai cara dilakukan agar korban pornografi ngga merasa minder, sulit berkonsentrasi, maupun berperilaku seks menyimpang. Bagi remaja, tentunya mengikuti beragam ekstrakurikuler seperti, olahraga atau bermusik menjadi pilihan mudah. Terlebih lagi, memperdalam ilmu agama, bisa menjaga kamu dari hal ini.

Bagi keluarga, tentunya memberikan ruang dan waktu untuk curhat berbagai masalah hidup, akan membuatnya lebih terbuka dan mencegah stres. Perilaku teman juga sangat menentukan kebiasaan, seperti candaan porno yang akan menjadi mindset bagi pemuda. Tetaplah berhati-hati dengan pergaulan, ya!

Teman Sehat, perjuangan pemuda akan semakin berat seiring berkembangnya zaman. Pengawasan bagi remaja, dianggap ngga diperlukan karena usia yang beranjak dewasa. Baiknya, bimbingan saat berselancar di internet, perlu dimaksimalkan. Yuk, mulai dari kamu! Jangan lupa bagikan artikel ini ke orang terdekatmu, ya!

Editor & Proofreader: Firda Shabrina, STP

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.